Februari 26, 2018

Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Motivasi Belajar terhadap Kreativitas Belajar Matematika (Survey)

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang pendidikan merupakan salah satu masalah yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, baik dengan pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan sarana pendidikan lain serta perbaikan manajemen sekolah. Namun usaha ini belum juga menunjukkan hasil yang signifikan. Pendidikan merupakan media yang sangat berperan untuk menciptakan manusia yang berkualitas dan berpotensi dalam arti yang seluas-luasnya, melalui pendidikan akan terjadi proses pendewasaan diri sehingga di dalam proses pengambilan keputusan terhadap suatu masalah yang dihadapi selalu disertai dengan rasa tanggung jawab yang besar.
Dalam proses pembelajaran di sekolah, banyak orang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi yang tinggi dalam belajar, seseorang harus memiliki Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi. Karena intelegensi merupakan bekal potensial yang akan memudahkan dalam belajar sehingga menghasilkan prestasi belajar yang optimal. Menurut Binet dalam Gusniwati (2015: 27) hakikat intelegensi adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif. Kenyataannya dalam proses belajar mengajar di sekolah sering ditemukan siswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang setara dengan kemampuan intelegensinya. Ada siswa yang mempunyai kemampuan intelegensi tinggi tetapi memperoleh prestasi belajar yang relatif rendah, namun ada siswa yang memiliki kemampuan intelegensi relatif rendah, dapat meraih prestasi belajar yang relatif tinggi.
Oleh karena itu jelaslah bahwa taraf intelegensi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang, karena ada faktor lain yang mempengaruhinya. Menurut Goleman (dalam Gusniwati 2015: 27), kecerdasan Intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan seseorang, sedangkan 80% adalah sumbangan dari faktor-faktor lain, diantaranya kecerdasan emosional (EQ) yaitu kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati, berempati serta kemampuan bekerjasama. Dalam proses belajar, kedua intelegensi ini sangat diperlukan. IQ tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa partisipasi dari penghayatan emosional terhadap mata pelajaran yang disampaikan disekolah. Namun biasanya kedua kecerdasan ini saling melengkapi. Keseimbangan IQ dan EQ merupakan kunci keberhasilan belajar siswa di sekolah.
Selain kecerdasan emosional ada faktor lain yang tak kalah pentingnya dan sangat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar yaitu motivasi belajar terutama dalam kreativitas belajar matematika. Mata pelajaran matematika merupakan pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa. Namun bagi sebagian siswa yang memiliki motivasi dan konsentrasi belajar yang baik serta kreativitas belajar yang tinggi, mereka dapat meraih prestasi belajar yang baik. Siswa yang demikian belum tentu memiliki IQ tinggi, tetapi faktor yang paling mendukung adalah ketekunan, motivasi serta daya juangnya untuk berprestasi.
Untuk mengantisipasi masalah tersebut agar tidak berkelanjutan maka para guru terus berusaha menggali faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar matematika siswa, salah satunya dengan meningkatkan kreativitas belajar matematika melalui peningkatan kecerdasan emosional dan motivasi belajar matematika siswa. Karena matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur dan hubungan-hubungannya, yang diatur secara logis sehingga matematika berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Suatu kebenaran dalam matematika dikembangkan berdasarkan alasan-alasan logis dengan menggunakan pembuktian deduktif. Matematika yang berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif, jadi belajar matematika memerlukan kreativitas yang tinggi.
Kecerdasan intelektual saja tidak memberikan persiapan bagi individu untuk menghadapi gejolak, kesempatan ataupun kesulitan-kesulitan dan kehidupan. Dengan kecerdasan emosional, seseorang mampu mengetahui dan menanggapi perasaan mereka sendiri dengan baik dan mampu membaca dan menghadapi perasaan-perasaan orang lain dengan efektif. Seseorang yang memiliki keterampilan emosional yang berkembang baik, kemungkinan besar akan berhasil dalam kehidupan dan memiliki motivasi untuk berprestasi. Sedangkan individu yang tidak dapat menahan kendali atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merusak kemampuannya untuk memusatkan perhatian pada tugas-tugasnya dan memiliki pikiran yang jernih.
Selain kecerdasan emosional, motivasi belajar matematika juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi kreativitas belajar matematika siswa. Motivasi sangat erat hubungannya dengan belajar, belajar tanpa motivasi akan terasa membosankan. Peserta didik yang termotivasi terhadap kegiatan belajar akan berusaha lebih keras dibandingkan peserta didik yang kurang termotivasi. Motivasi yang tinggi terhadap suatu mata pelajaran, memungkinkan peserta didik memberikan perhatian yang tinggi terhadap mata pelajaran itu sehingga memungkinkan pula memiliki prestasi yang tinggi. Maka untuk mencapai prestasi yang tinggi, disamping kecerdasan, motivasi juga perlu ditingkatkan, sebab tanpa motivasi kegiatan belajar tidak akan efektif. Dari kondisi yang tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk mengajukan judul penelitian, “Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Motivasi Belajar Terhadap Kreativitas Belajar Matematika”.

B.   Identifikasi Masalah
1.      Apakah siswa di SMP Negeri kecamatan Sokaraja memiliki motivasi belajar matematika?
2.      Bagaimana kondisi kecerdasan emosional siswa di SMP Negeri kecamatan Sokaraja?
3.      Bagaimana kreativitas belajar matematika siswa di SMP Negeri kecamatan Sokaraja?
4.      Bagaimana kreativitas belajar matematika siswa ditinjau dari kecerdasan emosional dan motivasi belajar di SMP Negeri Kecamatan Sokaraja?
5.      Faktor apa saja yang mempengaruhi kreativitas belajar matematika siswa?
6.      Seberapa tinggi kreativitas belajar matematika siswa di SMP Negeri kecamatan Sokaraja bila dilihat dari tingkat kecerdaan emosionalnya dalam menyelesaikan persoalan matematika?
7.      Seberapa tinggi kreativitas belajar matematika siswa di SMP Negeri kecamatan Sokaraja bila dilihat dari motivasi belajar matematikanya?
8.      Adakah pengaruh kecerdasan emosional terhadap kreativitas belajar matematika siswa?
9.      Adakah pengaruh motivasi belajar siswa terhadap kreativitas belajar matematika siswa?
10.  Adakah pengaruh kecerdasan emosional dan motivasi belajar siswa bersama-sama terhadap kreativitas belajar matematika siswa?

C.   Pembatasan Masalah
Penelitian ini hanya akan membahas ada/tidaknya pengaruh:
1.      Kecerdasan emosional terhadap kreativitas belajar matematika siswa
2.      Motivasi belajar siswa terhadap kreativitas belajar matematika siswa
3.      Kecerdasan emosional dan motivasi belajar siswa bersama-sama terhadap kreativitas belajar matematika siswa

D.   Rumusan Masalah
Sesuai dengan keterangan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:
1.      Adakah pengaruh kecerdasan emosional dan motivasi belajar siswa bersama-sama terhadap kreativitas belajar matematika siswa SMPN Sokaraja?
2.      Adakah pengaruh kecerdasan emosional terhadap kreativitas belajar matematika siswa SMPN Sokaraja?
3.      Adakah pengaruh motivasi belajar siswa terhadap kreativitas belajar matematika siswa SMPN Sokaraja?

E.   Tujuan Penelitian
Sesuai dengan keterangan di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1.      Pengaruh kecerdasan emosional dan motivasi belajar siswa bersama-sama terhadap kreativitas belajar matematika siswa SMPN Sokaraja.
2.      Pengaruh kecerdasan emosional terhadap kreativitas belajar matematika siswa SMPN Sokaraja.
3.      Pengaruh motivasi belajar siswa terhadap kreativitas belajar matematika siswa SMPN Sokaraja.
F.    Keguanaan Penelitian
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam meningkatkan kreativitas belajar matematika siswa.
Kegunaan Teoritis
1.      Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional dan motivasi belajar siswa sehingga dapat mengoptimalkan kreativitas belajar matematika dalam proses pembelajaran.
2.      Hasil penelitian ini dapat memperkaya dan memperluas teori serta mampu menantang dan memotivasi peneliti pendidikan untuk melakukan penelitian lebih lanjut secara lebih spesifik, dengan demikian akan menambah dinamika ilmu pengetahuan, khususnya yang berkenaan dengan pendidikan.
Kegunaan Praktis
1.      Diharapkan siswa dapat memiliki kecerdasan emosional yang baik serta meningkatkan motivasi belajarnya sehingga dapat meningkatkan kreativitas belajar matematika.
3.      Dapat memberikan masukan dalam mengelola kelas dan memberikan pertimbangan tentang materi-materi tambahan yang lebih spesifik untuk bekal para siswa dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa.
4.      Hasil penlitian dapat dikembangkan oleh pihak sekolah di kecamatan Sokaraja khususnya menjadi pedoman bagi pihak sekolah menyusun strategi pembelajaran dan sebagai acuan untuk memecahkan masalah terkait prestasi akademik siswa.
  
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

A.   Landasan Teori
1.      Kreativitas Belajar Matematika
a.       Pengertian kreativitas belajar matematika
Dalam kegiatan belajar matematika baik di sekolah maupun di rumah, kreativitas merupakan salah satu modal yang harus dimiliki para siswa untuk mencapai prestasi belajar. Pada dasarnya kreativitas dapat diartikan menambah ketentuan-ketentuan yang ada dengan yang baru. Kreativitas siswa tidak seharusnya diartikan sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Dengan kecerdasan yang dimiliki siswa dalam memandang ketentuan yang ada masih memerlukan suatu bimbingan, pemahaman, dan penelitian.
Arti kreativitas dikenal dengan four p’s of creativity, yakni person, process, press, dan product. Kreativitas dari segi person (pribadi) menunjukkan pada potensi daya kreatif yang ada pada setiap pribadi. Kreativitas sebagai suatu process (proses) dapat dirumuskan sebagai suatu bentuk pemikiran dimana individu berusaha menemukan hubungan-hubungan yang baru, mendapatkan jawaban, metode atau cara-cara baru dalam menghadapi suatu masalah. Kreativitas sebagai press (pendorong) yang datang dari diri sendiri berupa hasrat dan motivasi yang kuat untuk berkreasi. Kreativitas dari segi product (hasil) adalah segala sesuatu yang diciptakan seseorang sebagai hasil dari keunikan pribadinya dalam interaksi dengan lingkungannya. Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, berupa gagasan atau karya nyata, baik dalam bentuk berpikir kreatif maupun berpikir efektif baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada (Satiadarma, 2003: 109).
Menurut Clark Moustakis (dalam Utami Munandar, 2009: 18), menyatakan bahwa kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam dan dengan orang lain. Sedangkan menurut Roger (dalam Utami Munandar, 2009: 18) bahwa sumber dari kreativitas adalah kecenderungan diri untuk mengaktualisasi diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan seluruh kemampuan organisme.
Pendapat diatas sejalan dengan pemikiran Imam (2006: 6) yang mengartikan kreativitas sebagai kemampuan melalui ide, melihat hubungan yang baru atau tak diduga sebelumnya, kemampuan memformulasikan konsep yang bukan hanya sekedar menghafal, menciptakan jawaban baru untuk soal-soal yang ada, dan mendapatkan pertanyaan baru yang perlu untuk dijawab. Kreativitas dalam hal ini menyangkut cara berpikir kreatif, kemampuan untuk melihat bermacam-macam jawaban terhadap satu soal. Saat melihat sesuatu, pada anak yang berpikir kreatif, akan segera muncul ide-ide. Ide itu timbul dari dirinya sendiri tanpa perlu pemberitahuan dari orang lain. Kreativitas dimulai dari suatu gagasan-gagasan yang kemudian tercipta sesuatu yang bersifat baru.
Sedangkan Naiman Linda (2006), mengemukakan bahwa kreativitas sebagai tindakan yang memutar gagasan-gagasan imajinatif dan bersifat baru ke dalam kenyataan. Kreativitas melibatkan dua proses yaitu pemikiran dan lalu menghasilkan. Inovasi merupakan hasil atau implementasi dari suatu gagasan. Jika siswa mempunyai gagasan-gagasan tetapi tidak melalui proses-proses itu maka siswa itu dikatakan orang imajinatif tapi bukan orang kreatif.
Setiap siswa memiliki kreativitas dan kepribadian yang berbeda-beda. Menurut Utami Munandar (dalam Datuk Eka, 2014: 14) ada beberapa ciri pribadi kreatif yaitu: imajinatif, mempunyai prakasa, mempunyai minat luas, mandiri dalam berfikir, senang berpetualang, penuh energi, percaya diri, berani mengambil resiko, dan berani dalam berpendirian dan berkeyakinan. Ada empat ciri–ciri orang kreatif, yakni: bebas dalam berfikir dan bertindak, adanya inisiatif menumbuhkan rasa ingin tahu, percaya pada diri sendiri, dan mempunyai daya imajinasi yang baik. Keberbakatan yang dimiliki oleh siswa berpengaruh terhadap kreativitas siswa.
Conny (2009: 31) berpendapat kreativitas adalah suatu talenta yang dimiliki seseorang sejak dini yang dalam keterampilan kinerjanya menunjukkan keluarbiasaan yang bersifat khusus. Kreativitas ini disebut kreativitas keberbakatan. Kreativitas keberbakatan bersifat orisinil, tak diduga, berguna serta adaptif terhadap kendala-kendala tugas. Lebih lanjut Conny (2009: 36) menambahkan bahwa ada empat dimensi yang ditunjukkan kreativitas keberbakatan, yaitu: pendekatan dalam berbagai masalah, ketajaman kecerdasan yang konstruktif, kemampuan menyingkirkan prosedur yang dianggap tidak perlu, dan memiliki sikap tujuan serta kesadaran sosial. Seorang siswa akan lebih memahami masalah yang sedang dihadapi bila dapat berpikir dengan lebih kreatif.
Arthur (2011: 18-19) berpendapat bahwa ada enam prinsip berpikir kreatif, yaitu: memisahkan penciptaan ide dari evaluasi, menguji asumsi, menghindari pemikiran yang terpola, menciptakan perspektif baru, meminimalkan pemikiran negatif, dan mengambil resiko yang hati-hati. Ada dua indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah memisahkan penciptaan ide dari evaluasi dan meminimalkan pemikiran negatif. Setiap siswa memiliki potensi kreatif, tetapi dalam kenyataannya tidak semua berwujud menjadi kemampuan dan keterampilan kreatif. Torrance yang dikutip oleh Ali & Anshori (2008: 43) berpendapat bahwa kreativitas sebagai proses kemampuan memahami kesenjangan-kesenjangan atau hambatan-hambatan dalam hidup. Rasa ingin tahu, ketekunan, dan tidak mudah bosan diperlukan siswa untuk memahami kesenjangan atau hambatan yang dialami khususnya dalam proses pembelajaran.
Dari berbagai pendapat tentang kreativitas di atas, dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah perilaku siswa sebagai tindakan yang memutar gagasan berpikir, keberbakatan yang dimiliki, dan kemampuan memahami kesenjangan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Ada enam prinsip berpikir kreatif, yaitu: memisahkan penciptaan ide dari evaluasi, menguji asumsi, menghindari pemikiran yang terpola, menciptakan perspektif baru, meminimalkan pemikiran negatif, dan mengambil resiko yang hati-hati.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Bagi Higard (dalam Wina Sanjaya, 2010: 112), belajar itu adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah. Sedangkan menurut Slameto (2010: 2), belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Belajar itu lebih dari sekedar adanya perubahan dalam tingkah laku yang diamati. Belajar adalah pencapaian pengetahuan dalam tingkah laku yang berdasar pada pengetahuan tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Asep Jihad (2008: 1) yang mengatakan bahwa belajar adalah tahapan perilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang relatif positif dalam interaksinya dengan lingkungan.
Menurut Suherman (2002: 3), matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak yang dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep yang diperoleh dari akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga berkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Matematika berasal dari bahasa latin yaitu manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah tidak hanya berhubungan dengan bilangan, melainkan juga pola, bentuk, grafik, dan tabel. Mata pelajaran matematika merupakan bahan kajian dan pelajaran yang terdiri dari aritmatika, aljabar, geometri, dan statistika yang bersifat memberikan bekal kemampuan kepada siswa untuk berpikir logis dan kritis.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu yang bersifat konsisten artinya tidak ada aturan yang bertentangan, bersifat deduktif yang dapat dikembangkan dari aksioma, definisi, teorema lalu dikaitkan pada kasus-kasus yang lebih khusus dan mempunyai variabel yang didefinisikan secara jelas ruang lingkupnya. Dengan demikian kreativitas belajar matematika siswa adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan hal baru, baik berupa gagasan, karya nyata yang dipelajari dalam perubahan tingkah lakuyang lebih baik melalui latihan dengan cara memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas.
b.      Indikator kreativitas belajar matematika
Terdapat skala kreativitas yang dapat digunakan guru untuk mengetahui kreativitas belajar siswa menurut Utami Munandar (2009: 71), yang meliputi:
1)      Rasa ingin tahu yang luas dan mendalam
2)      Memiliki daya imajinasi
3)      Orisinal dalam ungkapan gagasan dan dalam pemecahan masalah
4)      Mampu melihat masalah dari berbagai segi/sudut pandang
5)      Sikap berani mengambil resiko
Sedangkan menurut Satiadarma (2003: 110) ciri-ciri kepribadian kreatif yaitu:
1)      Rasa ingin tahu yang mendorong individu lebih banyak mengajukan pertanyaan
2)      Memiliki imajinasi yang hidup yakni membayangkan hal-hal baru yang belum pernah terjadi
3)      Merasa tertantang oleh kemajuan yang mendorongnya untuk mengatasi masalah yang sulit
4)      Berani mengambil resiko
5)      Orisinil dalam mengungkapkan gagasan
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, maka indikator kreativitas belajar matematika siswa yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1.
Sikap Kreativitas Siswa

Indikator
Sikap Siswa
1)       Mempunyai rasa ingin tahu yang mendalam
a)       Bertanya
b)       Mencari banyak sumber pengetahuan
c)       Memperhatikan penjelasan dari guru
2)       Mempunyai daya imajinasi
a)       Mampu mencari hubungan-hubungan baru dari suatu yang sudah ada
b)       Mempu mengembangkan
c)       Mempu merencanakan
3)       Orisinil dalam menyampaikan gagasan
a)       Memberikan gagasan
b)       Mengembangkan gagasan yang disampaikan oleh siswa lain
4)       Mempu melihat masalah dari berbagai sudut pandang
a)       Mencari banyak kemungkinan
b)       Dapat melihat kekurangan
c)       Melibatkan diri dalam maslaah yang sulit
5)       Sikap berani mengambil resiko
a)       Mempertahankan pendapat
b)       Memberi/menerima saran ataupun kritik
c)       Tidak takut dalam kegagalan
d)       Berani membuat dugaan

2.      Kecerdasan Emosional
a.       Pengertian kecerdasan emosional
Keberhasilan dalam pembelajaran tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual saja tetapi kecerdasan emosional juga memiliki peran yang penting. Cooper dan Sawaf yang dikutip Tridhonanto (2010: 8) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi serta pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut mengenal jenis-jenis perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri sendiri dan orang lain kemudian menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari. Hal senada juga diungkapkan Steiner yang dikutip oleh Datuk Eka, (2014: 17) mengemukakan kecerdasan emosional merupakan kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain. Kekuatan yang dimiliki siswa dapat diaplikasikan melalui kecerdasan emosi.
Selain itu, Saloney dan Mayer (dalam Datuk Eka, 2014: 18) mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan memantau dan mengendalikan emosi sendiri dan orang lain, serta menggunakan emosi-emosi itu untuk memandu pikiran dan tindakan. Perasaan atau suara-suara hati memberikan informasi penting dan berpotensi memberikan keuntungan setiap saat. Perasaan atau suara hati sebagai umpan balik, bersumber dari hati bukan dari kepala yang sering kali menyalakan kreativitas.
Hal senada juga diungkapkan Saptono (2011 : 30) yang mengemukakan bahwa kecerdasan emosional pada hakekatnya adalah kemampuan manusia untuk menghargai makna setiap bentuk emosi, serta berpikir dan memecahkan masalah berdasarkan makna setiap bentuk emosi itu. Begitu juga diungkapkan Mustaqim (2008: 154-157) menyatakan kecerdasan emosi menunjuk kepada suatu kemampuan untuk memahami perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, dan menata dengan baik emosi-emosi yang muncul di dalam diri sendiri dan dalam berhubungan dengan orang lain. Ada lima ciri-ciri kecerdasan emosi, yaitu: kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan ketrampilan sosial.
Mengacu dari berbagai pendapat tentang kecerdasan emosional di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosi adalah jenis kecerdasan yang fokusnya memahami, mengenali, merasakan, mengelola dan memimpin perasaan diri sendiri dan orang lain serta mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi dan sosial. Kecerdasan tersebut meliputi kesadaran diri, pengaturan diri, empati, dan ketrampilan sosial. Kesadaran diri siswa merupakan suatu sikap untuk mengetahui kondisi diri sendiri, kesukaan, sumber daya, dan instuisi. Kesadaran emosi ini meliputi kesadaran emosi dan penilaian diri.
Pengaturan diri adalah mengelola kondisi, impuls, dan sumber daya diri sendiri. Pengaturan diri siswa meliputi kendali diri, dapat dipercaya, dan kewaspadaan. Empati adalah kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain. Empati yang dimaksud meliputi memahami orang lain dan solidaritas. Ketrampilan sosial yang dimiliki siswa merupakan kepintaran dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain.
b.      Indokator kecerdasan emosional
Salovey (Goleman, 2000) mengklasifikasikan kecerdasan emosional menjadi lima komponen penting, yaitu:
1)      Mengenali emosi diri (knowing one’s emotion)
Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar dari kecerdasan emosional. Ketidakmampuan untuk memahami perasaan yang sebenarnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan sehingga tidak peka terhadap perasaan yang akan berakibat buruk dalam perilaku.


2)      Mengelola emosi (managing emotions)
Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila seseorang mampu menghibur diri ketika mengalami kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan pilih kembali dari perasaan itu dengan cepat.
3)      Motivasi diri (self motivating)
Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat diketahui melalui hal-hal berikut:
a)      Cara mengendalikan dorongan emosi
b)      Derajat kecemasan yang mempengaruhi untuk kerja seseorang
c)      Kekuatan berpikir positif
d)     Optimisme
e)      Keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah kedalam apa yang sedang terjadi dan hanya terfokus pada satu objek
Dengan kemampuan memotivasi diri yang dimilikinya maka seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya. Motivasi dihasilkan dari sikap optimis dan harapan.
4)      Mengenal emosi orang lain (recognizing emotions in others)
Empati atau mengenal emosi orang lain dapat dibangun berdasarkan pada kesadaran diri seseorang.
5)      Membina hubungan dengan orang lain (handling relationship)
Membina hubungan dengan orang lain merupakan ketrampilan sosial seseorang yang mendukung keberhasilan seseorang dalam pergaulan dengan orang lain. Tanpa ketrampilan ini seseorang akan seringkali dianggap angkuh, mengganggu, karena tidak mengetahui bagaimana cara untuk berhubungan dengan orang lain.
Menurut Stein dan Book (2002: 148) indikator kecerdasan emosional dibagi menjadi lima ranah, yaitu:
1)      Ranah intrapribadi
Ranah intrapribadi terkait dengan kemampuan kita untuk mengenal dan mengendalikan diri sendiri.
2)      Ranah antarpribadi
Ranah antar pribadi berkaitan dengan ketrampilan bergaul yang kita miliki, kemampuan kita berinteraksi dan bergaul baik dengan orang lain.
3)      Ranah penyesuaian diri
Ranah penyesuaian diri berkaitan dengan kemampuan untuk bersikap lentur dan realistis, dan untuk memecahkan aneka masalah yang muncul.
4)      Ranah pengendalian stres
Ranah pengendalian stres terkait dengan kemampuan kita untuk tahan menghadapi stres dan mengendalikan impuls.
5)      Ranah suasana hati umum
Ranah kecerdasan emosional ini berkaitan dengan pandangan kita tentang kehidupan, kemampuan kita bergembira sendirian dan dengan orang lain, serta keseluruhan rasa puas dan kecewa yang kita rasakan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa indikator kecerdasan emosional antara lain:
1)      Siswa mampu bertanggungjawab dengan tugas yang diberikan
2)      Siswa dapat berinteraksi dengan siswa lain
3)      Siswa memiliki rasa percaya diri dalam menyelesaikan tugas
4)      Siswa bersemangat dalam segala aktivitas
5)      Siswa selalu berpikir positif
3.      Motivasi Belajar
a.       Pengertian motivasi belajar
Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan atau keadaan dan kesiapan dalam diri inividu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Sudjana, 2005: 28-29)
Selain itu menurut Hamzah (2007:6), “motivasi merupakan konsep hipnotis untuk suatu kegiatan yang dipengaruhi oleh persepsi dan tingkah laku seseorang untuk mengubah situasi yang tidak memuaskan atau tidak menyenangkan”. Untuk mengamati motivasi merupakan pekerjaan psikologis yang sangat sulit, karena motivasi yang terjadi pada diri seseorang atau seorang siswa merupakan suatu proses yang tidak dapat diamati secara langsung kecuali gejala-gejalanya saja yang dapat diamati secara langsung. Dalam mengamati adanya motivasi pada diri seseorang hanya dapat dilakukan melalui perubahan tingkah lakunya, mengukur perubahan prestasinya atau menanyakan kebutuhan dan tujuanya (Wexlay dan Yukl, 2003 : 13). Walaupun demikian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam mengamati motivasi, sebab apabila diamati dari perubahan tingkah lakunya, tingkah laku seseorang dapat disebabkan lebih dari satu motivasi atau dengan motivasi yang sama dapat menyebabkan tingkah laku yang berbeda. Mengamati motivasi melalui perubahan hasil prestasi belajar siswa juga perlu hati-hati, sebab prestasi belajar selain tergantung pada motivasi juga tergantung pada kemampuan siswa dan persepsinya terhadap pelajaran yang sedang dipelajari.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2013: 80-81), motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar. Ada tiga komponen utama dalam motivasi, yaitu adanya kebutuhan, dorongan, dan tujuan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang ia miliki dan yang ia harapkan. Dorongan merupakan suatu kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan. Motivasi dapat pula dikatakan, serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu ingin melakukan sesuatu dan bila tidak suka, maka ia akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar, tetapi motivasi tumbuh didalam diri seseorang (Sardiman, 2007: 75).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Motivasi juga dapat dikatakan sebagai rancangan atau kehendak untuk menuju keberhasilan.
Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar seorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar.
Motivasi belajar adalah suatu perubahan tenaga di dalam diri seseorang (pribadi) yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Frederick J. Mc Donald dalam H. Nashar, 2004:39). Tetapi Clayton Alderfer dalam Nashar (2004:42) mengatakan, motivasi belajar adalah kecenderungan siswa dalam melakukan kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat untuk mencapai prestasi atau hasil belajar sebaik mungkin.
Motivasi belajar juga merupakan kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan diri secara optimum, sehingga mampu berbuat yang lebih baik, berprestasi dan kreatif (Maslow dalam Nashar, 2004:42). Pada dasarnya motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan, menggarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong  untuk  bertindak  melakukan  sesuatu  sehingga  mencapai  hasil atau tujuan tertentu.
Jadi motivasi belajar adalah  kondisi psikologis yang mendorong siswa untuk belajar dengan senang dan belajar secara sungguh-sungguh, yang pada gilirannya akan terbentuk  cara belajar siswa yang sistematis, penuh konsentrasi dan dapat menyeleksi kegiatan-kagiatannya.
b.      Indikator motivasi belajar
Menurut Rakhmat (2007: 104) proses psikologi timbul akibat faktor didalam diri seseorang yang disebut intrinsik dan ekstrinsik. Faktor didalam diri seseorang bisa berupa kepribadian, sikap, pengalaman, dan pendidikan atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau ke masa depan. Sedangkan dari luar diri dapat timbul oleh berbagai faktor-faktor lainnya yang sangat kompleks. Tetapi faktor intrinsik dan ekstrinsik timbul karena adanya rangsangan.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2013: 85-86), motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa, pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut:
1)      Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir
2)      Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan dengan teman sebaya
3)      Mengarahkan kegiatan belajar
4)      Membesarkan semangat belajar
5)      Meyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja (disela-selanya adalah istirahat atau bermain) yang berkesinambungan, individu dilatih untuk menggunakan kekuatannya sedemikian rupa sehingga dapat berhasil
Motivasi belajar juga penting diketahui oleh seorang guru. Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat bagi guru, manfaat itu sebagai berikut:
1)      Membangkitan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil
2)      Mengetahui dan memahami bahwa motivasi belajar siswa di kelas bermacam-ragam sehingga guru dapat dapat menggunakan bermacam-macam strategi mengajar belajar
3)      Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran seperti sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah, atau pendidik. Peran pedagogik tersebut sudah barang tentu sesuai dengan perilaku siswa
4)      Memberi peluang guru untuk “unjuk kerja” rekayasa pedagogis
Motivasi belajar dalam kerangka pendidikan formal menurut Walgito (2003: 33) merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan, artinya terpengaruh oleh kondisi fisiologis dan kematanga psikologis peserta didik. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah:
1)      Cita-cita peserta didik
2)      Kemampuan peserta didik
3)      Kondisi peserta didik
4)      Kondisi lingkungan peserta didik
5)      Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
6)      Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung (Hamzah B. Uno, 2007: 23). Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a) adanya hasrat dan keinginan berhasil; b) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar; c) adanya harapan dan cita-cita masa depan; d) adanya penghargaan dalam belajar; e) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar; f) adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehigga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik.
Menurut Sardiman (2007: 83), seseorang yang memiliki motivasi dalam belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai)
2)      Ulet menghadapi kesulitan (tidak mudah putus asa)
3)      Menunjukkan  minat  terhadap  bermacam-macam  masalah  (minat  untuk sukses)
4)      Lebih senang bekerja mandiri
5)      Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif)
6)      Dapat mempertahankan pendapatnya
7)      Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu
8)      Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
Apabila seseorang telah memiliki ciri-ciri motivasi di atas maka orang tersebut dapat dikatakan memiliki motivasi yang tinggi. Kegiatan belajar mengajar akan berhasil baik, apabila siswa tekun mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan secara mandiri. Selain itu siswa juga harus peka dan responsif terhadap masalah umum dan bagaimana memikirkan pemecahannya. Siswa yang telah termotivasi memiliki keinginan dan harapan untuk berhasil dan apabila mengalami kegagalan mereka akan berusaha keras untuk mencapai keberhasilan itu yang ditunjukkan dalam prestasi belajarnya. Dengan kata lain, adanya usaha yang tekun dan terutama didasari  adanya  motivasi  maka  seseorang  yang  belajar  akan  melahirkan prestasi yang baik.
Lebih  lanjut  Amin  Kismoyowati  (2011:  123)  mengungkapkan,  ciri-ciri anak yang memiliki motivasi tinggi yaitu siswa tersebut tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan, lebih mandiri, dapat mempertahankan pendapatnya, senang dan dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Berdasarkan ciri-ciri anak yang memiliki motivasi belajar tinggi menurut Sardiman dan Amin Kismoyowati tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa ciri-ciri siswa yang memiliki motivasi tinggi yaitu:
1)      Tekun menghadapi tugas
2)      Ulet menghadapi kesulitan
3)      Menunjukkan minat
4)      Lebih senang bekerja mandiri
5)      Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin
6)      Dapat mempertahankan pendapatnya.
7)      Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini.
8)      Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa indikator motivasi belajar antara lain:
1)      Semangat untuk belajar
2)      Ingin sukses dalam belajar
3)      Ingin mencapai hasil belajar tinggi
4)      Semangat bersaing dalam belajar
5)      Semangat mencapai keunggulan dalam belajar

B.   Kerangka Berpikir
1.      Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Motivasi Belajar Terhadap Kreativitas Belajar Matematika
Keberhasilan suatu pembelajaran di sekolah dipengaruhi oleh beberapa komponen. Kebijakan sekolah, guru, dan siswa merupakan komponen utama yang paling berperan dalam proses pembelajaran di sekolah. Salah satu dari ketiga komponen yang menjadi perhatian khusus dalam pembelajaran adalah siswa. Siswa sebagai obyek atau sasaran utama dari proses pembelajaran. Ada beberapa faktor yang dimiliki siswa dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran seperti minat belajar, kecerdasan emosi, dan kreativitas.
Kecerdasan emosional dibutuhkan siswa untuk mengatur diri, berempati, dan berketerampilan sosial dalam menghadapi suatu permasalahan. Siswa yang memiliki kecerdasan emosi tinggi tidak akan terburu-buru dan gegabah dalam mengambil keputusan. Kecerdasan emosi siswa yang baik dapat memelihara norma-norma kejujuran saat mengerjakan tugas yang bersifat mandiri. Hal ini menjadi aspek yang berpengaruh terhadap kreativitas belajar siwa. Dengan memiliki kecerdasan emosi yang baik maka akan tercipta kreativitas belajar yang baik pula.
Selain kecerdasan emosi, motivasi belajar juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi kreativitas belajar matematika siswa. Motivasi sangat erat hubungannya dengan belajar, belajar tanpa motivasi akan terasa membosankan. Peserta didik yang termotivasi terhadap kegiatan belajar akan berusaha lebih keras dibandingkan peserta didik yang kurang termotivasi. Motivasi yang tinggi terhadap suatu mata pelajaran, memungkinkan peserta didik memberikan perhatian yang tinggi terhadap mata pelajaran itu sehingga memungkinkan pula memiliki prestasi yang tinggi. Maka untuk mencapai prestasi yang tinggi disamping kecerdasan, motivasi juga perlu ditingkatkan, sebab tanpa motivasi kegiatan belajar tidak efektif. Seseorang yang tidak mempunyai motivasi mempelajari sesuatu tidak akan berhasil dengan baik, tetapi sesorang yang memiliki motivasi terhadap objek masalah maka dapat diharapkan bahwa hasilnya akan baik.

2.      Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kreativitas Belajar Matematika
Keberhasilan seseorang selain ditentukan oleh kecerdasan rasional (IQ), juga sangat ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ). Karena IQ tidak akan berfungsi secara maksimal apabila tidak diimbangi EQ yang maksimal pula. Kecerdasan emosional memegang peran pentig dalam keberhasilan seseorang karena kecerdasan emosional berkontribusi 80% terhadap kesuksesan hidup seseorang, sedangkan kecerdasan intelektual hanya berkontribusi 20%.
Kecerdasan emosional merupakan faktor penting yang mempengaruhi kreativitas belajar matematika siswa. Jika kecerdasan emosional berkembang baik siswa akan sangat mudah meningkatan kreativitas belajar matematikanya. Kecerdasan emosional juga mampu memaksimalkan fungsi kecerdasan intelektualnya sehingga mampu menunjukkan hasil belajar yang lebih baik. Dengan demikian kecerdasan emosional diharapkan mempunyai pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan kreativitas belajar matematika siswa.
3.      Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Kreativitas Belajar Matematika
Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam aktivitas belajar akan menunjukkan hasil yang optimal. Dengan kata lain, dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar akan dapat mencapai tujuan pembelajarannya.
Faktor-faktor yang mendukung motivasi belajar akan mempengaruhi siswa untuk belajar optimal, tetapi jika tidak mendukung maka motivasi belajar siswa akan rendah. Oleh karena itu motivasi belajar perlu diusahakan terutama yang berasal dari dalam diri dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita.
Motivasi belajar berpengaruh terhadap tingkat kreativitas belajar siswa termasuk dalam mata pelajaran matematika. Siswa yang mempunyai motivasi tinggi, maka akan semakin mudah untuk memahami materi-materi matematika yang abstrak dan secara otomatis hal tersebut membuat tingkat kreativitas belajarnya meningkat. Namun siswa yang memiliki motivasi belajar rendah akan kesulitan dalam memahami materi matematika sehingga ia hanya akan menghafal rumus dan tidak bisa mengaplikasikannya kepada permasalahan-permasalahan sehari-hari yang berkaitan dengan materi tersebut.

C.   Hipotesis Penelitian
Berdasarkan pada kajian teori dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat disusun sebagai berikut:
1.      Terdapat pengaruh yang signifikan kecerdasan emosional dan motivasi belajar matematika secara bersama-sama terhadap kreativitas belajar matematika
2.      Terdapat pengaruh yang signifikan kecerdasan emosional terhadap kreativitas belajar matematika

3.      Terdapat pengaruh yang signifikan motivasi belajar matematika terhadap kreativitas belajar matematika 

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.   Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Sokaraja, SMPN 2 Sokaraja, dan SMPN 3 Sokaraja. Ketiga SMP ini terletak di wilayah kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.
2.      Waktu Penelitian
Penelitian ini berlangsung selama 4 bulan dengan melalui tahap persiapan, pelaksanaan, analisis data, dan penyusunan laporan yang dapat dilihat dalam tabel 3.1.
Tabel 3.1
Waktu Penelitian

Tahapan
September
Oktober
November
Desember
1
2
3
4
1
2
3
4
5
1
2
3
4
1
2
3
4
A.      Pengajuan judul

















B.      Penyusunan proposal penelitian

















C.      Penyusunan instrumen

















D.      Uji coba instrumen

















E.       Analisis data uji coba instrumen

















F.       Pengumpulan data

















G.      Analisis data

















H.      Penyusunan laporan

















I.        Sidang tesis





















B.   Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan teknik korelasi. Variabel peneitian ini terdiri dari variabel terikat, yaitu kreativitas belajar matematika siswa (Y) dan dua variabel bebas, yaitu kecerdasan emosional (X1), dan motivasi belajar siswa (X2), maka model konstelasi hubungan antar variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
                                                                                                         ϵ
X1
 

 
      
Y
 
 




Gambar 3.1. Konstelasi hubungan antar variabel penelitian

Keterangan :
Variabel Bebas (X1)              : Kecerdasan emosional
Variabel bebas (X2)               : Motivasi belajar siswa
Variabe terikat (Y)                : Kreativitas belajar matematika siswa
 ϵ                                  : Variabel lain yang tidak diteliti

C.    Populasi dan Sampel
1.     Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sokaraja, SMP Negeri 2 Sokaraja dan SMP Negeri 3 Sokaraja tahun pelajaran 2017/2018. Jumlah siswa pada tiga sekolah tersebut sebagaimana yang terlihat pada tabel 3.2.
2.     Teknik Pemilihan Sampel
Teknik pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik gabungan antara proposional dan random. Dalam penentuan jumlah anggota sampel dari setiap sekolah digunakan teknik proposional, sedangkan untuk menentukan anggota sampel dari setiap sekolah dipilih secara acak. Teknik pengambilan sampel menggunakan rumus Taro Yamane yang dikutip oleh Riduwan (2009: 82) sebagai berikut:
Dimana:
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
d2 = Presisi yang ditetapkan (5%)

Dari rumus diatas diperoleh jumlah sampelnya adalah 255 dari 704 siswa sebagai populasinya. Perhitungan penentuan banyaknya anggota sampel tiap sekolah seperti tampak pada tabel 3.2.

Tabel 3.2.
Penetapan Sampel Penelitian
No.
Nama Sekolah
Kelas
Jumlah Rombongan
Jumlah
Proporsi
Sampel
Belajar
Siswa
Dibulatkan
1
SMP Negeri 1
VIII
6
192
70
Sokaraja
2
SMP Negeri 2
VIII
9
288
104
Sokaraja
3.
SMP Negeri 3
Sokaraja
VIII
7
224
81
Jumlah
704

255
D.  Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dan menggunakan teknik sampling Proporsional Cluster Random Sampling, dimana jumlah sampel dari setiap sekolah diambil secara proporsional berdasarkan perbandingan jumlah siswa setiap sekolah terhadap jumlah populasi keseluruhan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan sebagai berikut:
1.      Variabel Kreativitas Belajar Matematika
Teknik pengumpulan data variabel kreativitas belajar matematika dilakukan dengan instrumen non tes berbentuk skala sikap. Instrumen yang digunakan adalah pernyataan dalam bentuk skala likert yang terdiri dari lima pilihan jawaban.
2.      Variabel Kecerdasan Emosional
Teknik pengumpulan data variabel kecerdaan emosional dilakukan dengan instrumen non tes berbentuk skala sikap. Instrumen yang digunakan adalah pernyataan dalam bentuk skala likert yang terdiri dari lima pilihan jawaban.
3.      Variabel Motivasi Belajar
Teknik pengumpulan data variabel motivasi belajar dilakukan dengan instrumen non tes berbentuk skala sikap. Instrumen yang digunakan adalah pernyataan dalam bentuk skala likert yang terdiri dari lima pilihan jawaban.

E.   Variabel Penelitian
Variabel yang akan diteliti berjumlah tiga variabel yang terdiri dari dua variabel bebas, yaitu kecerdasan emosional (X1)  dan motivasi belajar (X2). Serta satu variabel terikat yaitu kreativitas belajar matematika (Y).
1.      Kecerdasan emosional (X1)  dalam penelitian ini disebut sebagai variabel bebas yang merupakan atribut. Data kecerdasan emosional diperoleh dengan menggunakan instrumen atau kuesioner yang dibuat oleh peneliti untuk mengukur kecerdasan emosional siswa.
2.      Motivasi belajar (X2) dalam penelitian ini disebut sebagai variabel bebas yang merupakan atribut. Data motivasi belajar diperoleh dengan menggunakan instrumen atau  kuesioner yang dibuat oleh peneliti untuk mengukur motivasi belajar siswa.
3.      Ketrampilan belajar matematika (Y) dalam penelitian ini disebut sebagai variabel kriteria (Criterion Variable). Data kreativitas belajar matematika diperoleh dengan menggunakan instrumen atau  kuesioner yang dibuat oleh peneliti untuk mengukur kreativitas belajar matematika siswa.

F.    Instrumen Penelitian
1.     Instrumen untuk mengukur variabel kecerdasan emosional (X1)
a.      Definisi konseptual
Yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah jenis kecerdasan yang fokusnya memahami, mengenali, merasakan, mengelola dan memimpin perasaan diri sendiri dan orang lain serta mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi dan sosial.
b.      Definisi operasional
Yang dimaksud dengan kecerdasan emosional ditandai indikator-indikator sebagai berikut: 1) Siswa mampu bertanggungjawab dengan tugas yang diberikan, 2) Siswa dapat berinteraksi dengan siswa lain, 3) Siswa memiliki rasa percaya diri dalam menyelesaikan tugas, 4) Siswa bersemangat dalam segala aktivitas, 5) Siswa selalu berpikir positif.
c.       Kisi-kisi instrumen
Instrumen kecerdasan emosional disusun berdasarkan indikator yang ada di atas.
Tabel 3.3. Kisi-Kisi Instrumen Pengukuran Variabel
Kecerdasan Emosional

No
Indikator
Butir Instrumen
Jumlah Butir
Positif
Negatif
1
Siswa mampu bertanggungjawab dengan tugas yang diberikan
2, 3, 4
1, 5
5
2
Siswa dapat berinteraksi dengan siswa lain
6, 7, 9
8, 10
5
3
Siswa memiliki rasa percaya diri dalam menyelesaikan tugas
14, 15
11, 12, 13
5
4
Siswa bersemangat dalam segala aktivitas
17, 18, 21
16, 19, 20
6
5
Siswa selalu berpikir positif
22, 24
23, 25, 26
5

Jumlah Butir

26

d.      Jenis Instrumen
Intrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang kecerdasan emosional berdasarkan kuesioner dengan menggunakan skala Likert. Model skala Likert yang digunakan dalam bentuk kontinum dengan 5 (lima) kategori yaitu, untuk butir pernyataan positif, skor tiap alternatif (option) jawaban yaitu: selalu=5, sering=4, kadang-kadang=3, pernah=2, tidak pernah=1. Sedangkan untuk butir pernyataan negatif, skor tiap alternatif (option) jawaban yaitu: selalu=1, sering=2, kadang-kadang=3, pernah=4, tidak pernah=5.
1)      Kalibrasi Instrumen
Untuk mengkalibrasi instrumen dilakukan dengan menguji validitas setiap butir pertanyaan dan reliabilitas instrumen tersebut. Pengujian tersebut dilakukan pada 34 orang responden anggota populasi tetapi bukan calon anggota sampel. Untuk menghitug validitas butir kuesioner tersebut menggunakan rumus korelasi product moment pearson (r), dimana kriteria valid atau tidaknya suatu butir pertanyaan adalah membandingkan nilai rhitung dengan rtabel pada ujisatu sisi taraf nyata (α) = 0,05 dan derajat kepercayaan (df)=k-2  (dimana k = 34). Kriteria validitas butir soal adalah jika rhitung  lebih besar dari rtabel tidak valid.
Untuk angket penelitian hanya menggunakan butir angket yang dianggap valid sementara butir angket yang tidak valid selanjutnya dibuang atau tidak digunakan sebagai soal penelitian dan digantikan dengan butir pernyataan yang valid. Dari 30 butir angket yang diberikan kepada responden atau sampel uji coba, ternyata didapat 26 butir angket dianggap valid dan 4 butir angket dianggap tidak valid. Keempat butir tersebut adalah butir nomor 5, 11, 13, dan 26. Agar lebih jelasnya berikut adalah hasil perhitungan validitas butir angket dengan menggunakan spss 22.0.
Tabel 3.4. Hasil Perhitungan Uji Validitas Butir Angket
Kecerdasan Emosional


Scale Mean if Item Deleted
Scale Variance if Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha if Item Deleted
Keterangan
p1
119,9706
233,605
,329
,892
Valid
p2
119,7941
232,593
,414
,891
Valid
p3
119,7941
234,532
,432
,892
Valid
p4
119,8824
234,834
,334
,892
Valid
p5
120,3824
231,698
,254
,894
Tidak valid
p6
120,4412
224,739
,582
,888
Valid
p7
120,5000
215,045
,690
,884
Valid
p8
120,1765
225,422
,581
,888
Valid
p9
119,9706
231,302
,514
,890
Valid
p10
120,5882
218,734
,560
,887
Valid
p11
120,5294
232,135
,224
,895
Tidak valid
p12
119,8235
233,725
,417
,891
Valid
p13
120,7353
235,352
,108
,898
Tidak valid
p14
121,5294
214,802
,567
,887
Valid
p15
120,8235
224,998
,394
,891
Valid
p16
120,8824
225,258
,553
,888
Valid
p17
119,8529
230,432
,472
,890
Valid
p18
120,5294
215,711
,633
,886
Valid
p19
121,0588
213,087
,617
,886
Valid
p20
120,9118
216,689
,572
,887
Valid
p21
120,5588
220,375
,643
,886
Valid
p22
120,1471
231,099
,338
,892
Valid
p23
120,4412
220,496
,560
,888
Valid
p24
122,0882
222,568
,390
,892
Valid
p25
120,3824
221,637
,530
,888
Valid
p26
119,9706
233,787
,240
,894
Tidak valid
p27
120,3529
218,599
,563
,887
Valid
p28
120,1471
228,129
,416
,891
Valid
p29
121,0882
226,628
,339
,893
Valid
p30
119,7059
235,608
,315
,892
Valid

Untuk perhitungan reabilitas koesioner kecerdasan emosional menggunakan rumus Alpha Cronbach. Angka reliabilitas yang diperoleh dari perhitungan selanjutnya dibandingkan dengan rtabel pada uji satu sisi dengan taraf signifikan (α) = 0,05 dan derajat kepercayaan (df)  =  k -2 dimana k  = banyaknya soal yang valid. Kriteria reliabilitasnya adalah jika rhitung lebih besar daripada rtabel maka instrumen tersebut reliabel.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan program spss 20.0 diperoleh nilai 0,893 > 0,700, dengan demikian berarti angket yang telah diujicobakan tergolong layak untuk digunakan sebagai angket penelitian. Agar lebih jelasnya, berikut adalah hasil perhitungan uji reliabilitasnya.
Tabel 3.5. Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas Butir Angket
Kecerdasan Emosional
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based on Standardized Items
N of Items
,893
,900
30

2.      Instrumen Pengukuran variabel motivasi belajar siswa (X2)
a.      Definisi konseptual
Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendakii oleh subjek belajar tecapai.
b.      Definisi operasional
Yang dimaksud dengan motivasi belajar ditandai indikator-indikator sebagai berikut: 1) Ketekunan dalam belajar, 2) Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin, 3) Minat untuk sukses, 4) Mandiri dalam belajar, 5) Berprestasi dalam belajar.
c.       Kisi-kisi instrumen penelitian
Instrumen pengukuran motivasi belajar siswa disusun berdasarkan indikator yang ada diatas.
Tabel 3.6. Kisi-Kisi Instrumen Pengukuran Variabel
Motivasi Belajar Siswa

No
Indikator
Butir Instrumen
Jumlah Butir
Positif
Negatif
1
Ketekunan dalam belajar
10, 11, 25
6, 26
5
2
Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin
7, 12, 20
4, 8, 16
6
3
Minat untuk sukses
13, 17, 18
9, 15
5
4
Mandiri dalam belajar
2, 5, 23
3, 22, 24
6
5
Berprestasi dalam belajar
14, 19
1, 21
4

Jumlah Butir

26

d.      Jenis instrumen
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang motivasi belajar berbentuk kuesioner dengan menggunakan skala Likert. Model skala Likert yang digunakan dalam bentuk kontinum dengan 5 (lima) kategori yaitu, untuk butir pernyataan positif, skor tiap alternatif (option) jawaban yaitu: selalu=5, sering=4, kadang-kadang=3, pernah=2, tidak pernah=1. Sedangkan untuk butir pernyataan negatif, skor tiap alternatif (option) jawaban yaitu: selalu=1, sering=2, kadang-kadang=3, pernah=4, tidak pernah=5.
e.       Kalibrasi instrumen motivasi belajar
Untuk mengkalibrasi instrumen dilakukan dengan menguji validitas setiap butir pernyataan dan reliabilitas instrumen tersebut. Pengujian tersebut dilakukan 34 orang responden anggota populasi tetapi bukan calon anggota sampel. Untuk menghitug validitas butir kuesioner tersebut menggunakan rumus korelasi product moment pearson (r), dimana kriteria valid atau tidaknya suatu butir pertanyaan adalah membandingkan nilai rhitung dengan rtabel pada ujisatu sisi taraf nyata (α) = 0,05 dan derajat kepercayaan (df)=k-2  (dimana k  =  banyaknya responden uji coba). Kriteria validitas butir soal adalah jika rhitung  lebih besar dari rtabel tidak valid.
Untuk angket penelitian hanya menggunakan butir angket yang dianggap valid sementara butir angket yang tidak valid selanjutnya dibuang atau tidak digunakan sebagai soal penelitian dan digantikan dengan butir pernyataan yang valid. Dari 30 butir angket yang diberikan kepada 34 responden atau sampel uji coba, ternyata didapat 26 butir angket dianggap valid dan 4 butir angket dianggap tidak valid. Keempat butir tersebut adalah butir nomor 12, 13, 14, dan 29. Agar lebih jelasnya berikut adalah hasil perhitungan validitas butir angket dengan menggunakan spss 22.0.
Tabel 3.7. Hasil Perhitungan Uji Validitas Butir Angket
Motivasi Belajar


Scale Mean if Item Deleted
Scale Variance if Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha if Item Deleted
Keterangan
p1
109,3824
314,728
,575
,912
Valid
p2
109,9118
303,780
,766
,909
Valid
p3
109,0294
313,545
,475
,913
Valid
p4
108,9412
315,936
,593
,912
Valid
p5
109,4706
310,984
,656
,911
Valid
p6
109,8529
306,735
,694
,910
Valid
p7
110,1471
299,463
,681
,909
Valid
p8
109,4706
314,681
,546
,912
Valid
p9
109,1176
315,319
,537
,912
Valid
p10
110,0000
306,182
,703
,910
Valid
p11
109,6471
306,538
,662
,910
Valid
p12
108,9706
330,514
,102
,918
Tidak valid
p13
109,0294
324,029
,233
,917
Tidak valid
p14
108,4118
326,856
,263
,915
Tidak valid
p15
108,6471
321,811
,314
,915
Valid
p16
108,9118
313,901
,526
,912
Valid
p17
109,1765
307,362
,654
,910
Valid
p18
109,5588
314,618
,468
,913
Valid
p19
109,0294
316,393
,583
,912
Valid
p20
109,4412
300,315
,675
,909
Valid
p21
110,5294
298,257
,598
,911
Valid
p22
108,7647
312,852
,521
,912
Valid
p23
109,7353
311,776
,406
,915
Valid
p24
109,1176
322,046
,366
,914
Valid
p25
109,0882
318,871
,312
,916
Valid
p26
108,7059
317,426
,411
,914
Valid
p27
109,0882
313,295
,505
,913
Valid
p28
110,1765
308,635
,451
,914
Valid
p29
108,9412
323,693
,283
,916
Tidak valid
p30
109,2647
320,988
,314
,915
Valid

Untuk perhitungan reabilitas koesioner perilaku wawasan lingkungan siswa menggunakan rumus Alpha Cronbach. Angka reliabilitas yang diperoleh dari perhitungan selanjutnya dibandingkan dengan rtabel pada uji satu sisi dengan taraf signifikan (α) = 0,05 dan derajat kepercayaan (df)  =  k -2 dimana k  = banyaknya soal yang valid. Kriteria reliabilitasnya adalah jika rhitung lebih besar daripada rtabel maka instrumen tersebut reliabel.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan program spss 20.0 diperoleh nilai 0,930 > 0,700, dengan demikian berarti angket yang telah diujicobakan tergolong layak untuk digunakan sebagai angket penelitian. Agar lebih jelasnya, berikut adalah hasil perhitungan uji reliabilitasnya.
Tabel 3.8. Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas Butir Angket
Kecerdasan Emosional
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based on Standardized Items
N of Items
,915
,916
30

3.      Instrumen untuk mengukur variabel kreativitas belajar matematika (Y)
a.      Definisi konseptual
Kreativitas belajar matematika siswa adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan hal baru, baik berupa gagasan, karya nyata yang dipelajari dalam perubahan tingkah lakuyang lebih baik melalui latihan dengan cara memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas.
b.      Definisi operasional
Yang dimaksud dengan kreativitas belajar matematika ditandai indikator-indikator sebagai berikut: 1) Mempunyai rasa ingin tahu yang mendalam, 2) Mempunyaidaya imajinasi, 3) Orisinil dalam menyampaikan gagasan, 4) mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang, 5) Sikap berani mengambil resiko.
c.       Kisi-kisi instrumen penelitian
Instrumen kreativitas belajar matematika disusun berdasarkan indikator yang ada di atas.
Tabel 3.9. Kisi-Kisi Instrumen Pengukuran Variabel
Kreativitas Belajar Matematika

No
Indikator
Butir Instrumen
Jumlah Butir
Positif
Negatif
1
Mempunyai rasa ingin tahu yang mendalam
1, 5
2, 3, 4
5
2
Mempunyai daya imajinasi
6, 7, 11
8, 9, 10
6
3
Orisinil dalam menyampaikan gagasan
14, 15, 16
12, 13, 17
6
4
Mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang
18, 19, 20
21, 22
5
5
Sikap berani mengambil resiko
23, 24
25, 26
5

Jumlah Butir

26

d.      Jenis instrumen
Instrumen-instrumen yang di gunakan untuk mengumpulkan data tentang motivasi belajar berbentuk kuesioner menggunakan skala Likert. Model skala Likert yang digunakan dalam bentuk kontinum dengan 5 (lima) kategori, untuk butir pernyataan positif, skor tiap alternatif (option) jawaban yaitu: selalu=5, sering=4, kadang-kadang=3, pernah=2, tidak pernah=1. Sedangkan untuk butir pernyataan negatif, skor tiap alternatif (option) jawaban yaitu: selalu=1, sering=2, kadang-kadang=3, pernah=4, tidak pernah=5.
e.       Kalibrasi instrumen motivasi belajar
Untuk mengkalibrasi instrumen dilakukan dengan menguji validitas setiap butir pertanyaan dan reabilitas tersebut instrumen tersebut.penguji tersebut dilakukan pada 34 orang responden anggota populasi tetapi bukan angoita sempel. Untuk menghitung vabilitas butir kuesioner tersebut menggunakan rumus kolerasi prodact moment person (r), membandingkan kriteria valid atu tidak sesuainya butir pertanyaan adalah dengan membandingkan nilai r dengan r pada uji satu sisi taraf nyata (a) = 0,05 dan derajat kepercayaan (df) =k2 (dimana k=banyaknya responden uji coba). Kriteria validasi butir soal adalah jika r lebih besar dari pada r maka buti dianggap valid, sedangkan jika r lebih kecil dari r ridak valid.
Untuk angket penelitian hanya menggunakan butir angket yang dianggap valid sementara butir angket yang tidak valid selanjutnya dibuang atau tidak digunakan sebagai soal penelitian. Dari 30 butir angket yang diberikan kepada responden atau sampel uji coba, ternyata didapat 26 butir angket dianggap valid dan 4 butir angket dianggap tidak valid. Keempat butir tersebut adalah butir nomor 1, 24, 26, dan 28. Agar lebih jelasnya berikut adalah hasil perhitungan validitas butir angket dengan menggunakan spss 22.0.
Tabel 3.10. Hasil Perhitungan Uji Validitas Butir Angket
Kreativitas Belajar Matematika


Scale Mean if Item Deleted
Scale Variance if Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha if Item Deleted
Keterangan
p1
113,0588
304,542
,184
,923
Tidak valid
p2
113,7059
279,608
,615
,918
Valid
p3
113,5588
290,981
,602
,919
Valid
p4
112,9118
294,992
,456
,920
Valid
p5
113,1176
296,289
,442
,921
Valid
p6
113,4412
286,921
,566
,919
Valid
p7
113,5882
285,522
,655
,918
Valid
p8
113,9412
273,633
,767
,915
Valid
p9
113,5294
294,257
,478
,920
Valid
p10
113,7059
279,123
,584
,919
Valid
p11
113,3235
293,559
,493
,920
Valid
p12
113,6176
285,455
,632
,918
Valid
p13
113,7647
289,519
,604
,919
Valid
p14
113,4118
295,583
,400
,921
Valid
p15
113,6765
291,983
,586
,919
Valid
p16
113,6471
287,205
,594
,918
Valid
p17
113,8235
283,725
,556
,919
Valid
p18
113,6765
290,225
,476
,920
Valid
p19
113,3824
289,758
,519
,920
Valid
p20
113,4706
293,893
,469
,920
Valid
p21
113,6765
280,286
,679
,917
Valid
p22
113,2941
292,699
,586
,919
Valid
p23
113,5882
294,553
,371
,922
Valid
p24
112,7647
308,307
,057
,924
Tidak valid
p25
113,7941
282,350
,629
,918
Valid
p26
113,7647
301,398
,212
,924
Tidak valid
p27
113,6765
286,650
,605
,918
Valid
p28
113,3235
300,225
,266
,923
Tidak valid
p29
113,5588
280,678
,689
,917
Valid
p30
114,0000
294,970
,349
,922
Valid

Untuk perhitungan reabilitas konsioner perilaku wawasan lingkungan siswa menggunakan rumus Alpha cronbach angka reabilitas yang diperoleh dari perhitungan selanjutnya diperbandingkan dengan rtabel pada uji satu sisi dengan taraf signifikan (a) =0,05 dan derajat kepercayaan (df) =k-2dimana k = banyaknya soal yang valid. Kriteria reliabilitasnya adalah jika rhitung lebih besar dari pada rtabel maka instrumen tersebut reliabel.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan program spss 22.0 diperoleh nilai 0,922 > 0,600, dengan demikian berarti angket yang telah diujicobakan tergolong layak untuk digunakan sebagai angket penelitian. Agar lebih jelasnya, berikut adalah hasil perhitungan uji reliabilitasnya.
Tabel 3.11. Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas Butir Angket
Kreativitas Belajar Matematika
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based on Standardized Items
N of Items
,922
,919
30

G.   Teknik Analisis Data
1.      Statistik deskriptif
Dalam analisis deskriptif akan dilakukan teknik penyajian data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, grafik batang untuk masing masing variabel. Selain itu juga masing masing variabel akan diolah dan dianalisis ukuran pemusatan dan letak seperti mean, modus dan median serta ukuran simpangan seperti jangkauan, variasi, simpangan baku kemenangan dan kurtosis.
Adapun langkah langkah pembuatan tabel distribusi frekuensi dan penyajian grafik poligon serta histogram dilakukan dengan langkah langkah berikut :
a.       Menentukan rentang (R), yaitu data terbesar dikurangi data terkecil.
b.      Menentukan banyak kelas (K) dengan aturan struges,yaitu:
          K= 1 + 3,3 log n,
          n = banyaknya data
c.       Menentukan panjang kelas interval (P), yaitu P
d.      Menentukan ujung bawah interval kelas pertama yaitu < data terkecil.
e.       Membuat tabel distribusi frekuensi secara lengkap, dengan jalan menentukan ujung bawah (UB) dan ujung atas (UA) setiap interval kelas menghitung banyaknya kelas (frekuensi) data masing masing kelas interval
f.       Menggambarkan grafik hinstogram, dengan terlebih dahulu menentukan tepi bawah (TB) dan tepi atas (TA) untuk masing masing kkelas interval, yaitu TB = UB - ½ satuan data.
g.      Menggambarkan grafik poligon frekwensi, dengan terlebih dahalu menentukan nilai tengah (Yi) masing-masing kelas interval, Yi = ½ (UA- UB).
Sedangkan ukuran pusat, letak dan simpangan diantaranya dapat ditentukan dengan rumus-rumus berikut :
1.  Mennetukan Mean (Y) dengan rumus :
2.  Menentukan Modus (Mo)dengan rumus :  di mana :
Mo    = Mudus
b        = Batas bawah kelas mudus ialah interval dengan frekuensi    terbanyak
P        = Panjang kelas
        = Frekuensi kelas dikurangi frekwensi kelas interval terdekat
b2      = Frekuensi kelas dikurangi frekwensi kelas interval terdekat sesudanya.
3.  Menentukan Median (Me) dengan rumus :
Me =
Me     = Median
n        = banyaknya data
F        = jumlah semua frekwensi sebelumnya, sebelum kelas median
f        = frekwensi kelas median
b        = batas bawah kelas median
p        = panjang kelas median
4.  Variansi(SD) dan Simpangan Baku dengan rumus :
SD= 2  dan Simpangan Baku (s) =
Untuk mempersingkat waktu sekaligus pemanfaatan teknologi, maka perhitungan statistik deskripsi dalam penelitian ini diselesaikan menggunakan bantuan program SPSS 22.00.


2.  Uji Persyaratan Analisis Data
a.  Uji Normalitastis
Uji Normalitastis bertujuan untuk mengetahui apakah data hasil pengumpulan berdistribusi normal atau tidak. Hal ini akan berpengaruh pada proses lanjutan analisis statistik  jika data berdistribusi normal, maka analisis dilanjutkan menggunakan statistik non parametrik. Uji normalitas dapat dilakukan menggunakan analisis Kolmogorov Smirnov dalam SPSS 22.00. Distribusi data dikatakan normal jika nilai sig KS > 0,05. Perhitungan normalitas akan dilakukan menggunakan bantuan program komputer SPSS 22.00.
b.  Uji Linieritas
Pengujian linieritas garis regresi dalam penelitian ini digunakan uji F, rumusnya adalah sebagai berikut (Sudjana, 1996:327)
Dalam prakteknya akan digunakan bantuan program SPSS 21.00 untuk menghitung uji linieritas, yaitu dengan melihat besarnya nilai koefisien sig pada Deviation from Linearity.
Kriteria pengujian linierity adalah sebagai berikut :
jika sig > 0,05 maka garis regresi tersebut linear dan,
jika sig ≤ 0,05 maka garis regresi tersebut tidak linier.


3.  Uji Hipotesis Penelitian (Analisis Inferensial)
Setelah keseluruhan uji persyaratan analisis data dipenuhi dan diketahui data layak untuk diolah lebih lanjut, maka langkah berikutnya adalah pengujian masing-masing hipotesis yang telah diajukan. Pengujian hipotesis menggunakan teknik korelasi partial dan korelasi ganda, serta regresi linier sederhana dan regresi linier ganda. Dalam praktiknya untuk perhitungan dan pengujian korelasi dan regresi baik partial maupun ganda akan digunkan bantuan program SPSS 21.00. Aadapun kriteria pengujiannya adalah sebagai beriku :
a.  Analisi Korelasi
Hasil perhitungan koefisen korelasi ganda dilihat dari output program SPSS melalui analisis regresi yakni pada tabel Model Summaryb. Signifikasi dari koefisien korelasi tersebut diuji secara manual atau dengan bantuan komputer melalui program aplikasi Microsoft. Adapun rumus pengujiannya adalah :
Dimana :
            Fhitung               : nilai F yang dihitung
            R                     : nilaikoefisienkorelasiganda
            K                     : jumlahvariabel bebas (independent)
            N                     : jumlahsampel




b.  Analisis Regresi
1.  Perhitungan Persamaan Garis Regresi
Hasil perhitungan garis regresi bisa dilihat dari output program SPSS melalui analisis regresi yakni pada tabel Coefficicientsa. Koefisien persamaan garis regresi ditunjukkan oleh bilangan-bilangan yang ada pada kolom B untuk Unstandardized Coefficients.
Tabel 3.12. Format Tabel Persamaan Garis Regresi

Coefficients
Model
Unstandardized
Standardized
t
Sig
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error
Beta
1
(Constant)
a0




X1
a1




X2
a2




Depedent Variabel : Y
Dari tabel di atas maka persamaan regresinya adalah Y = a+ a1 X1 + a2 X 2
2.  Pengujian Signifikasi Regresi
        Hasil pengujian signifikasi regresi ganda bisa dilihat dari output program SPSS melalui analisis regresi yakni pada tabel ANOVAb  kolom F atau Sig.
Tabel 3.13. Format Tabel Signifikansi Regresi

ANOVAb


Model
Sum of Squares
df
Mean Squeare
F
Sig
1
Regression





Residual





Total





a. Predictors (Constant), X1, X2
b. Dependent Variable : Y
     Kriteria signifikasinya adalah :
·         Jika digunakan Kolom Sig.  Maka kriteria signifikasinya adalah
“Jika Sig < 0,05 maka garis regresi tersebut signifikan”
·         Jika digunakan Kolom F maka kriteria signifikasinya adalah
“Jika Fhitung > Ftabel  maka garis regresi tersebut signifikan”
Ftabel dipilih sesuai denganketentuan pengujian statistik pada distribusi F, yaitu taraf nyata α derajat (dk) pembilang = k dan derajat (dk) penyebut = n-k-l, dimana n adalah banyaknya anggota sampel dan k adaalah banyaknya variabel bebas.

H.      Hipotesis Statistik
Sesuai dengan hipotesis yang tercantum pada bab II dan Metodologi peenelitian yang diuraikan di atas, maka hipotesis statistik pada penelitian ini adalah :
1.  Hipotesis 1
Ho : β1 = β2 = 0                          tidak terdapat pengaruh kecerdasan emosional dan motivasi belajar siswa bersama-sama terhadap kreativitas belajar matematika siswa.
H1 : β1 ≠ 0; β1 ≠ 0                      terdapat pengaruh kecerdasan emosional dan motivasi belajar siswa bersama-sama terhadap kreativitas belajar matematika siswa.
2.  Hipotesis 2
Ho : β1 = 0                                         tidak terdapat pengaruh kecerdasan emosional terhadap kreativitas belajar matematika siswa.
H1 : β1 ≠ 0                                        terdapat pengaruh kecerdasan emosional terhadap kreativitas belajar matematika siswa.
3.  Hipotesis 3
Ho : β2 = 0                                         tidak terdapat pengaruh motivasi belajar siswa terhadap kreativitas belajar matematika siswa.
H1 : β2 ≠ 0                                        terdapat pengaruh motivasi belajar siswa terhadap kreativitas belajar matematika siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar