BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rendahnya
mutu pendidikan pada setiap jenjang pendidikan merupakan salah satu masalah
yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Berbagai usaha telah
dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, baik dengan pengembangan
kurikulum, peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan sarana pendidikan
lain serta perbaikan manajemen sekolah. Namun usaha ini belum juga menunjukkan
hasil yang signifikan. Pendidikan merupakan media yang sangat berperan untuk
menciptakan manusia yang berkualitas dan berpotensi dalam arti yang
seluas-luasnya, melalui pendidikan akan terjadi proses pendewasaan diri
sehingga di dalam proses pengambilan keputusan terhadap suatu masalah yang
dihadapi selalu disertai dengan rasa tanggung jawab yang besar.
Dalam
proses pembelajaran di sekolah, banyak orang berpendapat bahwa untuk meraih
prestasi yang tinggi dalam belajar, seseorang harus memiliki Intelligence
Quotient (IQ) yang tinggi. Karena intelegensi merupakan bekal potensial
yang akan memudahkan dalam belajar sehingga menghasilkan prestasi belajar yang
optimal. Menurut Binet dalam Gusniwati (2015: 27) hakikat intelegensi adalah
kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan
penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan untuk menilai keadaan diri
secara kritis dan objektif. Kenyataannya dalam proses belajar mengajar di
sekolah sering ditemukan siswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang
setara dengan kemampuan intelegensinya. Ada siswa yang mempunyai kemampuan
intelegensi tinggi tetapi memperoleh prestasi belajar yang relatif rendah,
namun ada siswa yang memiliki kemampuan intelegensi relatif rendah, dapat meraih
prestasi belajar yang relatif tinggi.
Oleh
karena itu jelaslah bahwa taraf intelegensi bukan satu-satunya faktor yang
menentukan keberhasilan seseorang, karena ada faktor lain yang mempengaruhinya.
Menurut Goleman (dalam Gusniwati 2015: 27), kecerdasan Intelektual (IQ) hanya
menyumbang 20% bagi kesuksesan seseorang, sedangkan 80% adalah sumbangan dari
faktor-faktor lain, diantaranya kecerdasan emosional (EQ) yaitu kemampuan
memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur
suasana hati, berempati serta kemampuan bekerjasama. Dalam proses belajar,
kedua intelegensi ini sangat diperlukan. IQ tidak dapat berfungsi dengan baik
tanpa partisipasi dari penghayatan emosional terhadap mata pelajaran yang
disampaikan disekolah. Namun biasanya kedua kecerdasan ini saling melengkapi.
Keseimbangan IQ dan EQ merupakan kunci keberhasilan belajar siswa di sekolah.
Selain
kecerdasan emosional ada faktor lain yang tak kalah pentingnya dan sangat
mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar yaitu motivasi belajar terutama
dalam kreativitas belajar matematika. Mata pelajaran matematika merupakan
pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa. Namun bagi sebagian siswa yang
memiliki motivasi dan konsentrasi belajar yang baik serta kreativitas belajar
yang tinggi, mereka dapat meraih prestasi belajar yang baik. Siswa yang
demikian belum tentu memiliki IQ tinggi, tetapi faktor yang paling mendukung
adalah ketekunan, motivasi serta daya juangnya untuk berprestasi.
Untuk
mengantisipasi masalah tersebut agar tidak berkelanjutan maka para guru terus
berusaha menggali faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar
matematika siswa, salah satunya dengan meningkatkan kreativitas belajar
matematika melalui peningkatan kecerdasan emosional dan motivasi belajar
matematika siswa. Karena matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur dan
hubungan-hubungannya, yang diatur secara logis sehingga matematika berkaitan
dengan konsep-konsep abstrak. Suatu kebenaran dalam matematika dikembangkan
berdasarkan alasan-alasan logis dengan menggunakan pembuktian deduktif.
Matematika yang berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itu
tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif, jadi belajar matematika
memerlukan kreativitas yang tinggi.
Kecerdasan
intelektual saja tidak memberikan persiapan bagi individu untuk menghadapi
gejolak, kesempatan ataupun kesulitan-kesulitan dan kehidupan. Dengan
kecerdasan emosional, seseorang mampu mengetahui dan menanggapi perasaan mereka
sendiri dengan baik dan mampu membaca dan menghadapi perasaan-perasaan orang
lain dengan efektif. Seseorang yang memiliki keterampilan emosional yang
berkembang baik, kemungkinan besar akan berhasil dalam kehidupan dan memiliki
motivasi untuk berprestasi. Sedangkan individu yang tidak dapat menahan kendali
atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merusak
kemampuannya untuk memusatkan perhatian pada tugas-tugasnya dan memiliki
pikiran yang jernih.
Selain
kecerdasan emosional, motivasi belajar matematika juga menjadi faktor penting
yang mempengaruhi kreativitas belajar matematika siswa. Motivasi sangat erat
hubungannya dengan belajar, belajar tanpa motivasi akan terasa membosankan.
Peserta didik yang termotivasi terhadap kegiatan belajar akan berusaha lebih
keras dibandingkan peserta didik yang kurang termotivasi. Motivasi yang tinggi
terhadap suatu mata pelajaran, memungkinkan peserta didik memberikan perhatian
yang tinggi terhadap mata pelajaran itu sehingga memungkinkan pula memiliki
prestasi yang tinggi. Maka untuk mencapai prestasi yang tinggi, disamping
kecerdasan, motivasi juga perlu ditingkatkan, sebab tanpa motivasi kegiatan
belajar tidak akan efektif. Dari kondisi yang tersebut diatas maka peneliti
tertarik untuk mengajukan judul penelitian, “Pengaruh Kecerdasan Emosional dan
Motivasi Belajar Terhadap Kreativitas Belajar Matematika”.
B. Identifikasi Masalah
1.
Apakah siswa di SMP Negeri kecamatan
Sokaraja memiliki motivasi belajar matematika?
2.
Bagaimana kondisi kecerdasan emosional
siswa di SMP Negeri kecamatan Sokaraja?
3.
Bagaimana kreativitas belajar matematika
siswa di SMP Negeri kecamatan Sokaraja?
4.
Bagaimana kreativitas belajar matematika
siswa ditinjau dari kecerdasan emosional dan motivasi belajar di SMP Negeri
Kecamatan Sokaraja?
5.
Faktor apa saja yang mempengaruhi
kreativitas belajar matematika siswa?
6.
Seberapa tinggi kreativitas belajar
matematika siswa di SMP Negeri kecamatan Sokaraja bila dilihat dari tingkat
kecerdaan emosionalnya dalam menyelesaikan persoalan matematika?
7.
Seberapa tinggi kreativitas belajar
matematika siswa di SMP Negeri kecamatan Sokaraja bila dilihat dari motivasi
belajar matematikanya?
8.
Adakah pengaruh kecerdasan emosional
terhadap kreativitas belajar matematika siswa?
9.
Adakah pengaruh motivasi belajar siswa
terhadap kreativitas belajar matematika siswa?
10. Adakah
pengaruh kecerdasan emosional dan motivasi belajar siswa bersama-sama terhadap
kreativitas belajar matematika siswa?
C. Pembatasan Masalah
Penelitian
ini hanya akan membahas ada/tidaknya pengaruh:
1.
Kecerdasan emosional terhadap
kreativitas belajar matematika siswa
2.
Motivasi belajar siswa terhadap
kreativitas belajar matematika siswa
3.
Kecerdasan emosional dan motivasi
belajar siswa bersama-sama terhadap kreativitas belajar matematika siswa
D. Rumusan Masalah
Sesuai
dengan keterangan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:
1.
Adakah pengaruh kecerdasan emosional dan
motivasi belajar siswa bersama-sama terhadap kreativitas belajar matematika
siswa SMPN Sokaraja?
2.
Adakah pengaruh kecerdasan emosional
terhadap kreativitas belajar matematika siswa SMPN Sokaraja?
3.
Adakah pengaruh motivasi belajar siswa
terhadap kreativitas belajar matematika siswa SMPN Sokaraja?
E. Tujuan Penelitian
Sesuai
dengan keterangan di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1.
Pengaruh kecerdasan emosional dan
motivasi belajar siswa bersama-sama terhadap kreativitas belajar matematika
siswa SMPN Sokaraja.
2.
Pengaruh kecerdasan emosional terhadap
kreativitas belajar matematika siswa SMPN Sokaraja.
3.
Pengaruh motivasi belajar siswa terhadap
kreativitas belajar matematika siswa SMPN Sokaraja.
F. Keguanaan Penelitian
Hasil
yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam
meningkatkan kreativitas belajar matematika siswa.
Kegunaan
Teoritis
1.
Hasil penelitian ini dapat digunakan
untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional dan motivasi belajar siswa
sehingga dapat mengoptimalkan kreativitas belajar matematika dalam proses
pembelajaran.
2.
Hasil penelitian ini dapat memperkaya
dan memperluas teori serta mampu menantang dan memotivasi peneliti pendidikan
untuk melakukan penelitian lebih lanjut secara lebih spesifik, dengan demikian
akan menambah dinamika ilmu pengetahuan, khususnya yang berkenaan dengan
pendidikan.
Kegunaan
Praktis
1.
Diharapkan siswa dapat memiliki
kecerdasan emosional yang baik serta meningkatkan motivasi belajarnya sehingga
dapat meningkatkan kreativitas belajar matematika.
3.
Dapat memberikan masukan dalam mengelola
kelas dan memberikan pertimbangan tentang materi-materi tambahan yang lebih
spesifik untuk bekal para siswa dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa.
4.
Hasil penlitian dapat dikembangkan oleh
pihak sekolah di kecamatan Sokaraja khususnya menjadi pedoman bagi pihak
sekolah menyusun strategi pembelajaran dan sebagai acuan untuk memecahkan
masalah terkait prestasi akademik siswa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR
DAN HIPOTESIS
A. Landasan Teori
1. Kreativitas Belajar Matematika
a.
Pengertian kreativitas belajar
matematika
Dalam
kegiatan belajar matematika baik di sekolah maupun di rumah, kreativitas
merupakan salah satu modal yang harus dimiliki para siswa untuk mencapai
prestasi belajar. Pada dasarnya kreativitas dapat diartikan menambah
ketentuan-ketentuan yang ada dengan yang baru. Kreativitas siswa tidak
seharusnya diartikan sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang benar-benar
baru. Dengan kecerdasan yang dimiliki siswa dalam memandang ketentuan yang ada
masih memerlukan suatu bimbingan, pemahaman, dan penelitian.
Arti
kreativitas dikenal dengan four p’s of
creativity, yakni person, process,
press, dan product. Kreativitas
dari segi person (pribadi) menunjukkan
pada potensi daya kreatif yang ada pada setiap pribadi. Kreativitas sebagai
suatu process (proses) dapat
dirumuskan sebagai suatu bentuk pemikiran dimana individu berusaha menemukan
hubungan-hubungan yang baru, mendapatkan jawaban, metode atau cara-cara baru
dalam menghadapi suatu masalah. Kreativitas sebagai press (pendorong) yang datang dari diri sendiri berupa hasrat dan
motivasi yang kuat untuk berkreasi. Kreativitas dari segi product (hasil) adalah segala sesuatu yang diciptakan seseorang
sebagai hasil dari keunikan pribadinya dalam interaksi dengan lingkungannya.
Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru,
berupa gagasan atau karya nyata, baik dalam bentuk berpikir kreatif maupun
berpikir efektif baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang
sudah ada (Satiadarma, 2003: 109).
Menurut
Clark Moustakis (dalam Utami Munandar, 2009: 18), menyatakan bahwa kreativitas
adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu
dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam dan dengan
orang lain. Sedangkan menurut Roger (dalam Utami Munandar, 2009: 18) bahwa
sumber dari kreativitas adalah kecenderungan diri untuk mengaktualisasi diri,
mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, kecenderungan
untuk mengekspresikan dan mengaktifkan seluruh kemampuan organisme.
Pendapat
diatas sejalan dengan pemikiran Imam (2006: 6) yang mengartikan kreativitas sebagai
kemampuan melalui ide, melihat hubungan yang baru atau tak diduga sebelumnya,
kemampuan memformulasikan konsep yang bukan hanya sekedar menghafal,
menciptakan jawaban baru untuk soal-soal yang ada, dan mendapatkan pertanyaan
baru yang perlu untuk dijawab. Kreativitas dalam hal ini menyangkut cara
berpikir kreatif, kemampuan untuk melihat bermacam-macam jawaban terhadap satu
soal. Saat melihat sesuatu, pada anak yang berpikir kreatif, akan segera muncul
ide-ide. Ide itu timbul dari dirinya sendiri tanpa perlu pemberitahuan dari
orang lain. Kreativitas dimulai dari suatu gagasan-gagasan yang kemudian
tercipta sesuatu yang bersifat baru.
Sedangkan
Naiman Linda (2006), mengemukakan bahwa kreativitas sebagai tindakan yang
memutar gagasan-gagasan imajinatif dan bersifat baru ke dalam kenyataan.
Kreativitas melibatkan dua proses yaitu pemikiran dan lalu menghasilkan.
Inovasi merupakan hasil atau implementasi dari suatu gagasan. Jika siswa
mempunyai gagasan-gagasan tetapi tidak melalui proses-proses itu maka siswa itu
dikatakan orang imajinatif tapi bukan orang kreatif.
Setiap
siswa memiliki kreativitas dan kepribadian yang berbeda-beda. Menurut Utami
Munandar (dalam Datuk Eka, 2014: 14) ada beberapa ciri pribadi kreatif yaitu: imajinatif,
mempunyai prakasa, mempunyai minat luas, mandiri dalam berfikir, senang
berpetualang, penuh energi, percaya diri, berani mengambil resiko, dan berani
dalam berpendirian dan berkeyakinan. Ada empat ciri–ciri orang kreatif, yakni:
bebas dalam berfikir dan bertindak, adanya inisiatif menumbuhkan rasa ingin
tahu, percaya pada diri sendiri, dan mempunyai daya imajinasi yang baik. Keberbakatan
yang dimiliki oleh siswa berpengaruh terhadap kreativitas siswa.
Conny
(2009: 31) berpendapat kreativitas adalah suatu talenta yang dimiliki seseorang
sejak dini yang dalam keterampilan kinerjanya menunjukkan keluarbiasaan yang
bersifat khusus. Kreativitas ini disebut kreativitas keberbakatan. Kreativitas
keberbakatan bersifat orisinil, tak diduga, berguna serta adaptif terhadap
kendala-kendala tugas. Lebih lanjut Conny (2009: 36) menambahkan bahwa ada
empat dimensi yang ditunjukkan kreativitas keberbakatan, yaitu: pendekatan
dalam berbagai masalah, ketajaman kecerdasan yang konstruktif, kemampuan
menyingkirkan prosedur yang dianggap tidak perlu, dan memiliki sikap tujuan
serta kesadaran sosial. Seorang siswa akan lebih memahami masalah yang sedang
dihadapi bila dapat berpikir dengan lebih kreatif.
Arthur
(2011: 18-19) berpendapat bahwa ada enam prinsip berpikir kreatif, yaitu: memisahkan
penciptaan ide dari evaluasi, menguji asumsi, menghindari pemikiran yang
terpola, menciptakan perspektif baru, meminimalkan pemikiran negatif, dan
mengambil resiko yang hati-hati. Ada dua indikator yang digunakan dalam
penelitian ini adalah memisahkan penciptaan ide dari evaluasi dan meminimalkan
pemikiran negatif. Setiap siswa memiliki potensi kreatif, tetapi dalam
kenyataannya tidak semua berwujud menjadi kemampuan dan keterampilan kreatif.
Torrance yang dikutip oleh Ali & Anshori (2008: 43) berpendapat bahwa
kreativitas sebagai proses kemampuan memahami kesenjangan-kesenjangan atau
hambatan-hambatan dalam hidup. Rasa ingin tahu, ketekunan, dan tidak mudah
bosan diperlukan siswa untuk memahami kesenjangan atau hambatan yang dialami khususnya
dalam proses pembelajaran.
Dari
berbagai pendapat tentang kreativitas di atas, dapat disimpulkan bahwa
kreativitas adalah perilaku siswa sebagai tindakan yang memutar gagasan berpikir,
keberbakatan yang dimiliki, dan kemampuan memahami kesenjangan untuk menciptakan
sesuatu yang baru. Ada enam prinsip berpikir kreatif, yaitu: memisahkan
penciptaan ide dari evaluasi, menguji asumsi, menghindari pemikiran yang
terpola, menciptakan perspektif baru, meminimalkan pemikiran negatif, dan
mengambil resiko yang hati-hati.
Menurut
pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam
seluruh aspek tingkah laku. Bagi Higard (dalam Wina Sanjaya, 2010: 112),
belajar itu adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik
latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah. Sedangkan
menurut Slameto (2010: 2), belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.
Belajar
itu lebih dari sekedar adanya perubahan dalam tingkah laku yang diamati.
Belajar adalah pencapaian pengetahuan dalam tingkah laku yang berdasar pada
pengetahuan tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Asep Jihad (2008: 1) yang
mengatakan bahwa belajar adalah tahapan perilaku siswa yang relatif positif dan
mantap sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, dapat
diambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses usaha yang dilakukan individu
untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang relatif positif dalam interaksinya
dengan lingkungan.
Menurut
Suherman (2002: 3), matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek
abstrak yang dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu
konsep yang diperoleh dari akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga
berkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas.
Matematika berasal dari bahasa latin yaitu
manthanein atau mathema yang
berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika dalam bahasa Belanda
disebut wiskunde atau ilmu pasti.
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah tidak
hanya berhubungan dengan bilangan, melainkan juga pola, bentuk, grafik, dan
tabel. Mata pelajaran matematika merupakan bahan kajian dan pelajaran yang
terdiri dari aritmatika, aljabar, geometri, dan statistika yang bersifat
memberikan bekal kemampuan kepada siswa untuk berpikir logis dan kritis.
Dari
definisi diatas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu yang bersifat
konsisten artinya tidak ada aturan yang bertentangan, bersifat deduktif yang
dapat dikembangkan dari aksioma, definisi, teorema lalu dikaitkan pada
kasus-kasus yang lebih khusus dan mempunyai variabel yang didefinisikan secara
jelas ruang lingkupnya. Dengan demikian kreativitas belajar matematika siswa
adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan hal baru, baik berupa gagasan,
karya nyata yang dipelajari dalam perubahan tingkah lakuyang lebih baik melalui
latihan dengan cara memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai
elemen dan kuantitas.
b.
Indikator kreativitas belajar matematika
Terdapat
skala kreativitas yang dapat digunakan guru untuk mengetahui kreativitas
belajar siswa menurut Utami Munandar (2009: 71), yang meliputi:
1)
Rasa ingin tahu yang luas dan mendalam
2)
Memiliki daya imajinasi
3)
Orisinal dalam ungkapan gagasan dan
dalam pemecahan masalah
4)
Mampu melihat masalah dari berbagai
segi/sudut pandang
5)
Sikap berani mengambil resiko
Sedangkan
menurut Satiadarma (2003: 110) ciri-ciri kepribadian kreatif yaitu:
1)
Rasa ingin tahu yang mendorong individu
lebih banyak mengajukan pertanyaan
2)
Memiliki imajinasi yang hidup yakni
membayangkan hal-hal baru yang belum pernah terjadi
3)
Merasa tertantang oleh kemajuan yang
mendorongnya untuk mengatasi masalah yang sulit
4)
Berani mengambil resiko
5)
Orisinil dalam mengungkapkan gagasan
Berdasarkan
pendapat-pendapat diatas, maka indikator kreativitas belajar matematika siswa
yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel
2.1.
Sikap
Kreativitas Siswa
|
Indikator
|
Sikap
Siswa
|
|
1)
Mempunyai rasa ingin tahu yang mendalam
|
a)
Bertanya
b)
Mencari banyak sumber pengetahuan
c)
Memperhatikan penjelasan dari guru
|
|
2)
Mempunyai daya imajinasi
|
a)
Mampu mencari hubungan-hubungan baru dari suatu
yang sudah ada
b)
Mempu mengembangkan
c)
Mempu merencanakan
|
|
3)
Orisinil dalam menyampaikan gagasan
|
a)
Memberikan gagasan
b)
Mengembangkan gagasan yang disampaikan oleh siswa
lain
|
|
4)
Mempu melihat masalah dari berbagai sudut pandang
|
a)
Mencari banyak kemungkinan
b)
Dapat melihat kekurangan
c)
Melibatkan diri dalam maslaah yang sulit
|
|
5)
Sikap berani mengambil resiko
|
a)
Mempertahankan pendapat
b)
Memberi/menerima saran ataupun kritik
c)
Tidak takut dalam kegagalan
d)
Berani membuat dugaan
|
2. Kecerdasan Emosional
a.
Pengertian kecerdasan emosional
Keberhasilan
dalam pembelajaran tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual saja tetapi
kecerdasan emosional juga memiliki peran yang penting. Cooper dan Sawaf yang
dikutip Tridhonanto (2010: 8) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah
kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan
emosi sebagai sumber energi serta pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi
menuntut mengenal jenis-jenis perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan
pada diri sendiri dan orang lain kemudian menanggapinya dengan tepat,
menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari. Hal senada
juga diungkapkan Steiner yang dikutip oleh Datuk Eka, (2014: 17) mengemukakan
kecerdasan emosional merupakan kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan
perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola
emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain. Kekuatan
yang dimiliki siswa dapat diaplikasikan melalui kecerdasan emosi.
Selain
itu, Saloney dan Mayer (dalam Datuk Eka, 2014: 18) mendefinisikan kecerdasan
emosi sebagai kemampuan memantau dan mengendalikan emosi sendiri dan orang
lain, serta menggunakan emosi-emosi itu untuk memandu pikiran dan tindakan.
Perasaan atau suara-suara hati memberikan informasi penting dan berpotensi
memberikan keuntungan setiap saat. Perasaan atau suara hati sebagai umpan
balik, bersumber dari hati bukan dari kepala yang sering kali menyalakan
kreativitas.
Hal
senada juga diungkapkan Saptono (2011 : 30) yang mengemukakan bahwa kecerdasan
emosional pada hakekatnya adalah kemampuan manusia untuk menghargai makna
setiap bentuk emosi, serta berpikir dan memecahkan masalah berdasarkan makna
setiap bentuk emosi itu. Begitu juga diungkapkan Mustaqim (2008: 154-157)
menyatakan kecerdasan emosi menunjuk kepada suatu kemampuan untuk memahami
perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan untuk memotivasi diri
sendiri, dan menata dengan baik emosi-emosi yang muncul di dalam diri sendiri
dan dalam berhubungan dengan orang lain. Ada lima ciri-ciri kecerdasan emosi,
yaitu: kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan ketrampilan
sosial.
Mengacu
dari berbagai pendapat tentang kecerdasan emosional di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa kecerdasan emosi adalah jenis kecerdasan yang fokusnya
memahami, mengenali, merasakan, mengelola dan memimpin perasaan diri sendiri
dan orang lain serta mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi dan sosial.
Kecerdasan tersebut meliputi kesadaran diri, pengaturan diri, empati, dan ketrampilan
sosial. Kesadaran diri siswa merupakan suatu sikap untuk mengetahui kondisi
diri sendiri, kesukaan, sumber daya, dan instuisi. Kesadaran emosi ini meliputi
kesadaran emosi dan penilaian diri.
Pengaturan
diri adalah mengelola kondisi, impuls, dan sumber daya diri sendiri. Pengaturan
diri siswa meliputi kendali diri, dapat dipercaya, dan kewaspadaan. Empati
adalah kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain.
Empati yang dimaksud meliputi memahami orang lain dan solidaritas. Ketrampilan
sosial yang dimiliki siswa merupakan kepintaran dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki
pada orang lain.
b.
Indokator kecerdasan emosional
Salovey
(Goleman, 2000) mengklasifikasikan kecerdasan emosional menjadi lima komponen
penting, yaitu:
1)
Mengenali emosi diri (knowing one’s emotion)
Kesadaran diri dalam
mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar dari kecerdasan
emosional. Ketidakmampuan untuk memahami perasaan yang sebenarnya membuat diri
berada dalam kekuasaan perasaan sehingga tidak peka terhadap perasaan yang akan
berakibat buruk dalam perilaku.
2)
Mengelola emosi (managing emotions)
Mengelola emosi berarti
menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat. Emosi dikatakan
berhasil dikelola apabila seseorang mampu menghibur diri ketika mengalami kesedihan,
dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan pilih kembali dari
perasaan itu dengan cepat.
3)
Motivasi diri (self motivating)
Kemampuan seseorang
memotivasi diri dapat diketahui melalui hal-hal berikut:
a)
Cara mengendalikan dorongan emosi
b)
Derajat kecemasan yang mempengaruhi
untuk kerja seseorang
c)
Kekuatan berpikir positif
d)
Optimisme
e)
Keadaan ketika perhatian seseorang
sepenuhnya tercurah kedalam apa yang sedang terjadi dan hanya terfokus pada
satu objek
Dengan kemampuan memotivasi
diri yang dimilikinya maka seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang
positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya. Motivasi
dihasilkan dari sikap optimis dan harapan.
4)
Mengenal emosi orang lain (recognizing emotions in others)
Empati atau mengenal
emosi orang lain dapat dibangun berdasarkan pada kesadaran diri seseorang.
5)
Membina hubungan dengan orang lain (handling relationship)
Membina hubungan dengan
orang lain merupakan ketrampilan sosial seseorang yang mendukung keberhasilan
seseorang dalam pergaulan dengan orang lain. Tanpa ketrampilan ini seseorang
akan seringkali dianggap angkuh, mengganggu, karena tidak mengetahui bagaimana
cara untuk berhubungan dengan orang lain.
Menurut
Stein dan Book (2002: 148) indikator kecerdasan emosional dibagi menjadi lima
ranah, yaitu:
1)
Ranah intrapribadi
Ranah intrapribadi
terkait dengan kemampuan kita untuk mengenal dan mengendalikan diri sendiri.
2)
Ranah antarpribadi
Ranah antar pribadi
berkaitan dengan ketrampilan bergaul yang kita miliki, kemampuan kita
berinteraksi dan bergaul baik dengan orang lain.
3)
Ranah penyesuaian diri
Ranah penyesuaian diri
berkaitan dengan kemampuan untuk bersikap lentur dan realistis, dan untuk
memecahkan aneka masalah yang muncul.
4)
Ranah pengendalian stres
Ranah pengendalian
stres terkait dengan kemampuan kita untuk tahan menghadapi stres dan
mengendalikan impuls.
5)
Ranah suasana hati umum
Ranah kecerdasan
emosional ini berkaitan dengan pandangan kita tentang kehidupan, kemampuan kita
bergembira sendirian dan dengan orang lain, serta keseluruhan rasa puas dan
kecewa yang kita rasakan.
Berdasarkan
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa indikator kecerdasan emosional antara
lain:
1)
Siswa mampu bertanggungjawab dengan
tugas yang diberikan
2)
Siswa dapat berinteraksi dengan siswa
lain
3)
Siswa memiliki rasa percaya diri dalam
menyelesaikan tugas
4)
Siswa bersemangat dalam segala aktivitas
5)
Siswa selalu berpikir positif
3. Motivasi Belajar
a.
Pengertian
motivasi belajar
Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau
keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai
serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan motivasi adalah suatu proses
untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk
memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan atau keadaan dan kesiapan dalam diri
inividu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai
tujuan tertentu (Sudjana, 2005: 28-29)
Selain
itu menurut Hamzah (2007:6), “motivasi merupakan konsep hipnotis untuk suatu
kegiatan yang dipengaruhi oleh persepsi dan tingkah laku seseorang untuk
mengubah situasi yang tidak memuaskan atau tidak menyenangkan”. Untuk mengamati motivasi merupakan
pekerjaan psikologis yang sangat sulit, karena motivasi yang terjadi pada diri
seseorang atau seorang siswa merupakan suatu proses yang tidak dapat diamati
secara langsung kecuali gejala-gejalanya saja yang dapat diamati secara
langsung. Dalam mengamati adanya motivasi pada diri seseorang hanya dapat
dilakukan melalui perubahan tingkah lakunya, mengukur perubahan prestasinya
atau menanyakan kebutuhan dan tujuanya (Wexlay dan Yukl, 2003 : 13). Walaupun
demikian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam mengamati motivasi,
sebab apabila diamati dari perubahan tingkah lakunya, tingkah laku seseorang
dapat disebabkan lebih dari satu motivasi atau dengan motivasi yang sama dapat
menyebabkan tingkah laku yang berbeda. Mengamati motivasi melalui perubahan
hasil prestasi belajar siswa juga perlu hati-hati, sebab prestasi belajar
selain tergantung pada motivasi juga tergantung pada kemampuan siswa dan
persepsinya terhadap pelajaran yang sedang dipelajari.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2013: 80-81), motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku
manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku individu
belajar. Ada
tiga komponen utama dalam motivasi, yaitu adanya kebutuhan, dorongan, dan tujuan. Kebutuhan
terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang ia miliki
dan yang ia harapkan. Dorongan
merupakan suatu kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi
harapan. Motivasi dapat pula dikatakan, serangkaian usaha untuk menyediakan
kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu ingin melakukan sesuatu dan
bila tidak suka, maka ia akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan
perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari
luar, tetapi motivasi tumbuh didalam diri seseorang (Sardiman, 2007: 75).
Dari
beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan
yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu demi
tercapainya suatu tujuan. Motivasi juga dapat dikatakan sebagai rancangan atau
kehendak untuk menuju keberhasilan.
Motivasi
dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan
yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai
motivasi dalam belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat
ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar seorang anak didik
akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar.
Motivasi
belajar adalah suatu perubahan tenaga di dalam diri seseorang (pribadi) yang
ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Frederick
J. Mc Donald dalam H. Nashar, 2004:39). Tetapi Clayton Alderfer dalam Nashar
(2004:42) mengatakan, motivasi belajar adalah kecenderungan siswa dalam
melakukan kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat untuk mencapai prestasi
atau hasil belajar sebaik mungkin.
Motivasi
belajar juga merupakan kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan diri secara
optimum, sehingga mampu berbuat yang lebih baik, berprestasi dan kreatif
(Maslow dalam Nashar, 2004:42). Pada dasarnya motivasi adalah suatu usaha yang
disadari untuk menggerakkan, menggarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang
agar ia terdorong untuk bertindak
melakukan sesuatu sehingga
mencapai hasil atau tujuan
tertentu.
Jadi
motivasi belajar adalah kondisi
psikologis yang mendorong siswa untuk belajar dengan senang dan belajar secara
sungguh-sungguh, yang pada gilirannya akan terbentuk cara belajar siswa yang sistematis, penuh
konsentrasi dan dapat menyeleksi kegiatan-kagiatannya.
b. Indikator motivasi belajar
Menurut Rakhmat (2007: 104) proses psikologi timbul
akibat faktor didalam diri seseorang yang disebut intrinsik dan ekstrinsik.
Faktor didalam diri seseorang bisa berupa kepribadian, sikap, pengalaman, dan
pendidikan atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau ke masa depan.
Sedangkan dari luar diri dapat timbul oleh berbagai faktor-faktor lainnya yang
sangat kompleks. Tetapi faktor intrinsik
dan ekstrinsik timbul karena adanya
rangsangan.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2013: 85-86), motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi
siswa,
pentingnya motivasi
belajar adalah
sebagai berikut:
1) Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan
hasil akhir
2) Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan dengan teman sebaya
3) Mengarahkan kegiatan belajar
4) Membesarkan semangat belajar
5) Meyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan
kemudian bekerja (disela-selanya adalah istirahat atau
bermain) yang
berkesinambungan, individu dilatih untuk menggunakan kekuatannya sedemikian
rupa sehingga dapat berhasil
Motivasi belajar juga penting diketahui oleh seorang
guru. Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat bagi guru, manfaat
itu sebagai berikut:
1) Membangkitan, meningkatkan, dan memelihara semangat
siswa untuk belajar sampai berhasil
2) Mengetahui dan memahami bahwa motivasi belajar siswa di
kelas bermacam-ragam
sehingga guru dapat dapat menggunakan bermacam-macam strategi mengajar
belajar
3) Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu
diantara bermacam-macam peran
seperti sebagai
penasihat, fasilitator,
instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah, atau
pendidik. Peran pedagogik tersebut sudah barang tentu sesuai dengan perilaku
siswa
4) Memberi peluang guru untuk “unjuk
kerja” rekayasa pedagogis
Motivasi belajar dalam kerangka pendidikan formal
menurut Walgito (2003: 33) merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan,
artinya terpengaruh oleh kondisi fisiologis dan kematanga psikologis peserta
didik. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah:
1) Cita-cita peserta didik
2) Kemampuan peserta didik
3) Kondisi peserta didik
4) Kondisi lingkungan peserta didik
5) Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
6) Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Hakikat motivasi belajar
adalah dorongan internal dan eksternal pada
siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku,
pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung
(Hamzah B. Uno, 2007: 23). Indikator
motivasi belajar
dapat diklasifikasikan
sebagai berikut: a) adanya hasrat dan keinginan berhasil; b)
adanya
dorongan
dan
kebutuhan dalam belajar; c) adanya harapan dan cita-cita masa depan; d)
adanya penghargaan dalam belajar; e) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar; f) adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehigga memungkinkan
seseorang siswa dapat
belajar dengan baik.
Menurut Sardiman (2007: 83), seseorang yang memiliki motivasi dalam
belajar memiliki
ciri-ciri sebagai
berikut:
1)
Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang
lama, tidak pernah
berhenti sebelum selesai)
2)
Ulet menghadapi kesulitan (tidak mudah putus asa)
3)
Menunjukkan
minat
terhadap bermacam-macam
masalah (minat
untuk
sukses)
4)
Lebih senang bekerja mandiri
5)
Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis,
berulang-ulang begitu
saja, sehingga kurang kreatif)
6)
Dapat mempertahankan pendapatnya
7)
Tidak mudah
melepaskan hal yang diyakini itu
8)
Senang mencari dan
memecahkan
masalah soal-soal.
Apabila
seseorang telah memiliki ciri-ciri motivasi di atas maka orang
tersebut dapat dikatakan memiliki motivasi yang tinggi. Kegiatan belajar mengajar akan berhasil baik, apabila siswa tekun mengerjakan tugas, ulet
dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan
secara mandiri. Selain itu siswa
juga
harus peka dan responsif terhadap masalah
umum dan bagaimana memikirkan pemecahannya. Siswa yang telah
termotivasi memiliki keinginan
dan
harapan untuk berhasil dan apabila
mengalami kegagalan mereka akan berusaha keras untuk mencapai keberhasilan itu yang ditunjukkan dalam
prestasi belajarnya. Dengan kata lain, adanya usaha yang
tekun dan terutama didasari adanya
motivasi
maka
seseorang
yang belajar akan melahirkan prestasi yang baik.
Lebih lanjut
Amin Kismoyowati
(2011:
123) mengungkapkan, ciri-ciri
anak yang
memiliki motivasi tinggi yaitu siswa tersebut tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan,
lebih mandiri, dapat mempertahankan
pendapatnya, senang dan dapat
memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
Berdasarkan ciri-ciri anak yang memiliki motivasi belajar tinggi menurut
Sardiman dan
Amin Kismoyowati tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa
ciri-ciri siswa yang memiliki motivasi
tinggi yaitu:
1)
Tekun
menghadapi
tugas
2)
Ulet
menghadapi
kesulitan
3)
Menunjukkan
minat
4)
Lebih senang bekerja mandiri
5)
Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin
6)
Dapat mempertahankan pendapatnya.
7)
Tidak mudah
melepaskan hal yang diyakini.
8)
Senang mencari dan
memecahkan masalah
soal-soal.
Berdasarkan
uraian
diatas dapat disimpulkan bahwa indikator motivasi belajar antara lain:
1) Semangat untuk belajar
2) Ingin sukses dalam belajar
3) Ingin mencapai hasil belajar tinggi
4) Semangat bersaing dalam belajar
5) Semangat mencapai keunggulan dalam belajar
B. Kerangka Berpikir
1. Pengaruh
Kecerdasan Emosional dan Motivasi Belajar Terhadap Kreativitas Belajar
Matematika
Keberhasilan
suatu pembelajaran di sekolah dipengaruhi oleh beberapa komponen. Kebijakan
sekolah, guru, dan siswa merupakan komponen utama yang paling berperan dalam
proses pembelajaran di sekolah. Salah satu dari ketiga komponen yang menjadi
perhatian khusus dalam pembelajaran adalah siswa. Siswa sebagai obyek atau
sasaran utama dari proses pembelajaran. Ada beberapa faktor yang dimiliki siswa
dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran seperti minat belajar,
kecerdasan emosi, dan kreativitas.
Kecerdasan
emosional dibutuhkan siswa untuk mengatur diri, berempati, dan berketerampilan
sosial dalam menghadapi suatu permasalahan. Siswa yang memiliki kecerdasan
emosi tinggi tidak akan terburu-buru dan gegabah dalam mengambil keputusan.
Kecerdasan emosi siswa yang baik dapat memelihara norma-norma kejujuran saat
mengerjakan tugas yang bersifat mandiri. Hal ini menjadi aspek yang berpengaruh
terhadap kreativitas belajar siwa. Dengan memiliki kecerdasan emosi yang baik
maka akan tercipta kreativitas belajar yang baik pula.
Selain
kecerdasan emosi, motivasi
belajar juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi kreativitas belajar
matematika siswa. Motivasi
sangat erat hubungannya dengan belajar, belajar tanpa motivasi akan terasa
membosankan. Peserta didik yang termotivasi
terhadap kegiatan belajar akan berusaha lebih keras dibandingkan peserta didik
yang kurang termotivasi.
Motivasi
yang tinggi terhadap suatu mata pelajaran, memungkinkan peserta didik
memberikan perhatian yang tinggi terhadap mata pelajaran itu sehingga
memungkinkan pula memiliki prestasi yang tinggi. Maka untuk mencapai prestasi
yang tinggi disamping kecerdasan, motivasi juga perlu ditingkatkan, sebab tanpa motivasi kegiatan belajar tidak
efektif. Seseorang yang tidak mempunyai
motivasi
mempelajari sesuatu tidak akan berhasil dengan baik, tetapi sesorang yang
memiliki motivasi
terhadap objek masalah maka dapat diharapkan bahwa hasilnya akan baik.
2. Pengaruh
Kecerdasan Emosional Terhadap Kreativitas Belajar Matematika
Keberhasilan seseorang selain ditentukan oleh
kecerdasan rasional (IQ), juga sangat ditentukan oleh kecerdasan emosional
(EQ). Karena IQ tidak akan berfungsi secara maksimal apabila tidak diimbangi EQ
yang maksimal pula. Kecerdasan emosional memegang peran pentig dalam
keberhasilan seseorang karena kecerdasan emosional berkontribusi 80% terhadap
kesuksesan hidup seseorang, sedangkan kecerdasan intelektual hanya berkontribusi
20%.
Kecerdasan emosional merupakan faktor penting yang
mempengaruhi kreativitas belajar matematika siswa. Jika kecerdasan emosional
berkembang baik siswa akan sangat mudah meningkatan kreativitas belajar
matematikanya. Kecerdasan emosional juga mampu memaksimalkan fungsi kecerdasan
intelektualnya sehingga mampu menunjukkan hasil belajar yang lebih baik. Dengan
demikian kecerdasan emosional diharapkan mempunyai pengaruh yang signifikan
dalam meningkatkan kreativitas belajar matematika siswa.
3. Pengaruh
Motivasi Belajar Terhadap Kreativitas Belajar Matematika
Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya
motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam aktivitas belajar akan menunjukkan
hasil yang optimal. Dengan kata lain, dengan adanya usaha yang tekun dan
terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar akan dapat
mencapai tujuan pembelajarannya.
Faktor-faktor yang mendukung motivasi belajar akan
mempengaruhi siswa untuk belajar optimal, tetapi jika tidak mendukung maka
motivasi belajar siswa akan rendah. Oleh karena itu motivasi belajar perlu
diusahakan terutama yang berasal dari dalam diri dengan cara senantiasa
memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai
cita-cita.
Motivasi belajar berpengaruh terhadap tingkat
kreativitas belajar siswa termasuk dalam mata pelajaran matematika. Siswa yang
mempunyai motivasi tinggi, maka akan semakin mudah untuk memahami materi-materi
matematika yang abstrak dan secara otomatis hal tersebut membuat tingkat
kreativitas belajarnya meningkat. Namun siswa yang memiliki motivasi belajar
rendah akan kesulitan dalam memahami materi matematika sehingga ia hanya akan
menghafal rumus dan tidak bisa mengaplikasikannya kepada
permasalahan-permasalahan sehari-hari yang berkaitan dengan materi tersebut.
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan
pada kajian teori dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis dalam
penelitian ini dapat disusun sebagai berikut:
1.
Terdapat pengaruh yang signifikan
kecerdasan emosional dan motivasi belajar matematika secara bersama-sama
terhadap kreativitas belajar matematika
2.
Terdapat pengaruh yang signifikan kecerdasan
emosional terhadap kreativitas belajar matematika
3.
Terdapat pengaruh yang signifikan motivasi
belajar matematika terhadap kreativitas belajar matematika
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian
ini dilakukan di SMPN 1 Sokaraja, SMPN 2 Sokaraja, dan SMPN 3 Sokaraja. Ketiga
SMP ini terletak di wilayah kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.
2. Waktu Penelitian
Penelitian
ini berlangsung selama 4 bulan dengan melalui tahap persiapan, pelaksanaan,
analisis data, dan penyusunan laporan yang dapat dilihat dalam tabel 3.1.
Tabel 3.1
Waktu Penelitian
|
Tahapan
|
September
|
Oktober
|
November
|
Desember
|
|||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
A.
Pengajuan judul
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B.
Penyusunan proposal penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
C.
Penyusunan instrumen
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
D.
Uji coba instrumen
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
E.
Analisis data uji coba instrumen
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
F.
Pengumpulan data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
G.
Analisis data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
H.
Penyusunan laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
I.
Sidang tesis
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B. Metode Penelitian
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan teknik korelasi.
Variabel peneitian ini terdiri dari variabel terikat, yaitu kreativitas belajar
matematika siswa (Y) dan dua variabel bebas, yaitu kecerdasan emosional (X1),
dan motivasi belajar siswa (X2), maka
model konstelasi hubungan antar variabel dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
|
|
![]() |
|||
|
|||
Gambar 3.1. Konstelasi hubungan
antar variabel penelitian
Keterangan
:
Variabel
Bebas (X1) : Kecerdasan emosional
Variabel bebas (X2) : Motivasi belajar siswa
Variabe terikat (Y) :
Kreativitas belajar matematika siswa
ϵ : Variabel lain yang tidak diteliti
C.
Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sokaraja, SMP
Negeri 2 Sokaraja dan SMP Negeri 3 Sokaraja tahun pelajaran 2017/2018. Jumlah
siswa pada tiga sekolah tersebut sebagaimana yang terlihat pada tabel 3.2.
2. Teknik
Pemilihan Sampel
Teknik pemilihan sampel dalam penelitian ini
menggunakan teknik gabungan antara proposional dan random. Dalam penentuan
jumlah anggota sampel dari setiap sekolah digunakan teknik proposional,
sedangkan untuk menentukan anggota sampel dari setiap sekolah dipilih secara
acak. Teknik
pengambilan sampel menggunakan rumus Taro Yamane yang dikutip oleh Riduwan
(2009: 82) sebagai berikut:
Dimana:
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
d2 = Presisi yang ditetapkan (5%)
Dari
rumus diatas diperoleh jumlah sampelnya adalah 255 dari 704 siswa sebagai
populasinya. Perhitungan penentuan banyaknya anggota sampel tiap sekolah
seperti tampak pada tabel 3.2.
|
Tabel 3.2.
Penetapan Sampel Penelitian
|
||||||
|
No.
|
Nama Sekolah
|
Kelas
|
Jumlah
Rombongan
|
Jumlah
|
Proporsi
|
Sampel
|
|
Belajar
|
Siswa
|
Dibulatkan
|
||||
|
1
|
SMP Negeri 1
|
VIII
|
6
|
192
|
|
70
|
|
Sokaraja
|
||||||
|
2
|
SMP Negeri 2
|
VIII
|
9
|
288
|
|
104
|
|
Sokaraja
|
||||||
|
3.
|
SMP Negeri 3
Sokaraja
|
VIII
|
7
|
224
|
|
81
|
|
Jumlah
|
704
|
|
255
|
|||
D. Teknik
Pengumpulan Data
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dan menggunakan teknik
sampling Proporsional Cluster Random
Sampling, dimana jumlah
sampel
dari setiap sekolah diambil secara proporsional berdasarkan perbandingan jumlah
siswa setiap sekolah terhadap jumlah populasi keseluruhan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan sebagai berikut:
1.
Variabel Kreativitas Belajar Matematika
Teknik pengumpulan data
variabel kreativitas belajar matematika dilakukan dengan instrumen non tes
berbentuk skala sikap. Instrumen yang digunakan adalah pernyataan dalam bentuk
skala likert yang terdiri dari lima pilihan jawaban.
2.
Variabel Kecerdasan Emosional
Teknik pengumpulan data
variabel kecerdaan emosional dilakukan dengan instrumen non tes berbentuk skala
sikap. Instrumen yang digunakan adalah pernyataan dalam bentuk skala likert
yang terdiri dari lima pilihan jawaban.
3.
Variabel Motivasi Belajar
Teknik pengumpulan data
variabel motivasi belajar dilakukan dengan instrumen non tes berbentuk skala
sikap. Instrumen yang digunakan adalah pernyataan dalam bentuk skala likert
yang terdiri dari lima pilihan jawaban.
E.
Variabel Penelitian
Variabel yang akan diteliti berjumlah tiga variabel yang
terdiri dari dua variabel bebas, yaitu kecerdasan emosional (X1)
dan motivasi belajar (X2). Serta satu variabel terikat yaitu
kreativitas belajar matematika (Y).
1.
Kecerdasan
emosional (X1) dalam penelitian ini disebut
sebagai variabel bebas yang merupakan atribut. Data kecerdasan emosional
diperoleh dengan menggunakan instrumen atau kuesioner yang dibuat oleh peneliti
untuk mengukur kecerdasan emosional siswa.
2.
Motivasi
belajar (X2) dalam penelitian ini disebut sebagai
variabel bebas yang merupakan atribut. Data motivasi belajar diperoleh dengan
menggunakan instrumen atau kuesioner
yang dibuat oleh peneliti untuk mengukur motivasi belajar siswa.
3.
Ketrampilan
belajar matematika (Y) dalam penelitian ini disebut sebagai variabel kriteria (Criterion Variable). Data kreativitas
belajar matematika diperoleh dengan menggunakan instrumen atau kuesioner yang dibuat oleh peneliti untuk
mengukur kreativitas belajar matematika siswa.
F.
Instrumen Penelitian
1.
Instrumen untuk mengukur variabel
kecerdasan emosional (X1)
a. Definisi
konseptual
Yang
dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah jenis
kecerdasan yang fokusnya
memahami, mengenali, merasakan, mengelola dan memimpin perasaan diri sendiri
dan orang lain serta mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi dan sosial.
b.
Definisi operasional
Yang
dimaksud dengan kecerdasan emosional ditandai indikator-indikator sebagai berikut: 1) Siswa mampu bertanggungjawab dengan tugas yang
diberikan, 2) Siswa dapat berinteraksi dengan siswa lain, 3) Siswa memiliki
rasa percaya diri dalam menyelesaikan tugas, 4) Siswa bersemangat dalam segala
aktivitas, 5) Siswa selalu berpikir positif.
c.
Kisi-kisi instrumen
Instrumen kecerdasan emosional disusun berdasarkan
indikator yang ada di atas.
|
Tabel 3.3. Kisi-Kisi Instrumen Pengukuran Variabel
|
||||
|
Kecerdasan Emosional
|
||||
|
|
||||
|
No
|
Indikator
|
Butir
Instrumen
|
Jumlah Butir
|
|
|
Positif
|
Negatif
|
|||
|
1
|
Siswa
mampu bertanggungjawab dengan tugas yang diberikan
|
2,
3, 4
|
1,
5
|
5
|
|
2
|
Siswa
dapat berinteraksi dengan siswa lain
|
6,
7, 9
|
8,
10
|
5
|
|
3
|
Siswa
memiliki rasa percaya diri dalam menyelesaikan tugas
|
14,
15
|
11,
12, 13
|
5
|
|
4
|
Siswa
bersemangat dalam segala aktivitas
|
17,
18, 21
|
16,
19, 20
|
6
|
|
5
|
Siswa
selalu berpikir positif
|
22,
24
|
23,
25, 26
|
5
|
|
|
Jumlah Butir
|
|
26
|
|
d.
Jenis Instrumen
Intrumen
yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang kecerdasan emosional berdasarkan
kuesioner dengan menggunakan skala Likert.
Model skala Likert yang digunakan
dalam bentuk kontinum dengan 5 (lima) kategori yaitu, untuk butir pernyataan
positif, skor tiap alternatif (option)
jawaban yaitu: selalu=5, sering=4, kadang-kadang=3, pernah=2, tidak pernah=1.
Sedangkan untuk butir pernyataan negatif, skor tiap alternatif (option) jawaban yaitu: selalu=1,
sering=2, kadang-kadang=3, pernah=4, tidak pernah=5.
1)
Kalibrasi Instrumen
Untuk mengkalibrasi instrumen dilakukan dengan menguji validitas setiap
butir pertanyaan dan reliabilitas instrumen tersebut. Pengujian tersebut
dilakukan pada 34 orang responden anggota populasi tetapi bukan calon anggota sampel.
Untuk menghitug validitas butir kuesioner tersebut menggunakan rumus
korelasi product moment pearson (r),
dimana kriteria valid atau tidaknya suatu butir pertanyaan adalah membandingkan
nilai rhitung dengan rtabel pada ujisatu sisi taraf nyata
(α) = 0,05 dan derajat kepercayaan (df)=k-2
(dimana k = 34). Kriteria validitas butir soal adalah jika rhitung lebih besar dari rtabel tidak
valid.
Untuk angket penelitian hanya menggunakan butir angket yang dianggap
valid sementara butir angket yang tidak valid selanjutnya dibuang atau tidak
digunakan sebagai soal penelitian dan digantikan dengan butir pernyataan yang
valid. Dari 30 butir angket yang diberikan kepada responden atau sampel uji
coba, ternyata didapat 26 butir angket dianggap valid dan 4 butir angket
dianggap tidak valid. Keempat butir tersebut adalah butir nomor 5, 11, 13, dan
26. Agar lebih jelasnya berikut adalah hasil perhitungan validitas butir angket
dengan menggunakan spss 22.0.
Tabel 3.4. Hasil Perhitungan Uji Validitas Butir
Angket
Kecerdasan Emosional
|
|
Scale
Mean if Item Deleted
|
Scale
Variance if Item Deleted
|
Corrected
Item-Total Correlation
|
Cronbach's
Alpha if Item Deleted
|
Keterangan
|
|
p1
|
119,9706
|
233,605
|
,329
|
,892
|
Valid
|
|
p2
|
119,7941
|
232,593
|
,414
|
,891
|
Valid
|
|
p3
|
119,7941
|
234,532
|
,432
|
,892
|
Valid
|
|
p4
|
119,8824
|
234,834
|
,334
|
,892
|
Valid
|
|
p5
|
120,3824
|
231,698
|
,254
|
,894
|
Tidak
valid
|
|
p6
|
120,4412
|
224,739
|
,582
|
,888
|
Valid
|
|
p7
|
120,5000
|
215,045
|
,690
|
,884
|
Valid
|
|
p8
|
120,1765
|
225,422
|
,581
|
,888
|
Valid
|
|
p9
|
119,9706
|
231,302
|
,514
|
,890
|
Valid
|
|
p10
|
120,5882
|
218,734
|
,560
|
,887
|
Valid
|
|
p11
|
120,5294
|
232,135
|
,224
|
,895
|
Tidak
valid
|
|
p12
|
119,8235
|
233,725
|
,417
|
,891
|
Valid
|
|
p13
|
120,7353
|
235,352
|
,108
|
,898
|
Tidak
valid
|
|
p14
|
121,5294
|
214,802
|
,567
|
,887
|
Valid
|
|
p15
|
120,8235
|
224,998
|
,394
|
,891
|
Valid
|
|
p16
|
120,8824
|
225,258
|
,553
|
,888
|
Valid
|
|
p17
|
119,8529
|
230,432
|
,472
|
,890
|
Valid
|
|
p18
|
120,5294
|
215,711
|
,633
|
,886
|
Valid
|
|
p19
|
121,0588
|
213,087
|
,617
|
,886
|
Valid
|
|
p20
|
120,9118
|
216,689
|
,572
|
,887
|
Valid
|
|
p21
|
120,5588
|
220,375
|
,643
|
,886
|
Valid
|
|
p22
|
120,1471
|
231,099
|
,338
|
,892
|
Valid
|
|
p23
|
120,4412
|
220,496
|
,560
|
,888
|
Valid
|
|
p24
|
122,0882
|
222,568
|
,390
|
,892
|
Valid
|
|
p25
|
120,3824
|
221,637
|
,530
|
,888
|
Valid
|
|
p26
|
119,9706
|
233,787
|
,240
|
,894
|
Tidak
valid
|
|
p27
|
120,3529
|
218,599
|
,563
|
,887
|
Valid
|
|
p28
|
120,1471
|
228,129
|
,416
|
,891
|
Valid
|
|
p29
|
121,0882
|
226,628
|
,339
|
,893
|
Valid
|
|
p30
|
119,7059
|
235,608
|
,315
|
,892
|
Valid
|
Untuk perhitungan reabilitas koesioner kecerdasan emosional menggunakan
rumus Alpha Cronbach. Angka
reliabilitas yang diperoleh dari perhitungan selanjutnya dibandingkan dengan rtabel
pada uji satu sisi dengan taraf signifikan (α) = 0,05 dan derajat kepercayaan
(df) =
k -2 dimana k = banyaknya soal
yang valid. Kriteria reliabilitasnya adalah jika rhitung lebih besar
daripada rtabel maka instrumen tersebut reliabel.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan program spss 20.0
diperoleh nilai 0,893 > 0,700, dengan demikian berarti angket yang telah
diujicobakan tergolong layak untuk digunakan sebagai angket penelitian. Agar
lebih jelasnya, berikut adalah hasil perhitungan uji reliabilitasnya.
Tabel 3.5. Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas Butir
Angket
Kecerdasan Emosional
|
Reliability
Statistics
|
||
|
Cronbach's
Alpha
|
Cronbach's
Alpha Based on Standardized Items
|
N
of Items
|
|
,893
|
,900
|
30
|
2.
Instrumen Pengukuran variabel motivasi
belajar siswa (X2)
a.
Definisi konseptual
Motivasi belajar adalah keseluruhan
daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk
menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan dan memberikan
arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendakii oleh subjek
belajar tecapai.
b.
Definisi operasional
Yang
dimaksud dengan
motivasi belajar ditandai indikator-indikator sebagai berikut: 1) Ketekunan dalam belajar, 2) Cepat bosan pada
tugas-tugas yang rutin, 3) Minat untuk sukses, 4) Mandiri dalam belajar, 5) Berprestasi
dalam belajar.
c.
Kisi-kisi instrumen penelitian
Instrumen pengukuran motivasi belajar siswa disusun berdasarkan indikator
yang ada diatas.
|
Tabel 3.6. Kisi-Kisi Instrumen Pengukuran Variabel
|
||||
|
Motivasi Belajar Siswa
|
||||
|
|
||||
|
No
|
Indikator
|
Butir
Instrumen
|
Jumlah Butir
|
|
|
Positif
|
Negatif
|
|||
|
1
|
Ketekunan
dalam belajar
|
10, 11, 25
|
6,
26
|
5
|
|
2
|
Cepat
bosan pada tugas-tugas yang rutin
|
7,
12, 20
|
4,
8, 16
|
6
|
|
3
|
Minat
untuk sukses
|
13,
17, 18
|
9,
15
|
5
|
|
4
|
Mandiri
dalam belajar
|
2,
5, 23
|
3,
22, 24
|
6
|
|
5
|
Berprestasi
dalam belajar
|
14,
19
|
1,
21
|
4
|
|
|
Jumlah Butir
|
|
26
|
|
d.
Jenis instrumen
Instrumen
yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang motivasi belajar berbentuk
kuesioner dengan menggunakan skala Likert.
Model skala Likert yang digunakan
dalam bentuk kontinum dengan 5 (lima) kategori yaitu, untuk butir pernyataan
positif, skor tiap alternatif (option)
jawaban yaitu: selalu=5, sering=4, kadang-kadang=3, pernah=2, tidak pernah=1.
Sedangkan untuk butir pernyataan negatif, skor tiap alternatif (option) jawaban yaitu: selalu=1,
sering=2, kadang-kadang=3, pernah=4, tidak pernah=5.
e.
Kalibrasi instrumen motivasi
belajar
Untuk mengkalibrasi instrumen dilakukan dengan menguji validitas setiap
butir pernyataan dan reliabilitas instrumen tersebut. Pengujian tersebut
dilakukan 34 orang responden anggota populasi tetapi bukan calon anggota
sampel. Untuk menghitug validitas butir kuesioner tersebut menggunakan rumus
korelasi product moment pearson (r),
dimana kriteria valid atau tidaknya suatu butir pertanyaan adalah membandingkan
nilai rhitung dengan rtabel pada ujisatu sisi taraf nyata
(α) = 0,05 dan derajat kepercayaan (df)=k-2
(dimana k = banyaknya responden uji coba). Kriteria
validitas butir soal adalah jika rhitung
lebih besar dari rtabel tidak valid.
Untuk angket penelitian hanya menggunakan butir angket yang dianggap
valid sementara butir angket yang tidak valid selanjutnya dibuang atau tidak
digunakan sebagai soal penelitian dan digantikan dengan butir pernyataan yang
valid. Dari 30 butir angket yang diberikan kepada 34 responden atau sampel uji
coba, ternyata didapat 26 butir angket dianggap valid dan 4 butir angket
dianggap tidak valid. Keempat butir tersebut adalah butir nomor 12, 13, 14, dan
29. Agar lebih jelasnya berikut adalah hasil perhitungan validitas butir angket
dengan menggunakan spss 22.0.
Tabel 3.7. Hasil Perhitungan Uji Validitas Butir
Angket
Motivasi Belajar
|
|
Scale
Mean if Item Deleted
|
Scale
Variance if Item Deleted
|
Corrected
Item-Total Correlation
|
Cronbach's
Alpha if Item Deleted
|
Keterangan
|
|
p1
|
109,3824
|
314,728
|
,575
|
,912
|
Valid
|
|
p2
|
109,9118
|
303,780
|
,766
|
,909
|
Valid
|
|
p3
|
109,0294
|
313,545
|
,475
|
,913
|
Valid
|
|
p4
|
108,9412
|
315,936
|
,593
|
,912
|
Valid
|
|
p5
|
109,4706
|
310,984
|
,656
|
,911
|
Valid
|
|
p6
|
109,8529
|
306,735
|
,694
|
,910
|
Valid
|
|
p7
|
110,1471
|
299,463
|
,681
|
,909
|
Valid
|
|
p8
|
109,4706
|
314,681
|
,546
|
,912
|
Valid
|
|
p9
|
109,1176
|
315,319
|
,537
|
,912
|
Valid
|
|
p10
|
110,0000
|
306,182
|
,703
|
,910
|
Valid
|
|
p11
|
109,6471
|
306,538
|
,662
|
,910
|
Valid
|
|
p12
|
108,9706
|
330,514
|
,102
|
,918
|
Tidak
valid
|
|
p13
|
109,0294
|
324,029
|
,233
|
,917
|
Tidak
valid
|
|
p14
|
108,4118
|
326,856
|
,263
|
,915
|
Tidak
valid
|
|
p15
|
108,6471
|
321,811
|
,314
|
,915
|
Valid
|
|
p16
|
108,9118
|
313,901
|
,526
|
,912
|
Valid
|
|
p17
|
109,1765
|
307,362
|
,654
|
,910
|
Valid
|
|
p18
|
109,5588
|
314,618
|
,468
|
,913
|
Valid
|
|
p19
|
109,0294
|
316,393
|
,583
|
,912
|
Valid
|
|
p20
|
109,4412
|
300,315
|
,675
|
,909
|
Valid
|
|
p21
|
110,5294
|
298,257
|
,598
|
,911
|
Valid
|
|
p22
|
108,7647
|
312,852
|
,521
|
,912
|
Valid
|
|
p23
|
109,7353
|
311,776
|
,406
|
,915
|
Valid
|
|
p24
|
109,1176
|
322,046
|
,366
|
,914
|
Valid
|
|
p25
|
109,0882
|
318,871
|
,312
|
,916
|
Valid
|
|
p26
|
108,7059
|
317,426
|
,411
|
,914
|
Valid
|
|
p27
|
109,0882
|
313,295
|
,505
|
,913
|
Valid
|
|
p28
|
110,1765
|
308,635
|
,451
|
,914
|
Valid
|
|
p29
|
108,9412
|
323,693
|
,283
|
,916
|
Tidak
valid
|
|
p30
|
109,2647
|
320,988
|
,314
|
,915
|
Valid
|
Untuk perhitungan reabilitas koesioner perilaku wawasan lingkungan siswa
menggunakan rumus Alpha Cronbach.
Angka reliabilitas yang diperoleh dari perhitungan selanjutnya dibandingkan
dengan rtabel pada uji satu sisi dengan taraf signifikan (α) = 0,05
dan derajat kepercayaan (df) = k -2 dimana k
= banyaknya soal yang valid. Kriteria reliabilitasnya adalah jika rhitung
lebih besar daripada rtabel maka instrumen tersebut reliabel.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan program spss 20.0
diperoleh nilai 0,930 > 0,700, dengan demikian berarti angket yang telah
diujicobakan tergolong layak untuk digunakan sebagai angket penelitian. Agar
lebih jelasnya, berikut adalah hasil perhitungan uji reliabilitasnya.
Tabel 3.8. Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas Butir
Angket
Kecerdasan Emosional
|
Reliability
Statistics
|
||
|
Cronbach's
Alpha
|
Cronbach's
Alpha Based on Standardized Items
|
N of
Items
|
|
,915
|
,916
|
30
|
3.
Instrumen untuk mengukur variabel kreativitas
belajar matematika (Y)
a.
Definisi konseptual
Kreativitas belajar matematika
siswa adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan
hal baru, baik berupa gagasan, karya nyata yang dipelajari dalam perubahan
tingkah lakuyang lebih baik melalui latihan dengan cara memikirkan, mencatat,
dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas.
b. Definisi
operasional
Yang dimaksud dengan kreativitas belajar matematika
ditandai indikator-indikator sebagai berikut: 1) Mempunyai rasa
ingin tahu yang mendalam, 2) Mempunyaidaya imajinasi, 3) Orisinil dalam
menyampaikan gagasan, 4) mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang, 5)
Sikap berani mengambil resiko.
c.
Kisi-kisi instrumen penelitian
Instrumen kreativitas belajar matematika disusun
berdasarkan indikator yang ada di atas.
|
Tabel 3.9. Kisi-Kisi Instrumen Pengukuran Variabel
|
||||
|
Kreativitas Belajar Matematika
|
||||
|
|
||||
|
No
|
Indikator
|
Butir
Instrumen
|
Jumlah Butir
|
|
|
Positif
|
Negatif
|
|||
|
1
|
Mempunyai
rasa ingin tahu yang mendalam
|
1,
5
|
2,
3, 4
|
5
|
|
2
|
Mempunyai
daya imajinasi
|
6,
7, 11
|
8,
9, 10
|
6
|
|
3
|
Orisinil
dalam menyampaikan gagasan
|
14,
15, 16
|
12,
13, 17
|
6
|
|
4
|
Mampu
melihat masalah dari berbagai sudut pandang
|
18,
19, 20
|
21,
22
|
5
|
|
5
|
Sikap
berani mengambil resiko
|
23,
24
|
25,
26
|
5
|
|
|
Jumlah Butir
|
|
26
|
|
d. Jenis instrumen
Instrumen-instrumen yang di gunakan untuk mengumpulkan data tentang motivasi belajar berbentuk kuesioner
menggunakan skala Likert. Model skala Likert yang digunakan dalam
bentuk kontinum dengan 5 (lima) kategori, untuk butir pernyataan positif, skor tiap alternatif (option) jawaban yaitu: selalu=5,
sering=4, kadang-kadang=3, pernah=2, tidak pernah=1. Sedangkan untuk butir
pernyataan negatif, skor tiap alternatif (option)
jawaban yaitu: selalu=1, sering=2, kadang-kadang=3, pernah=4, tidak pernah=5.
e. Kalibrasi instrumen motivasi belajar
Untuk
mengkalibrasi instrumen dilakukan dengan menguji validitas setiap butir
pertanyaan dan reabilitas tersebut instrumen tersebut.penguji tersebut
dilakukan pada 34 orang responden anggota populasi tetapi bukan angoita sempel.
Untuk menghitung vabilitas butir kuesioner tersebut menggunakan rumus kolerasi prodact moment person (r), membandingkan
kriteria valid atu tidak sesuainya butir pertanyaan adalah dengan membandingkan
nilai r dengan r pada uji satu sisi taraf nyata (a) = 0,05 dan derajat
kepercayaan (df) =k2 (dimana k=banyaknya responden uji coba). Kriteria validasi
butir soal adalah jika r lebih besar dari pada r maka buti dianggap valid,
sedangkan jika r lebih kecil dari r ridak valid.
Untuk angket penelitian hanya menggunakan butir angket yang dianggap valid sementara butir angket yang tidak valid selanjutnya dibuang atau tidak
digunakan sebagai soal penelitian. Dari 30 butir angket yang diberikan kepada
responden atau sampel uji coba, ternyata didapat 26 butir angket dianggap valid
dan 4 butir angket dianggap tidak valid. Keempat butir tersebut adalah butir
nomor 1, 24, 26, dan 28. Agar lebih jelasnya berikut adalah hasil perhitungan
validitas butir angket dengan menggunakan spss 22.0.
Tabel 3.10. Hasil Perhitungan Uji Validitas Butir Angket
Kreativitas Belajar Matematika
|
|
Scale
Mean if Item Deleted
|
Scale
Variance if Item Deleted
|
Corrected
Item-Total Correlation
|
Cronbach's
Alpha if Item Deleted
|
Keterangan
|
|
p1
|
113,0588
|
304,542
|
,184
|
,923
|
Tidak
valid
|
|
p2
|
113,7059
|
279,608
|
,615
|
,918
|
Valid
|
|
p3
|
113,5588
|
290,981
|
,602
|
,919
|
Valid
|
|
p4
|
112,9118
|
294,992
|
,456
|
,920
|
Valid
|
|
p5
|
113,1176
|
296,289
|
,442
|
,921
|
Valid
|
|
p6
|
113,4412
|
286,921
|
,566
|
,919
|
Valid
|
|
p7
|
113,5882
|
285,522
|
,655
|
,918
|
Valid
|
|
p8
|
113,9412
|
273,633
|
,767
|
,915
|
Valid
|
|
p9
|
113,5294
|
294,257
|
,478
|
,920
|
Valid
|
|
p10
|
113,7059
|
279,123
|
,584
|
,919
|
Valid
|
|
p11
|
113,3235
|
293,559
|
,493
|
,920
|
Valid
|
|
p12
|
113,6176
|
285,455
|
,632
|
,918
|
Valid
|
|
p13
|
113,7647
|
289,519
|
,604
|
,919
|
Valid
|
|
p14
|
113,4118
|
295,583
|
,400
|
,921
|
Valid
|
|
p15
|
113,6765
|
291,983
|
,586
|
,919
|
Valid
|
|
p16
|
113,6471
|
287,205
|
,594
|
,918
|
Valid
|
|
p17
|
113,8235
|
283,725
|
,556
|
,919
|
Valid
|
|
p18
|
113,6765
|
290,225
|
,476
|
,920
|
Valid
|
|
p19
|
113,3824
|
289,758
|
,519
|
,920
|
Valid
|
|
p20
|
113,4706
|
293,893
|
,469
|
,920
|
Valid
|
|
p21
|
113,6765
|
280,286
|
,679
|
,917
|
Valid
|
|
p22
|
113,2941
|
292,699
|
,586
|
,919
|
Valid
|
|
p23
|
113,5882
|
294,553
|
,371
|
,922
|
Valid
|
|
p24
|
112,7647
|
308,307
|
,057
|
,924
|
Tidak
valid
|
|
p25
|
113,7941
|
282,350
|
,629
|
,918
|
Valid
|
|
p26
|
113,7647
|
301,398
|
,212
|
,924
|
Tidak
valid
|
|
p27
|
113,6765
|
286,650
|
,605
|
,918
|
Valid
|
|
p28
|
113,3235
|
300,225
|
,266
|
,923
|
Tidak
valid
|
|
p29
|
113,5588
|
280,678
|
,689
|
,917
|
Valid
|
|
p30
|
114,0000
|
294,970
|
,349
|
,922
|
Valid
|
Untuk
perhitungan reabilitas konsioner perilaku wawasan lingkungan siswa menggunakan
rumus Alpha cronbach angka reabilitas
yang diperoleh dari perhitungan selanjutnya diperbandingkan dengan rtabel
pada uji satu sisi dengan taraf signifikan (a) =0,05 dan derajat kepercayaan
(df) =k-2dimana k = banyaknya soal yang valid. Kriteria reliabilitasnya adalah
jika rhitung lebih besar dari pada rtabel maka instrumen
tersebut reliabel.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan program spss 22.0 diperoleh nilai 0,922 > 0,600, dengan demikian berarti angket yang telah
diujicobakan tergolong layak untuk digunakan sebagai angket penelitian. Agar
lebih jelasnya, berikut adalah hasil perhitungan uji reliabilitasnya.
Tabel 3.11. Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas Butir
Angket
Kreativitas Belajar Matematika
|
Reliability
Statistics
|
||
|
Cronbach's
Alpha
|
Cronbach's
Alpha Based on Standardized Items
|
N
of Items
|
|
,922
|
,919
|
30
|
G. Teknik Analisis Data
1. Statistik deskriptif
Dalam analisis
deskriptif akan dilakukan teknik penyajian data dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi, grafik batang untuk masing masing variabel. Selain itu juga masing
masing variabel akan diolah dan dianalisis ukuran pemusatan dan letak seperti
mean, modus dan median serta ukuran simpangan seperti jangkauan, variasi,
simpangan baku kemenangan dan kurtosis.
Adapun langkah
langkah pembuatan tabel distribusi frekuensi dan penyajian grafik poligon serta
histogram dilakukan dengan langkah langkah berikut :
a.
Menentukan rentang (R), yaitu data
terbesar dikurangi data terkecil.
b.
Menentukan banyak kelas (K) dengan
aturan struges,yaitu:
K= 1 + 3,3 log n,
n = banyaknya data
c.
Menentukan panjang kelas interval (P),
yaitu P 
d.
Menentukan ujung bawah interval kelas
pertama yaitu < data terkecil.
e.
Membuat tabel distribusi frekuensi
secara lengkap, dengan jalan menentukan ujung bawah (UB) dan ujung atas (UA)
setiap interval kelas menghitung banyaknya kelas (frekuensi) data masing masing
kelas interval
f.
Menggambarkan grafik hinstogram, dengan
terlebih dahulu menentukan tepi bawah (TB) dan tepi atas (TA) untuk masing
masing kkelas interval, yaitu TB = UB - ½ satuan data.
g.
Menggambarkan grafik poligon frekwensi,
dengan terlebih dahalu menentukan nilai tengah (Yi) masing-masing
kelas interval, Yi = ½ (UA- UB).
Sedangkan ukuran
pusat, letak dan simpangan diantaranya dapat ditentukan dengan rumus-rumus
berikut :
1. Mennetukan Mean (Y) dengan rumus : 
2. Menentukan Modus (Mo)dengan rumus :
di mana :
Mo =
Mudus
b = Batas bawah kelas mudus ialah interval
dengan frekuensi terbanyak
P =
Panjang kelas
b2 = Frekuensi kelas dikurangi frekwensi kelas interval terdekat
sesudanya.
3. Menentukan Median (Me) dengan rumus :
Me = 
Me =
Median
n =
banyaknya data
F =
jumlah semua frekwensi sebelumnya, sebelum kelas median
f =
frekwensi kelas median
b =
batas bawah kelas median
p =
panjang kelas median
4. Variansi(SD) dan Simpangan Baku dengan rumus :
SD=
2
dan Simpangan Baku
(s) = 
Untuk mempersingkat
waktu sekaligus pemanfaatan teknologi, maka perhitungan statistik
deskripsi dalam penelitian ini diselesaikan menggunakan bantuan program SPSS 22.00.
2. Uji Persyaratan Analisis Data
a. Uji Normalitastis
Uji Normalitastis
bertujuan untuk mengetahui apakah data hasil pengumpulan berdistribusi normal
atau tidak. Hal ini akan berpengaruh pada proses lanjutan analisis
statistik jika data berdistribusi normal, maka analisis dilanjutkan menggunakan
statistik non parametrik. Uji normalitas dapat dilakukan menggunakan analisis Kolmogorov Smirnov dalam SPSS 22.00.
Distribusi data dikatakan normal jika nilai sig KS > 0,05. Perhitungan
normalitas akan dilakukan menggunakan bantuan program komputer SPSS 22.00.
b. Uji Linieritas
Pengujian linieritas
garis regresi dalam penelitian ini digunakan uji F, rumusnya adalah sebagai
berikut (Sudjana, 1996:327)

Dalam prakteknya akan
digunakan bantuan program SPSS 21.00 untuk menghitung uji linieritas, yaitu
dengan melihat besarnya nilai koefisien sig pada Deviation from Linearity.
Kriteria pengujian linierity adalah
sebagai berikut :
jika sig > 0,05 maka garis regresi
tersebut linear dan,
jika sig ≤ 0,05 maka garis regresi
tersebut tidak linier.
3. Uji Hipotesis Penelitian (Analisis
Inferensial)
Setelah keseluruhan uji
persyaratan analisis data dipenuhi dan diketahui data layak untuk diolah lebih
lanjut, maka langkah berikutnya adalah pengujian masing-masing hipotesis yang
telah diajukan. Pengujian hipotesis menggunakan teknik korelasi partial dan
korelasi ganda, serta regresi linier sederhana dan regresi linier ganda. Dalam
praktiknya untuk perhitungan dan pengujian korelasi dan regresi baik partial
maupun ganda akan digunkan bantuan program SPSS 21.00. Aadapun kriteria
pengujiannya adalah sebagai beriku :
a. Analisi Korelasi
Hasil perhitungan
koefisen korelasi ganda dilihat dari output program SPSS melalui analisis
regresi yakni pada tabel Model Summaryb.
Signifikasi dari koefisien korelasi tersebut diuji secara manual atau dengan
bantuan komputer melalui program aplikasi Microsoft.
Adapun rumus pengujiannya adalah :
Dimana :
Fhitung :
nilai F yang dihitung
R :
nilaikoefisienkorelasiganda
K :
jumlahvariabel bebas (independent)
N :
jumlahsampel
b. Analisis Regresi
1. Perhitungan Persamaan Garis Regresi
Hasil perhitungan garis
regresi bisa dilihat dari output program SPSS melalui analisis regresi yakni
pada tabel Coefficicientsa.
Koefisien persamaan garis regresi ditunjukkan oleh bilangan-bilangan yang ada
pada kolom B untuk Unstandardized
Coefficients.
Tabel
3.12. Format Tabel Persamaan Garis Regresi
|
Coefficientsa
|
||||||
|
Model
|
Unstandardized
|
Standardized
|
t
|
Sig
|
||
|
Coefficients
|
Coefficients
|
|||||
|
B
|
Std. Error
|
Beta
|
||||
|
1
|
(Constant)
|
a0
|
|
|
|
|
|
X1
|
a1
|
|
|
|
|
|
|
X2
|
a2
|
|
|
|
|
|
|
Depedent
Variabel : Y
|
||||||
|
Dari tabel di atas maka persamaan regresinya adalah
Y = a0 + a1 X1
+ a2 X 2
|
||||||
2. Pengujian Signifikasi Regresi
Hasil pengujian signifikasi regresi ganda bisa dilihat dari
output program SPSS melalui analisis regresi yakni pada tabel ANOVAb kolom F atau Sig.
Tabel 3.13. Format Tabel Signifikansi Regresi
|
ANOVAb
|
|
|||||
|
|
Model
|
Sum of Squares
|
df
|
Mean Squeare
|
F
|
Sig
|
|
1
|
Regression
|
|
|
|
|
|
|
Residual
|
|
|
|
|
|
|
|
Total
|
|
|
|
|
|
|
|
a.
Predictors (Constant), X1, X2
|
||||||
|
b.
Dependent Variable : Y
|
||||||
Kriteria signifikasinya adalah :
·
Jika digunakan Kolom Sig. Maka kriteria signifikasinya adalah
“Jika Sig < 0,05
maka garis regresi tersebut signifikan”
·
Jika digunakan Kolom F maka kriteria
signifikasinya adalah
“Jika Fhitung
> Ftabel maka garis
regresi tersebut signifikan”
Ftabel
dipilih
sesuai denganketentuan pengujian statistik pada distribusi F, yaitu taraf nyata
α derajat (dk) pembilang = k dan derajat (dk) penyebut = n-k-l, dimana n adalah
banyaknya anggota sampel dan k adaalah banyaknya variabel bebas.
H. Hipotesis Statistik
Sesuai dengan hipotesis yang tercantum
pada bab II dan Metodologi peenelitian yang diuraikan di atas, maka hipotesis
statistik pada penelitian ini adalah :
1. Hipotesis 1
2. Hipotesis 2
Ho : β1 = 0
tidak terdapat pengaruh
kecerdasan
emosional terhadap kreativitas belajar matematika siswa.
3. Hipotesis 3
Ho : β2 = 0
tidak terdapat pengaruh
motivasi
belajar siswa terhadap kreativitas belajar matematika siswa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar