Dalam metode pengumpulan data, harus dipahami sebagai suatu kesatuan (paket) meliputi:
1. Data apa yang harus dikumpulkan? (variable penelitian)
2. Dari mana/siapa data diperoleh? (sumber data)
3. Bagaimana cara pengumpulan data tersebut? (teknik pengumpulan data)
4. Menggunakan alat/bantuan apa data tersbut dikumpulkan? (instrumen penelitian).
1. Variabel Penelitian.
Sudah dijelaskan, bahwa secara garis besar variabel penelitian terdiri atas: variabel dependent dan independent.
Jika ditelaah lebih lanjut, maka dari variabel independent dapat dikembangkan beberapa jenis variabel yaitu:
a. variabel bebas
b. variabel moderator
c. variabel intervening
d. variabel kontrol
e. variabel pengganggu
f. variabel anteseden
2. Sumber data
Secara garis besar sumber data dapat dikelompokkan atas 3 (tiga) sumber, yaitu 3P:
a. Person (orang)
b. Paper (dokumen)
c. Place (tempat/lokasi)
3. Instrumen Penelitian
Secara garis besar instrumen penelitian teridi atas:
a. Tes, meliputi: tes tulis, tes tindakan dan tes lisan.
Secara spesifik tes tulis dapat dikelompokkan atas:
- Tes objektif: B-S, PG, menjodohkan dan isian singkat.
- Tes subjektif (essay): jawaban singkat, uraian terstruktur, uraian bebas, dan essay (tajuk/ulasan).
Ditinjau dari aspek yang hendak diukur, tes terbagi atas:
- Tes hasil belajar (achivement test), yaitu digunakan untuk mengukur pengetahuan/kemampuan seseorang yang disebabkan oleh faktor lingkungan (environmental effect); dan
- Tes potensi (potential test), yaitu digunakan untuk mengukur pengetahuan/kemampuan bawaan seseorang, seperti; tes bakat, tes potensi akademik, tes potensi umum, dsb.
b. Non-Tes, meliputi: Format observasi/pengamatan, quisioner (anket), skala sikap dan skala penilaian.
4. Teknik Pengumpulan Data, meliputi:
- Kuisioner
- Wawancara (mendalam dan/atau terstruktur)
- Observasi
- Dokumentasi
- Focus Group Discution
- Tes.
KUISIONER
Terminologi kuisioner selain digunakan sebagai sebagai teknik pengumpulan data, juga digunakan untuk istilah instrumen penelitian. Dalam konteks instrumen penelitian, istilah kuisioner disebut pula angket.
Teknik pengumpulan data dengan kuisioner dilakukan dengan cara memberikan instrumen angket (kuisioner) atau skala kepada responden, lalu diisi dan dikembalikan lagi kepada peneliti.
Ada 2 (dua) cara kuisioner, yaitu:
1. Dikirim kepada responden melalui pos atau e-mail. Cara ini kurang menjamin pengembalian (return) angket (kuisioner) dari responden mencapai 100%.
Untuk itu dalam cara ini perlu diperhatikan faktor-faktor sbb:
a. Makin pendek kuisioner, return makin tinggi.
b. Tema/topic yang terkait dengan kepentingan responden, return makin tinggi. Oleh karenanya, perlu dibuat surat pengantar (cover letter) yang menjelaskan keterkaitan topic dengan kepentingan responden, agar return makin tinggi.
c. Penampilan kuisioner makin bagus/menarik, return makin tinggi.
d. Kuisioner dengan iming-iming hadiah (voucer), maka return makin tinggi.
e. Kuisioner yang berisi hal-hal yang sensitif, propokasi dan sejenisnya, maka return makin rendah.
2. Dibagikan langsung dan ditunggui. Cara ini menjamin pengembalian (return) angket (kuisioner) dari responden dapat mencapai 100%.
Hanya saja kelemahan cara ini, yaitu:
a. Jika sampel sudah ditetapkan lalu diundang, biasanya undangan tidak datang 100%.
b. Akibatnya, cara ini hanya dapat dilakukan dengan accidental sampling (tidak random sampling).
WAWANCARA
Teknik wawancara dapat dibagi dalam 2 (dua) katagori, yaitu:
- Wawancara mendalam, digunakan untuk penelitian kualitatif.
- Wawancana testruktur, digunakan untuk penelitian kuantitatif.
1. Wawancara Terstruktur, yaitu bercirikan:
a. Menggunakan quisioner/daftar pertanyaan
b. Responden menjawab secara lisan, sementara pewawancana yang menuliskan.
c. Wawancara bisa diwakili (tidak harus peneliti)
d. Digunakan untuk penelitian kuantitatif.
Ada 4 (empat) komponen yang menentukan tingkat kesuksesan teknik wawancara, yaitu:
Pewawancara, responden, isi pertanyaan dan suasana wawancara.
Syarat pewawancara, yaitu:
a. Harus memahami kultur responden
b. Memahami isi wawancara (daftar pertanyaan)
c. Memahami karakteristik responden
d. Punya keahlian menciptakan & memelihara suasana wawancara.
e. Harus mampu secara sadar memposisikan diri lebih rendah dari responden (tidak menggurui, tidak memaksakan seperti penentuan waktu & tempat wawancara, dsb).
Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait dengan responden, yaitu: tingkat pendidikannya. Ada kecenderungan responden yang pendidikan rendah yaitu:
- kurang memahami pertanyaan,
- kurang pendengaran,
- ramah,
- wellcome, dsb.
Sementara responden pendidikan tinggi, terkadang berkecenderungan:
- arogan,
- kurang bisa diatur,
- mendominasi,
- susah waktu, dsb.
Hal-hal yang terkait dengan isi kuisioner, yaitu:
- Singkat,
- Tidak mengamdung sensitif atau propokatif,
- Komunikatif (menggunakan bahasa yang sesuai responden).
Hal-hal yang terkait dengan suasana wawancara, yaitu:
- Setting awal (hallo effect) menentukan kelancaran kegiatan wawancara.
- Penciptaan dan pemeliharaan suasana wawancara ditentukan oleh pewawancara
- Perlu prolog untuk membangun setting dan adaptasi.
- Perlu keterlibatan emosi pewawancara agar tidak kaku, sehingga berlangsung dalam bentuk ngobrol-ngobrol santai.
2. Wawancara mendalam,
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam teknik ini yaitu:
a. Bertujuan untuk mengungkap hal-hal yang tersembunyi (yang tidak mungkin terungkap dalam keadaan normal).
b. Digunakan untuk penelitian kualitatif.
c. Perekaman data dilakukan sedemikian rupa, agar responden tetap bebas memberikan jawaban (tidak merasa takut, dsb).
d. Adaptasi awal dilakukan dengan cara menseting peneliti sebagai bagian dari lingkungan responden, agar ”hubungan peneliti dengan responden tidak berjarak”, seperti pepatah: ”sapi akan terbuka pada sesama sapi”.
e. Pertanyaan berikut, ditentukan oleh jawaban responden.
f. Pewawancara hanya menyiapkan pointer-pointer saja.
g. Pewawancara harus peneliti (tidak bisa diwakilkan).
h. Hasil wawancara mendalam dicek dengan proses triangulasi, sebelum data digunakan.
i. Appoiment (janjian) untuk wawancara mendalam disampaikan terselubung, misal: dengan alasan ingin silaturahmi atau lainnya (tidak dijelaskan secara langsung ingin wawancara).
j. Wawancara dimulai dengan ngobrol-ngobrol basa-basi yang secara perlahan diarahkan pada permasalahan yang akan diteliti.
OBSERVASI
Ada 3 (tiga) bentuk teknik observasi/pengamatan, yaitu:
1. Observasi langsung
2. Observasi tidak langsung
3. Observasi partisipatif.
Perekaman data dalam teknik observasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: lembar catatan, kamera, handycam, tape recorder, dll.
DOKUMENTASI
Teknik ini disebut pula inventory dokumen, yaitu proses pengumpulan data yang dilakukan melalui proses inventarisasi dokumen atau catatan-catatan. Penelitian yang banyak menggunakan dokumen sebagai sumber data antara lain: penelitian sejarah, penelitian sastra, dan kajian pustaka.
FOCUS GROUP DISCUTION
Teknik ini biasanya digunakan untuk meneliti institusi atau instansi.
Focus group discution dilakukan dengan cara:
1. Peneliti melempar suatu permasalahan/tema untuk didiskusikan
2. Anggota-anggota institusi/instansi yan homogen dengan jumlah sekitar 6 s/d. 8 orang mendiskusikan tema/masalah.
3. Peneliti sebagai bagian eksternal (tidak terlibat dalam diskusi) mengamati jalannya diskusi.
Teknik Focus Group Diskution biasanya banyak digunakan untuk penelitian kebijakan atau penelitian metode delfi.
TES
Seperti kuisioner, maka terminologi tes pun digunakan untuk menyebut teknik pengumpulan data juga digunakan untuk menyebut instrumen. Teknik tes dapat dilakukan dengan cara tes tulis, tes lisan dan tes tindakan.
Teknik pengumpulan data melalui teknik tes tulis, prosesnya sama seperti teknik kuisioner. Sedangkan teknik tes lisan dilakukan sama prosesnya seperti wawancara terstruktur. Sementara teknik tes tindakan, stimulus (pertanyaan/perintah) bisa dilakukan dalam bentuk tulis maupun lisan; akan tetapi proses pengumpulan data (respon terhadap stimulus yang diberikan) dilakukan dengan cara pengamatan/observasi.
PENELITIAN KUALITATIF
Salah satu perbedaan penelitian kuantitatif dengan kualitatif yaitu:
- Penelitian kuantitatif berbasis instrumen, artinya tahapan yang penting dilakukan yaitu proses konstruksi instrumen;
- Penelitian kualitatif berbasis teknik pengumpulan data, artinya tahapan yang penting dilakukan yaitu teknik pengumpulan data.
Dalam penelitian kualitatif teknik pengumpulan data dilakukan dengan berbagai cara, terutama: wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi.
Proses penelitian kualitatif dilakukan melalui tahapan:
- Isi memori otak si peneliti terlebih dulu melalui teknik pengumpulan data,
- Setelah dirasa memori otak penuh (cukup banyak data), tuangkan dalam bentuk tulisan,
- Hasil penuangan (tulisan) dibaca ulang, jika masih dirasa ada yang kurang, kembali lagi ke lapangan untuk pengumpulan data.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar