November 29, 2016

Persembahanku untukmu,, wahai juwita malam


Kala itu, disaat senja datang menghampiri kotaku, kutau bahwa gelap kan segera datang menjemput bulan & bintang untuk membagi sinarnya padaku. Kala itu, kucermati langit senja yang ada tepat diatas kepalaku. Sungguh indah warnanya, meski yahh memang terlihat sedikit menyilaukan mata, tapi aku senang memperhatikan senja kotaku. Sedikit demi sedikit warna itu berangsur memudar, menyisakan 1 warna, hitam, pekat, amat pekat hingga ku tak bisa melihat dengan jelas langit kotaku. Namun, lama-kelamaan ada setitik warna yang berbeda muncul dalam pekatnya malam. Dia berusaha untuk melawan, dengan seluruh kekuatan yang dia punya, dia berusaha bangkit dan muncul dari kegelapan, menolongku & kawan-kawanku untuk pulang. Membantu menunjukkan arah yg kucari, membantuku melihat suasana langit malam kotaku, menghilangkan rasa takut akan kesendirianku, mengisi rasa sepiku. Oh sungguh betapa indahnya malam itu. Ketika bulan & bintang bertaburan, berlomba-lomba memancarkan cahayanya yang paling terang, menunjukkan ketenangannya melawan gelapnya malam. Aku terpukau akan keindahan cahayanya. Namun, aku lebih terpukau padanya karna mereka tak saling beradu kekuatan, tak saling membanggakan, tak saling menyakiti, bahkan mereka saling membantu. Mereka punya toleransi yg begitu tinggi, mereka saling mengisi satu sama lain, & mereka tersenyum riang sepanjang malam. Tak jarang mereka berkumpul membentuk satu gugusan, bagai satu keluarga harmonis yg saling melengkapi. Oh Tuhan, alangkah indah ciptaanMu ini, menyatukan mereka dari berbagai latar belakang dengan segala kelebihan & kekurangan yang dimilikinya untuk menjadi satu keluarga yg sempurna. Membuatku tak bosan tuk memandang langit malam kotaku. Membagi suka & dukaku bersama mereka yg tak pernah mengeluh bersinar sepanjang malam, menghilangkan rasa letihku melihat kekacauan lingkunganku bahkan diriku. Kau buatku tercengang wahai juwita malam, mengapa aku & mungkin kawan-kawanku tak pernah mencoba belajar darimu? Seringkali ketika kami berkumpul, bukan sebuah keharmonisan yg terjadi, tapi justru kekisruhan bahkan malapetaka yg kami timbulkan. Mengapa seringkali aku & mungkin kawan-kawanku tak bisa melawan gelapnya nafsu, tingginya ego, & besarnya dendam dalam diri kami? Andai kau dapat membagi sedikit rahasia kecilmu padaku & mungkin kawan-kawanku, ahh betapa senang hatiku. 

Kau diam, selalu terdiam, apapun yg dilakukan sang malam. Kau tak pernah mempedulikan. Kau hanya ingin membagi sinarmu padaku & kawan-kawanku. Kau tak pernah membanggakan dirimu bahkan menuntut imbalan dariku. Meski kadang langit malam tak mengijinkanmu menerangi malamku, namun kau selalu bisa mencuri waktu disaat langit malam lengah untuk sekedar mengedipkan sinarmu padaku. Membisikkan kata optimis pada setiap usahaku. Bahkan kau tak pernah bersedih ketika aku & mungkin kawan-kawanku melupakanmu. Kau tetap setia menemani malamku hingga mentari mulai bangkit dari peraduannya. Terimakasih wahai juwita malam, atas persembahanmu padaku & langit malam kotaku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar