1. MIPA memiliki hakekat sebagai product,
sebagai proses dan sebagai disiplin ilmu. Jelaskan pendapat sodara tentang
hakekat MIPA tersebut dalam proses pembelajaran MIPA dikelas.
Jawab:
Hakekat MIPA
1.
MIPA sebagai proses
Hakikat IPA sebagai proses diwujudkan dengan melaksanakan
pembelajaran yang melatih ketrampilan proses bagaimana cara produk sains
ditemukan. yaitu dengan melakukan observasi, mengukur, memprediksi,
mengklasifikasi, membandingkan, menyimpulkan, merumuskan hipotesis,
melakukan eksperimen, menganalisis data, dan mengkomunikasikan hasil
penelitian. Dalam pengajaran MIPA, aspek proses ini muncul dalam bentuk
kegiatan belajar mengajar.
2.
MIPA sebagai product
Hakikat MIPA sebagai produk meliputi konsep-konsep, prinsip-prinsip,
hukum-hukum, dan teori-teori di dalam MIPA yang merupakan hasil rekaan manusia
dalam rangka memahami dan menjelaskan alam bersama dengan berbagai fenomena
yang terjadi di dalamnya. Produk MIPA (konsep, prinsip,hokum dan teori) tidak
diperoleh berdasarkan fakta semata, melainkan berdasar-kan data yang telah
teruji melalui serangkaian eksperimen dan penyelidikan.
3.
MIPA
sebagai disiplin ilmu
Hakikat
disiplin ilmu adalah berbagai keyakinan, opini dan nilai-nilai yang harus
dipertahankan oleh seorang ilmuwan khususnya ketika mencari atau mengembangkan
pengetahuan baru. Disiplin ilmu dapat diklasifikasi ke dalam dua kelompok
besar. Pertama, seperangkat disiplin ilmu yang bila diikuti akan membantu
proses pemecahan masalah dan kedua,
disiplin ilmu tertentu yang meru-pakan cara memandang dunia serta berguna bagi
masyarakat dimasa depan.
2. Jika
saudara sebagai salah satu guru MIPA, apa yang saudara lakukan untuk
menampilkan pembelajaran MIPA yang menyenangkan bagi siswa.
Jawab:
1.
Siswa
perlu diberi kesempatan memperoleh pengalaman dan aktif melakukan sesuatu agar
memperoleh pengalaman. Ketika siswa diajak memamahami topik temperatur,
sebaiknya siswa juga diajak untuk memiliki pengalaman tentang temperatur. Guru
menyiapkan tiga gelas yang berisi air berbeda temperaturnya (hangat, sedang,
dingin), siswa disuruh untuk memasukan jari tangannya ke dalam gelas tadi dan
ditanyakan perbedaannya.
2.
Lingkungan
belajar mendukung dan produktif, yang dapat diciptakan oleh guru dengan cara membangun
hubungan yang positif dengan setiap siswa, guru mengenal dan menghargai mereka
satu persatu. Membangun budaya saling menghormati. Menunjukkan rasa aman pada
setiap siswa secara individual. Memberikan penghargaan pada setiap usaha siswa.
Mengapresiasi konsepsi siswa tentang konsep IPA yang akan dipelajari.
3.
Diskusi
kelompok. Merupakan suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui wahana tukar
pendapat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah diperleh guna
memecahkan suatu masalah.
4.
Presentasi.
Siswa diminta untuk membawakan hasil pengamatannya didepan teman-teman yang
lain agar adanya sharing informasi dan menumbuhkan sikap percaya diri serta
saling menghormati.
5.
Metode
karyawisata adalah metode pengajaran yang dilakukan dengan mengajak siswa ke
luar kelas untuk mengunjungi suatu peristiwa atau tempat yang ada kaitannya
dengan pokok pembahasan.
3. Apa
yang saudara lakukan untuk memenuhi tugas pokok sebagai guru MIPA dalam
peningkatan pemahaman siswa dikelas dalam pembelajaran.
Jawab:
Sebagai
seorang guru MIPA, yang akan saya lakukan dalam peningkatan pemahaman siswa
dikelas dalam pembelajaran adalah dengan metode pemberian tugas. Hal ini saya
anggap penting karena memiliki manfaat siswa dapat secara mandiri megulang apa
yang sudah ia dapat disekolah. Dengan demikian, pemahaman siswa menjadi lebih
mendalam. Tugas ini bisa diberikan secara indovidu maupun secara berkelompok.
Tergantung dengan tema tugas yang diberikan.
4. Sebutkan
dan jelaskan teori-teori pembelajaran yang menunjang proses belajar MIPA bagi
peserta didik dan berikan contohnya.
Jawab:
1.
Teori
Belajar Piaget
Piaget
membuat suatu terori tentang empat periode utama dalam perkembangan kognitif
yang menunjukkan perkembangan intelektualitas manusia, diantaranya adalah:
|
TAHAP
|
PERKIRAAN USIA
|
CIRI KHUSUS
|
PERKIRAAN USIA
|
|
Sensori Motor
|
0 – 2 tahun
|
Kecerdasan motorik (gerak)
dunia (benda) yang ada adalah yang tampak tidak ada bahasa pada tahap awal
|
0 – 2 tahun
|
|
Pre-Ooperasional
|
2 – 7 tahun
|
Berpikir secara
egosentris alasan-alasan didominasi oleh persepsi lebih banyak intuisi
daripada pemikiran logis belum cepat melakukan konsentrasi
|
2 – 7 tahun
|
|
Konkret Operasional
|
7 – 11 atau 12 tahun
|
Dapat melakukan
konservasi logika tentang kelas dan hubungan pengetahuan tentang angka
berpikir terkait dengan yang nyata
|
7 – 11 atau 12 tahun
|
|
Formal Operasional
|
7 – 11 atau 12 tahun 14
tahun atau 15 tahun
|
Pemikiran yang sudah
lengkap pemikiran yang proporsional kemampuan untuk mengatasi hipotesis
perkembangan idealisme yang kuat
|
7 – 11 atau 12 tahun 14
tahun atau 15 tahun
|
Guru harus selalu memperhatikan pada setiap siswa apa yang
mereka lakukan, apakah mereka melaksanakan dengan benar, apakah mereka tidak
mendapatkan kesulitan. Guru harus berbuat seperti apa yang Piaget perbuat yaitu
memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan sendiri jawabanya, sedangkan
guru harus selalu siap dengan alternatif jawaban bila sewaktu-waktu dibutuhkan.
Pada akhir pembelajaran, guru mengulas kembali bagaimana siswa dapat menemukan
jawaban yang diinginkan.
Contoh:
Dalam pelajaran Fisika mengenai periode getaran pegas. Siswa
diberikan kesempatan untuk melakukan percobaan untuk menguji periode getaran
pegas. Siswa diberikan peralatan untuk eksperimen seperti pegas, beberapa
beban, statis dan stopwatch. Siswa diminta untuk melakukan percobaan tersebut
berdasarkan buku panduan. Setelah itu siswa mengambil kesimpulan dan
mempresentasikan didepan kelas. Dari sini guru bisa mengukur seberapa jauh
kemampuan siswa dalam melakukan eksperimen. Diakhir sesi, guru mengambil
kesimpulan dan menambahkan informasi jika diperlukan.
2.
Teori
Belajar Bruner
Kegiatan pengolahan informasi
tersebut meliputi pembentukan kategori-kategori. Di antara kategori-kategori
tersebut ada kemungkinan saling berhubungan yang disebut sebagai koding. Selain itu Bruner
menganggap, bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif, yaitu memperoleh
informasi baru, transformasi pengetahuan, dan menguji relevansi dan ketepatan
pengetahuan. Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan
belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu
aturan atau kesimpulan tertentu.
Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap
(Muhbidin Syah,2006:10). Ketiga tahap itu adalah: (1) tahap informasi, yaitu
tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru, (2) tahap
transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru
serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal
yang lain, dan (3) evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi
pada tahap kedua tadi benar atau tidak.
Contoh:
Dalam pelajaran Biologi, siswa diminta menggolongkan
ciri-ciri hewan mamalia. Ciri-ciri hewan mamalia adalah Mempunyai kelenjar susu, Mempunyai
rambut, Jantung beruang 4, bersekat sempurna, Pada kulit terdapat kelenjar
keringat dan kelenjar minyak, Fertilisasi internal. Dari ciri-ciri tersebut siswa diminta menyebutkan
contoh hewannya yakni harimau, kucing, anjing, tikus, kangguru, lumba-lumpa,
paus. Dari sini siswa dapat mengkategorikan contoh hewan mamalia berdasarkan
ciri-ciri yang sudah disebutkan.
3.
Teori
Belajar Gagne
Model ini
menunjukkan aliran informasi dari input ke output. Rangsangan/stimulus dari
lingkungan (environtment) mempengaruhi alat-alat indera yaitu (receptor),
dan masuk ke dalam sistem syaraf melalui register penginderaan (sensory
register). Disini informasi diberi kode, artinya informasi diberi suatu
bentuk yang mewakili informasi aslinya dan berlangsung dalam waktu yang sangat
singkat. Bagian-bagian ini dimasukkan dalam memori jangka pendek (short term
memory) dalam waktu singkat, sekitar beberapa detik saja. Tetapi, informasi
dapat diolah oleh internal rehearsal dan disimpan dalam memori jangka pendek
untuk waktu yang lebih lama, namun rehearsal juga mampu
mentransformasikan informasi itu sekali lagi ke dalam memori jangka panjang (long
term memory).
Contoh:
Dalam pelajaran fisika mengenai besaran pokok dan cara
menghafalnya menggunakan jembatan keledai. Besaran pokok ada 7 yakni Panjang, Waktu, Massa, Kuat Arus, Jumlah zat, Intensitas
cahaya dan Suhu. Jembatan keledai dalam menghafalnya sebagai berikut: Waktu
Jumat Papa Tasya Kuras Susu Mama. Dimana : Waktu = waktu, Jumat =
JUMlah zAT, Papa = Panjang, Tasya = inTesitAS cahaYA, Kuras = KUat AruS, Susu =
Suhu, Mama = Massa. Sehingga siswa menjadi lebih
ingat. Informasi tersebut bisa tersimpan di Long Term Memory
5.
Dari teori-teori pembelajaran yang saudara ketahui,
buatkanlah rancangan skenario pembelajaran yang berbasis pada teori pembelajaran
yang saudara ketahui (minimal 3).
Jawab:
Teori yang dipakai adalah
teori Belajar Gagne. Contoh cancangan skenario pembelajarannya:
1.
Pada pelajaran Matematika,
mengukur volume bangun ruang. Skenarionya adalah siswa diminta menghitung
volume ruangan kelas tempat mereka belajar. Siswa diberikan beberapa peralatan
seperti meteran rol untuk mengukur panjang, tinggi dan lebar dari ruangan kelas.
Setelah itu, mereka menghitung volume ruang kelas menggunakan rumus Volume =
panjang x lebar x tinggi. Dengan cara ini, siswa akan ingat untuk mencari
volume bangun balok.
2.
Pada pelajaran Kimia,
menghafal golongan dalam sistem periodik unsur. Guru harus menyiapkan skenario
cara menghafal agar siswa mudah untuk mengingatnya. Sebagai contoh Golongan I A H, Li, Na, K, Rb, Cs, Fr dihafal dengan
cara Hari Libur Nanti Kita Robohkan
Cadas Firaun.
3. Pada pelajaran Biologi tumbuhan monokotil dan dikotil.
Ketika siswa diajak
mempelajari berbagai jenis tanaman dihalaman sekolah, sambil membuat catatan
juga membuat sketsa tentang berbagai bentuk daun, batang, bunga, akar dll. Atau
bisa juga siswa diajak untuk
menggolongkan jenis tanaman berdasarkan bentuk daun, tempat tumbuh.
Dengan cara ini siswa bisa mengenal
penggolongan tanaman berdasarkan ciri kemiripannya. Diakhir pelajaran, guru menambahkan dan
memberikan kesimpulan sehingga siswa lebih paham.
6. Apa
yang saudara ketahui tentang pendekatan-pendekatan pembelajaran MIPA yang dapat
saudara kaji mengenai pendekatan keterampilan proses dan implementasinya pada
pembelajaran MIPA dikelas.
Jawab:
Pendekatan
keterampilan proses adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa
sehingga siswa dapat menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep dan
teori-teori dengan keterampilan intelektual dan sikap ilmiah siswa sendiri.
Siswa diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan ilmiah
seperti yang dikerjakan para ilmuwan.
Menurut (Semiawan, 2002), terdapat sepuluh keterampilan
proses yaitu : (1) kemampuan mengamati, (2) kemampuan menghitung, (3) kemampuan
mengukur, (4) kemampuan mengklasifikasi, (5) kemampuan menemukan hubungan, (6)
kemampuan membuat prediksi (ramalan), (7) Kemampuan melaksanakan penelitian
(percobaan), (8) kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data, (9) kemampuan
menginterpretasikan data, dan (10) kemampuan mengkomunikasikan hasil.
Contoh:
Dalam pembelajaran Fisika tentang penguapan seorang siswa
SMP diminta mengambil 5 ml air dan dimasukan ke dalam gelas dan 5 ml air lagi
diletakan disebuah piring menggunakan gelas ukur. Kemudian ke duanya dijemur
pada panas matahari. Pertanyaannya adalah air mana yang yang cepat habis ? Apa
yang dapat disimpulkan dari kejadian tersebut ? Proses sains yang berlangsung adalah mengamati, mengukur,
menyimpulkan dan mengkomunikasikan hasil berupa presentasi didepan kelas.
7. Dari
pendekatan inkuiri yang anda ketahui, buatlah rancangan pembelajaran MIPA
(scenario) di kelas untuk peningkatan pemahaman peserta didik setelah proses
pembelajaran
|
Fase
|
Perilaku Guru
|
|
1.
Menyajikan
pertanyaan atau masalah
|
Guru membimbing siswa
mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan tulis, guru membagi
siswa dalam kelompok
|
|
2.
Membuat
hipotesis
|
Guru memberikan kesempatan
siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa
dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan
memprioritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan
|
|
3.
Merancang
percobaan
|
Guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis
yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah
percobaan
|
|
4.
Melakukan
percobaan untuk memperoleh informasi
|
Guru membimbing siswa
mendapatkan informasi melalui percobaan
|
|
5.
Mengumpulkan
dan menganalisis data
|
Guru memeberikan kesempatan
pada tiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul
|
|
6.
Membuat
kesimpulan
|
Guru membimbing siswa dalam
membuat kesimpulan
|
Contoh:
Langkah-langkah pembelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya
dengan menerapkan pendekatan inkuiri
|
Fase
|
Perilaku Guru
|
|
1.
Menyajikan
pertanyaan atau masalah
|
Guru membimbing siswa mengidentifikasi
sumber-sumber cahaya dan masalah tentang sifat-sifat cahaya kemudian
dituliskan di papan tulis, guru membagi siswa dalam kelompok
|
|
2.
Membuat
hipotesis
|
Guru memberikan kesempatan
siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa
dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan
memprioritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan
|
|
3.
Merancang
percobaan
|
Guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis
yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah
percobaan untuk menemukan sifat-sifat cahaya
|
|
4.
Melakukan
percobaan untuk memperoleh informasi
|
Guru membimbing siswa
mendapatkan informasi tentang sifat-sifat cahaya melalui percobaan
|
|
5.
Mengumpulkan
dan menganalisis data
|
Guru memberi kesempatan pada
tiap kelompok menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul melalui
percobaan tentang sifat-sifat cahaya
|
|
6.
Membuat
kesimpulan
|
Guru membimbing siswa dalam
membuat kesimpulan
|
8. Dari
pendekatan sains teknologi masyarakat (STM) yang saudara ketahui, buatlah
rancangan pembelajaran MIPA di kelas yang berbasis pada pendekatan sains
teknologi masyarakat
|
Fase
|
Perilaku Guru
|
|
1.
Pendahuluan
|
Guru memfasilitasi siswa untuk
lebih mendalami permasalahan yang telah dikemukakan oleh guru atau siswa.
Guru melakukan apersepsi berdasarkan kenyataan yang dialami siswa dalam
kehidupan sehari-hari. Guru juga dapat melakukan eksplorasi melalui pemberian
tugas untuk melakukan kegiatan di luar kelas secara berkelompok.
|
|
2.
Pembentukan
konsep
|
Guru dapat melakukan berbagai
metode pembelajaran misalnya, demonstrasi, diskusi, bermain peran, dan
sebagainya. Guru dapat juga menerapkan berbagai pendekatan seperti pendekatan
ketrampilan proses, pendekatan sejarah, pendekatan kecakapan hidup, dan
sebagainya.
|
|
3.
Aplikasi
konsep
|
Guru membimbing siswa agar
dapat menganalisis isu dan menemukan penyelesaian masalah yang benar. Agar
konsep-konsep yang telah dipahami siswa dapat diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari.
|
|
4.
Pemantapan
konsep
|
Guru melakukan pelurusan
terhadap konsepsi siswa yang keliru.
|
|
5.
Evaluasi/Penilaian
|
Guru memberikan penilaian
terhadap siswa untuk mengetahui ketercapaian tujuan belajar dan hasil belajar
yang telah diperoleh siswa.
|
9. Sebutkan
dan jelaskan model-model pembelajaran khususnya untuk MIPA yang saudara ketahui
dan berikan contohnya sehari-hari di kelas
a.
Model
pembelajaran konstruktivisme
Model pembelajaran konstruktivisme adalah sebuah model
pembelajaran yg menuntut keaktifan siswa untuk belajar menemukan sendiri
kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna
mengembangkan dirinya sendiri. Adapun langkah-langkahnya terdiri dari:
identifikasi tujuan, menetapkan isi produk belajar, identifikasi dan
klarifikasi pengetahuan awal siswa, identifikasi dan klarifikasi miskonsepsi
siswa, perencanaan program pembelajaran dan strategi pengubahan konsep,
implementasi program pembelajaran dan strategi pengubahan konsepsi, evaluasi,
klarifikasi dan analisis miskonsepsi siswa yang resisten, dan revisi strategi
pengubahan miskonsepsi.
Contoh: siswa melakukan penelitian tentang struktur jaringan
tumbuhan.
b.
Model
pembelajaran langsung
Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang
menekankan pada penguasaan konsep dan/atau perubahan perilaku dengan
mengutamakan pendekatan deduktif. Adapun tahapan-tahapannya yaitu: orientasi,
presentasi, latihan terstruktur, latihan terbimbing, dan latihan mandiri.
Contoh: aritmatika sosial.
c.
Model
pembelajaran inkuiri
Model pembelajaran inkuiri adalah cara penyajian pelajaran
dengan memberi kesemptan kepada peserta didik untuk menemukan informasi dengan
atau tanpa bantuan guru. Adapun langkah-langkahnya yaitu: observasi, bertanya,
mengajukan dugaan, pengumpulan data, dan penyimpulan.
Contoh: menentukan air yang terbuang percuma dari kran yang
rusak, atau menentukan banyak air suatu aliran sungai.
d.
Model
pembelajaran berbasis masalah
Model pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu
model pembelajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual yang
dilakukan dengan pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian
dilakukan pemecahan masalah oleh siswa yang diharapkan dapat menambah
ketrampilan siswa dalam pencapaian materi pembelajaran. Adapun
langkah-langkahnya yaitu: orientasi siswa kepada masalah, mengorganisasi siswa
untuk belajar, membimbing penyelidikan individual maupun kelompok,
mengembangkan dan menyajikan hasil karya, serta menganalisis dan mengevaluasi.
Contoh: benda jatuh bebas.
e.
Model
pembelajaran berbasis teknologi informasi
Model pembelajaran berbasis teknologi informasi adalah
sebuah model pembelajaran yang inovatif dengan memanfaatkan berbagai media
dalam pembelajaran. Misalnya penggunaan multimedia presentasi, CD multimedia
interaktif, video pembelajaran, maupun internet. Adapun langkah-langkahnya
yaitu: persiapan, pembelajaran, dan evaluasi.
Contoh: penggunaan simulator kokpit pesawat terbang yang
memungkinkan peserta didik dalam akademi penerbangan dapat berlatih tanpa
menghadapi resiko jatuh.
10. Jelaskan
peranan matematika terhadap mata pelajaran IPA atau sebaliknya, sebagai
disiplin ilmu yang menunjang
Sumbangan matematika terhadap perkembangan IPA sudah jelas,
bahkan boleh dikatakan bahwa tanpa matematika IPA tidak akan berkembang. Hal
ini disebabkan oleh karena IPA menggantungkan diri dari metode induksi. Dengan
metode induksi semata tak mungkin orang mengetahui jarak antara bumi dan bulan
atau bumi dengan matahari, bahkan untuk menyatakan keliling bumi saja hampir
tidak mungkin. Berkat bantuan matematikalah maka Erathotenes (240 M) pada zaman
Yunani dapat menghitung besarnya bumi dengan menggunakan metode gabungan antara
induksi dan deduksi matematika. Bahkan tak dapat diragukan lagi fungsi
matematika tetap ada di zaman modern sekarang ini dalam proses pembuatan
mesin-mesin, pabrik-pabrik, bendungan-bendungan, jembatan, hingga perjalanan ke
ruang angkasa tak akan berlangsung tanpa bantuan matematika. Hal ini
menunjukkan bahwa perkembangan IPA selalu ditunjang atau secara mutlak
membutuhkan tunjangan matematika.
Namun, perkembangan ilmu matematika juga didukung oleh
perkembangan IPA, karena fungsi matematika sebagai penyelesaian terhadap
berbagai permasalahan yang muncul di bidang IPA. Oleh karena itu, matematika
dan IPA saling menunjang bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
11. Dalam
pembelajaran MIPA berpikir dengan proses inkuiri dapat dilihat melalui kegiatan
yang lebih luas, coba saudara jelaskan kegiatan diatas
Tanpa kita sadari, proses berpikir tidak hanya kita lakukan
saat berada di dalam kelas saja, namun setiap saat kita melakukan proses
berpikir. Dalam proses berpikir inkuiri, tidak hanya bisa dilihat melalui
kegiatan belajar mengajar di kelas saja, namun bisa diterapkan untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang ada di luar kelas. Karena dalam strategi pendidikan
inkuiri siswa tak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran, akan tetapi
bagaimana siswa dapat menggunakan potensi yang dimiliinya. Manusia yang hanya
menguasai pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara
optimal. Sebaliknya, siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya
manakala ia bisa menguasai materi pelajaran. Dan strategi pembelajaran inkuiri
merupakan bentuk dari pendekatan pendidikan yang berorientasi kepada siswa
karena dalam strategi ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses
pendidikan.
12. Coba
saudara jelaskan perkembangan pengertian sains atau IPA
Sains adalah ilmu pengetahuan atau kumpulan konsep, prinsip,
hukum, dan teori yang dibentuk melalui proses kreatif dan sistematis (inkuiri) serta
dilanjutkan dengan proses observasi (empiris) ssecara terus-menerus. Sains
dilandasi dengan sikap keingintahuan (curiosity), keteguhan hati (courage), dan
ketekunan (persistence) yang dilakukan oleh individu untuk menyingkap rahasia
alam semesta. Dalam rumusan sains paling sedikit ada tiga komponen, yaitu:
a.
Kumpulan
konsep, prinsip, hukum, dan teori
b.
Proses
ilmiah dapat fisik dan mental dalam mencermati fenomena alam
c.
Sikap
keteguhan hati, keingintahuan, dan ketekunan dalam menyingkap rahasia alam
Semua itu
merupakan produk yang diperoleh melalui serangkaian proses penemuan ilmiah dan
melalui metode ilmiah yang didasari oleh sikap ilmiah. Ditinjau dari segi
proses, sains memiliki berbagai ketrampilan, yaitu ketrampilan dalam melakukan
pengamatan (observasi) dengan menggunakan sebanyak mungkin indra, mengumpulkan
data, melakukan penafsiran dari hasil pengamatan, melakukan pengelompokkan
(klasifikasi), menyusun dugaan sementara (hipotesis), melakukan kesimpulan
sementara (tinferensi), melakukan eksperimen, ketrampilan menggunakan alat dan
bahan, serta mengapa alat atau bahan itu digunakan, menentukan variabel dari
suatu percobaan, dan merumuskan suatu hasil percobaan atau menarik kesimpulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar