November 29, 2016

Problematika MIPA

1.    MIPA memiliki hakekat sebagai product, sebagai proses dan sebagai disiplin ilmu. Jelaskan pendapat sodara tentang hakekat MIPA tersebut dalam proses pembelajaran MIPA dikelas.
Jawab:
Hakekat MIPA
1.    MIPA sebagai proses
Hakikat IPA sebagai proses diwujudkan dengan melaksanakan pembelajaran yang melatih ketrampilan proses bagaimana cara produk sains ditemukan. yaitu dengan melakukan observasi, mengukur, memprediksi, mengklasifikasi, membandingkan, menyimpulkan,  merumuskan hipotesis,  melakukan eksperimen, menganalisis data, dan mengkomunikasikan hasil penelitian. Dalam pengajaran MIPA, aspek proses ini muncul dalam bentuk kegiatan belajar mengajar.
2.    MIPA sebagai product
Hakikat MIPA sebagai produk meliputi konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori di dalam MIPA yang merupakan hasil rekaan manusia dalam rangka memahami dan menjelaskan alam bersama dengan berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya. Produk MIPA (konsep, prinsip,hokum dan teori) tidak diperoleh berdasarkan fakta semata, melainkan berdasar-kan data yang telah teruji melalui serangkaian eksperimen dan penyelidikan.
3.    MIPA sebagai disiplin ilmu
Hakikat disiplin ilmu adalah berbagai keyakinan, opini dan nilai-nilai yang harus dipertahankan oleh seorang ilmuwan khususnya ketika mencari atau mengembangkan pengetahuan baru. Disiplin ilmu dapat diklasifikasi ke dalam dua kelompok besar. Pertama, seperangkat disiplin ilmu yang bila diikuti akan membantu proses pemecahan masalah  dan kedua, disiplin ilmu tertentu yang meru-pakan cara memandang dunia serta berguna bagi masyarakat dimasa depan.

2.    Jika saudara sebagai salah satu guru MIPA, apa yang saudara lakukan untuk menampilkan pembelajaran MIPA yang menyenangkan bagi siswa.
Jawab:
1.    Siswa perlu diberi kesempatan memperoleh pengalaman dan aktif melakukan sesuatu agar memperoleh pengalaman. Ketika siswa diajak memamahami topik temperatur, sebaiknya siswa juga diajak untuk memiliki pengalaman tentang temperatur. Guru menyiapkan tiga gelas yang berisi air berbeda temperaturnya (hangat, sedang, dingin), siswa disuruh untuk memasukan jari tangannya ke dalam gelas tadi dan ditanyakan perbedaannya.
2.    Lingkungan belajar mendukung dan produktif, yang dapat diciptakan oleh guru dengan cara membangun hubungan yang positif dengan setiap siswa, guru mengenal dan menghargai mereka satu persatu. Membangun budaya saling menghormati. Menunjukkan rasa aman pada setiap siswa secara individual. Memberikan penghargaan pada setiap usaha siswa. Mengapresiasi konsepsi siswa tentang konsep IPA yang akan dipelajari.
3.    Diskusi kelompok. Merupakan suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui wahana tukar pendapat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah diperleh guna memecahkan suatu masalah.
4.    Presentasi. Siswa diminta untuk membawakan hasil pengamatannya didepan teman-teman yang lain agar adanya sharing informasi dan menumbuhkan sikap percaya diri serta saling menghormati.
5.    Metode karyawisata adalah metode pengajaran yang dilakukan dengan mengajak siswa ke luar kelas untuk mengunjungi suatu peristiwa atau tempat yang ada kaitannya dengan pokok pembahasan.

3.    Apa yang saudara lakukan untuk memenuhi tugas pokok sebagai guru MIPA dalam peningkatan pemahaman siswa dikelas dalam pembelajaran.
Jawab:
Sebagai seorang guru MIPA, yang akan saya lakukan dalam peningkatan pemahaman siswa dikelas dalam pembelajaran adalah dengan metode pemberian tugas. Hal ini saya anggap penting karena memiliki manfaat siswa dapat secara mandiri megulang apa yang sudah ia dapat disekolah. Dengan demikian, pemahaman siswa menjadi lebih mendalam. Tugas ini bisa diberikan secara indovidu maupun secara berkelompok. Tergantung dengan tema tugas yang diberikan.

4.    Sebutkan dan jelaskan teori-teori pembelajaran yang menunjang proses belajar MIPA bagi peserta didik dan berikan contohnya.
Jawab:
1.         Teori Belajar Piaget
      Piaget membuat suatu terori tentang empat periode utama dalam perkembangan kognitif yang menunjukkan perkembangan intelektualitas manusia, diantaranya adalah:
TAHAP
PERKIRAAN USIA
CIRI KHUSUS
PERKIRAAN USIA
Sensori Motor
0 – 2 tahun
Kecerdasan motorik (gerak) dunia (benda) yang ada adalah yang tampak tidak ada bahasa pada tahap awal
0 – 2 tahun
Pre-Ooperasional
2 – 7 tahun
Berpikir secara egosentris alasan-alasan didominasi oleh persepsi lebih banyak intuisi daripada pemikiran logis belum cepat melakukan konsentrasi
2 – 7 tahun
Konkret Operasional
7 – 11 atau 12 tahun
Dapat melakukan konservasi logika tentang kelas dan hubungan pengetahuan tentang angka berpikir terkait dengan yang nyata
7 – 11 atau 12 tahun
Formal Operasional
7 – 11 atau 12 tahun 14 tahun atau 15 tahun
Pemikiran yang sudah lengkap pemikiran yang proporsional kemampuan untuk mengatasi hipotesis perkembangan idealisme yang kuat
7 – 11 atau 12 tahun 14 tahun atau 15 tahun

Guru harus selalu memperhatikan pada setiap siswa apa yang mereka lakukan, apakah mereka melaksanakan dengan benar, apakah mereka tidak mendapatkan kesulitan. Guru harus berbuat seperti apa yang Piaget perbuat yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan sendiri jawabanya, sedangkan guru harus selalu siap dengan alternatif jawaban bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Pada akhir pembelajaran, guru mengulas kembali bagaimana siswa dapat menemukan jawaban yang diinginkan.
Contoh:
Dalam pelajaran Fisika mengenai periode getaran pegas. Siswa diberikan kesempatan untuk melakukan percobaan untuk menguji periode getaran pegas. Siswa diberikan peralatan untuk eksperimen seperti pegas, beberapa beban, statis dan stopwatch. Siswa diminta untuk melakukan percobaan tersebut berdasarkan buku panduan. Setelah itu siswa mengambil kesimpulan dan mempresentasikan didepan kelas. Dari sini guru bisa mengukur seberapa jauh kemampuan siswa dalam melakukan eksperimen. Diakhir sesi, guru mengambil kesimpulan dan menambahkan informasi jika diperlukan.

2.    Teori Belajar Bruner
Kegiatan pengolahan informasi tersebut meliputi pembentukan kategori-kategori. Di antara kategori-kategori tersebut ada kemungkinan saling berhubungan yang disebut sebagai koding. Selain itu Bruner menganggap, bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif, yaitu memperoleh informasi baru, transformasi pengetahuan, dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu.
Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap (Muhbidin Syah,2006:10). Ketiga tahap itu adalah: (1) tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru, (2) tahap transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain, dan (3) evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak.
Contoh:
Dalam pelajaran Biologi, siswa diminta menggolongkan ciri-ciri hewan mamalia. Ciri-ciri hewan mamalia adalah Mempunyai kelenjar susu, Mempunyai rambut, Jantung beruang 4, bersekat sempurna, Pada kulit terdapat kelenjar keringat dan kelenjar minyak, Fertilisasi internal. Dari ciri-ciri tersebut siswa diminta menyebutkan contoh hewannya yakni harimau, kucing, anjing, tikus, kangguru, lumba-lumpa, paus. Dari sini siswa dapat mengkategorikan contoh hewan mamalia berdasarkan ciri-ciri yang sudah disebutkan.

3.    Teori Belajar Gagne
Model ini menunjukkan aliran informasi dari input ke output. Rangsangan/stimulus dari lingkungan (environtment) mempengaruhi alat-alat indera yaitu (receptor), dan masuk ke dalam sistem syaraf melalui register penginderaan (sensory register). Disini informasi diberi kode, artinya informasi diberi suatu bentuk yang mewakili informasi aslinya dan berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Bagian-bagian ini dimasukkan dalam memori jangka pendek (short term memory) dalam waktu singkat, sekitar beberapa detik saja. Tetapi, informasi dapat diolah oleh internal rehearsal dan disimpan dalam memori jangka pendek untuk waktu yang lebih lama, namun rehearsal juga mampu mentransformasikan informasi itu sekali lagi ke dalam memori jangka panjang (long term memory).
Contoh:
Dalam pelajaran fisika mengenai besaran pokok dan cara menghafalnya menggunakan jembatan keledai. Besaran pokok ada 7 yakni Panjang, Waktu, Massa, Kuat Arus, Jumlah zat, Intensitas cahaya dan Suhu. Jembatan keledai dalam menghafalnya sebagai berikut: Waktu Jumat Papa Tasya Kuras Susu Mama. Dimana : Waktu = waktu, Jumat = JUMlah zAT, Papa = Panjang, Tasya = inTesitAS cahaYA, Kuras = KUat AruS, Susu = Suhu, Mama = Massa. Sehingga siswa menjadi lebih ingat. Informasi tersebut bisa tersimpan di Long Term Memory


5.    Dari teori-teori pembelajaran yang saudara ketahui, buatkanlah rancangan skenario pembelajaran yang berbasis pada teori pembelajaran yang saudara ketahui (minimal 3).
Jawab:
Teori yang dipakai adalah teori Belajar Gagne. Contoh cancangan skenario pembelajarannya:
1.    Pada pelajaran Matematika, mengukur volume bangun ruang. Skenarionya adalah siswa diminta menghitung volume ruangan kelas tempat mereka belajar. Siswa diberikan beberapa peralatan seperti meteran rol untuk mengukur panjang, tinggi dan lebar dari ruangan kelas. Setelah itu, mereka menghitung volume ruang kelas menggunakan rumus Volume = panjang x lebar x tinggi. Dengan cara ini, siswa akan ingat untuk mencari volume bangun balok.
2.    Pada pelajaran Kimia, menghafal golongan dalam sistem periodik unsur. Guru harus menyiapkan skenario cara menghafal agar siswa mudah untuk mengingatnya. Sebagai contoh  Golongan I A         H, Li, Na, K, Rb, Cs, Fr   dihafal dengan cara Hari Libur Nanti Kita Robohkan Cadas Firaun.
3.    Pada pelajaran Biologi tumbuhan monokotil dan dikotil. Ketika siswa diajak mempelajari berbagai jenis tanaman dihalaman sekolah, sambil membuat catatan juga membuat sketsa tentang berbagai bentuk daun, batang, bunga, akar dll. Atau bisa juga siswa diajak untuk  menggolongkan jenis tanaman berdasarkan bentuk daun, tempat tumbuh. Dengan cara ini  siswa bisa mengenal penggolongan tanaman berdasarkan ciri kemiripannya.  Diakhir pelajaran, guru menambahkan dan memberikan kesimpulan sehingga siswa lebih paham.

6.    Apa yang saudara ketahui tentang pendekatan-pendekatan pembelajaran MIPA yang dapat saudara kaji mengenai pendekatan keterampilan proses dan implementasinya pada pembelajaran MIPA dikelas.
Jawab:
Pendekatan keterampilan proses adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep dan teori-teori dengan keterampilan intelektual dan sikap ilmiah siswa sendiri. Siswa diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan ilmiah seperti yang dikerjakan para ilmuwan.

Menurut (Semiawan, 2002), terdapat sepuluh keterampilan proses yaitu : (1) kemampuan mengamati, (2) kemampuan menghitung, (3) kemampuan mengukur, (4) kemampuan mengklasifikasi, (5) kemampuan menemukan hubungan, (6) kemampuan membuat prediksi (ramalan), (7) Kemampuan melaksanakan penelitian (percobaan), (8) kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data, (9) kemampuan menginterpretasikan data, dan (10) kemampuan mengkomunikasikan hasil.
Contoh:
Dalam pembelajaran Fisika tentang penguapan seorang siswa SMP diminta mengambil 5 ml air dan dimasukan ke dalam gelas dan 5 ml air lagi diletakan disebuah piring menggunakan gelas ukur. Kemudian ke duanya dijemur pada panas matahari. Pertanyaannya adalah air mana yang yang cepat habis ? Apa yang dapat disimpulkan dari kejadian tersebut ? Proses sains yang berlangsung adalah mengamati, mengukur, menyimpulkan dan mengkomunikasikan hasil berupa presentasi didepan kelas.

7.    Dari pendekatan inkuiri yang anda ketahui, buatlah rancangan pembelajaran MIPA (scenario) di kelas untuk peningkatan pemahaman peserta didik setelah proses pembelajaran
Fase
Perilaku Guru
1.       Menyajikan pertanyaan atau masalah
Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan tulis, guru membagi siswa dalam kelompok
2.       Membuat hipotesis
Guru memberikan kesempatan siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan memprioritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan
3.       Merancang percobaan
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan
4.       Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi
Guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui percobaan
5.       Mengumpulkan dan menganalisis data
Guru memeberikan kesempatan pada tiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul
6.       Membuat kesimpulan
Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan

Contoh:
Langkah-langkah pembelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya dengan menerapkan pendekatan inkuiri
Fase
Perilaku Guru
1.       Menyajikan pertanyaan atau masalah
Guru membimbing siswa mengidentifikasi sumber-sumber cahaya dan masalah tentang sifat-sifat cahaya kemudian dituliskan di papan tulis, guru membagi siswa dalam kelompok
2.       Membuat hipotesis
Guru memberikan kesempatan siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan memprioritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan
3.       Merancang percobaan
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan untuk menemukan sifat-sifat cahaya
4.       Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi
Guru membimbing siswa mendapatkan informasi tentang sifat-sifat cahaya melalui percobaan
5.       Mengumpulkan dan menganalisis data
Guru memberi kesempatan pada tiap kelompok menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul melalui percobaan tentang sifat-sifat cahaya
6.       Membuat kesimpulan
Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan

8.    Dari pendekatan sains teknologi masyarakat (STM) yang saudara ketahui, buatlah rancangan pembelajaran MIPA di kelas yang berbasis pada pendekatan sains teknologi masyarakat
Fase
Perilaku Guru
1.       Pendahuluan
Guru memfasilitasi siswa untuk lebih mendalami permasalahan yang telah dikemukakan oleh guru atau siswa. Guru melakukan apersepsi berdasarkan kenyataan yang dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari. Guru juga dapat melakukan eksplorasi melalui pemberian tugas untuk melakukan kegiatan di luar kelas secara berkelompok.
2.       Pembentukan konsep
Guru dapat melakukan berbagai metode pembelajaran misalnya, demonstrasi, diskusi, bermain peran, dan sebagainya. Guru dapat juga menerapkan berbagai pendekatan seperti pendekatan ketrampilan proses, pendekatan sejarah, pendekatan kecakapan hidup, dan sebagainya.
3.       Aplikasi konsep
Guru membimbing siswa agar dapat menganalisis isu dan menemukan penyelesaian masalah yang benar. Agar konsep-konsep yang telah dipahami siswa dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
4.       Pemantapan konsep
Guru melakukan pelurusan terhadap konsepsi siswa yang keliru.
5.       Evaluasi/Penilaian
Guru memberikan penilaian terhadap siswa untuk mengetahui ketercapaian tujuan belajar dan hasil belajar yang telah diperoleh siswa.

9.    Sebutkan dan jelaskan model-model pembelajaran khususnya untuk MIPA yang saudara ketahui dan berikan contohnya sehari-hari di kelas
a.       Model pembelajaran konstruktivisme
Model pembelajaran konstruktivisme adalah sebuah model pembelajaran yg menuntut keaktifan siswa untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Adapun langkah-langkahnya terdiri dari: identifikasi tujuan, menetapkan isi produk belajar, identifikasi dan klarifikasi pengetahuan awal siswa, identifikasi dan klarifikasi miskonsepsi siswa, perencanaan program pembelajaran dan strategi pengubahan konsep, implementasi program pembelajaran dan strategi pengubahan konsepsi, evaluasi, klarifikasi dan analisis miskonsepsi siswa yang resisten, dan revisi strategi pengubahan miskonsepsi.
Contoh: siswa melakukan penelitian tentang struktur jaringan tumbuhan.
b.      Model pembelajaran langsung
Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang menekankan pada penguasaan konsep dan/atau perubahan perilaku dengan mengutamakan pendekatan deduktif. Adapun tahapan-tahapannya yaitu: orientasi, presentasi, latihan terstruktur, latihan terbimbing, dan latihan mandiri.
Contoh: aritmatika sosial.
c.       Model pembelajaran inkuiri
Model pembelajaran inkuiri adalah cara penyajian pelajaran dengan memberi kesemptan kepada peserta didik untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru. Adapun langkah-langkahnya yaitu: observasi, bertanya, mengajukan dugaan, pengumpulan data, dan penyimpulan.
Contoh: menentukan air yang terbuang percuma dari kran yang rusak, atau menentukan banyak air suatu aliran sungai.
d.      Model pembelajaran berbasis masalah
Model pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual yang dilakukan dengan pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh siswa yang diharapkan dapat menambah ketrampilan siswa dalam pencapaian materi pembelajaran. Adapun langkah-langkahnya yaitu: orientasi siswa kepada masalah, mengorganisasi siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, serta menganalisis dan mengevaluasi.
Contoh: benda jatuh bebas.
e.      Model pembelajaran berbasis teknologi informasi
Model pembelajaran berbasis teknologi informasi adalah sebuah model pembelajaran yang inovatif dengan memanfaatkan berbagai media dalam pembelajaran. Misalnya penggunaan multimedia presentasi, CD multimedia interaktif, video pembelajaran, maupun internet. Adapun langkah-langkahnya yaitu: persiapan, pembelajaran, dan evaluasi.
Contoh: penggunaan simulator kokpit pesawat terbang yang memungkinkan peserta didik dalam akademi penerbangan dapat berlatih tanpa menghadapi resiko jatuh.

10. Jelaskan peranan matematika terhadap mata pelajaran IPA atau sebaliknya, sebagai disiplin ilmu yang menunjang
Sumbangan matematika terhadap perkembangan IPA sudah jelas, bahkan boleh dikatakan bahwa tanpa matematika IPA tidak akan berkembang. Hal ini disebabkan oleh karena IPA menggantungkan diri dari metode induksi. Dengan metode induksi semata tak mungkin orang mengetahui jarak antara bumi dan bulan atau bumi dengan matahari, bahkan untuk menyatakan keliling bumi saja hampir tidak mungkin. Berkat bantuan matematikalah maka Erathotenes (240 M) pada zaman Yunani dapat menghitung besarnya bumi dengan menggunakan metode gabungan antara induksi dan deduksi matematika. Bahkan tak dapat diragukan lagi fungsi matematika tetap ada di zaman modern sekarang ini dalam proses pembuatan mesin-mesin, pabrik-pabrik, bendungan-bendungan, jembatan, hingga perjalanan ke ruang angkasa tak akan berlangsung tanpa bantuan matematika. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan IPA selalu ditunjang atau secara mutlak membutuhkan tunjangan matematika.
Namun, perkembangan ilmu matematika juga didukung oleh perkembangan IPA, karena fungsi matematika sebagai penyelesaian terhadap berbagai permasalahan yang muncul di bidang IPA. Oleh karena itu, matematika dan IPA saling menunjang bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

11. Dalam pembelajaran MIPA berpikir dengan proses inkuiri dapat dilihat melalui kegiatan yang lebih luas, coba saudara jelaskan kegiatan diatas
Tanpa kita sadari, proses berpikir tidak hanya kita lakukan saat berada di dalam kelas saja, namun setiap saat kita melakukan proses berpikir. Dalam proses berpikir inkuiri, tidak hanya bisa dilihat melalui kegiatan belajar mengajar di kelas saja, namun bisa diterapkan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di luar kelas. Karena dalam strategi pendidikan inkuiri siswa tak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana siswa dapat menggunakan potensi yang dimiliinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal. Sebaliknya, siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya manakala ia bisa menguasai materi pelajaran. Dan strategi pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari pendekatan pendidikan yang berorientasi kepada siswa karena dalam strategi ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses pendidikan.

12. Coba saudara jelaskan perkembangan pengertian sains atau IPA
Sains adalah ilmu pengetahuan atau kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori yang dibentuk melalui proses kreatif dan sistematis (inkuiri) serta dilanjutkan dengan proses observasi (empiris) ssecara terus-menerus. Sains dilandasi dengan sikap keingintahuan (curiosity), keteguhan hati (courage), dan ketekunan (persistence) yang dilakukan oleh individu untuk menyingkap rahasia alam semesta. Dalam rumusan sains paling sedikit ada tiga komponen, yaitu:
a.       Kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori
b.      Proses ilmiah dapat fisik dan mental dalam mencermati fenomena alam
c.       Sikap keteguhan hati, keingintahuan, dan ketekunan dalam menyingkap rahasia alam

Semua itu merupakan produk yang diperoleh melalui serangkaian proses penemuan ilmiah dan melalui metode ilmiah yang didasari oleh sikap ilmiah. Ditinjau dari segi proses, sains memiliki berbagai ketrampilan, yaitu ketrampilan dalam melakukan pengamatan (observasi) dengan menggunakan sebanyak mungkin indra, mengumpulkan data, melakukan penafsiran dari hasil pengamatan, melakukan pengelompokkan (klasifikasi), menyusun dugaan sementara (hipotesis), melakukan kesimpulan sementara (tinferensi), melakukan eksperimen, ketrampilan menggunakan alat dan bahan, serta mengapa alat atau bahan itu digunakan, menentukan variabel dari suatu percobaan, dan merumuskan suatu hasil percobaan atau menarik kesimpulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar